
Sheza sudah berasa dalam sebuah kamar mewah dan sangat besar. Ruangan itu nyaris seperti sebuah klinik dengan perlengkapan medis dan obat-obatan yang lengkap.
Ruang dimana Zaki dirawat telah disulap menjadi layaknya Ruang ICU diberi dinding sekat terbuat dari kaca, sepertinya agar tetap dapat mengawasi kondisinya.
Langkah Sheza terhenti. Tubuhnya menghadap ke depan. Tatapan matanya menatap lurus pada ruangan kaca yang menjadi sekat. Tangannya terulur untuk menempel pada kaca. Ia hanya sanggup mengamati Zaki dari jarak yang cukup jauh. Pelupuk matanya menggenang, bulir air matanya telah turun tanpa mampu ditahan. Karen memegang bahu Sheza berusaha menguatkan sang nona.
"Ayo Nona, bukannya Nona ingin menyapa Tuan Besar Zaki?", tanyanya mengingatkan Sheza.
Sheza menatap Karen dengan raut sedih. Karen sangat tidak suka dengan ekspresi Sheza saat ini. Ia lebih tenang jika menghadapi Sheza yang galak dan semaunya.
"Aku takut tidak kuat di dalam sana Karen", jawab Sheza pilu. Ia masih saja berdiri di tempatnya.
"Aku yakin Nona pasti kuat. Jika Nona Sheza bersedih maka Tuan Besar pasti juga akan sedih. Nona tidak inginkan kalau Tuan Besar ikut merasa bersedih melihat ekspresi Nona saat ini?", ujar Karen berusaha meyakinkan Sheza.
Sheza menatap Karen. Karen pun menganggukkan kepalanya, seolah kembali meyakinkan kalau sang Nona akan mampu menguasai emosinya.
Sheza menarik nafasnya dalam-dalam untuk menstabilkan emosinya. Perlahan Sheza berjalan melewati sekat kaca itu. Sementara Karen dan Adolf memilih untuk tetap berada di luar dan tidak mengikuti Sheza masuk ke dalam ruang perawatan tuan besar mereka. Mereka berdua ingin memberikan privacy pada sang nona.
Begitu pintu ruang perawatan Zaki dibuka, Sheza bisa melihat dengan jelas sosok pria yang sangat dihormatinya itu tengah terbaring di atas ranjang. Sheza berjalan mendekat dan melihat wajah pria setengah baya yang sebelum kejadian penembakan, telah menjalin kedekatan layaknya ayah dan anak itu, tampak pucat. Kedua matanya masih senantiasa terpejam. Berbagai peralatan medis tampak menempel di tubuhnya. Sheza masih terus berjalan menuju ranjang di mana Zaki berada. Air matanya terus mengalir meski tanpa suara. Tekadnya untuk kuat, luruh begitu saja. Air matanya berkhianat.
Semakin lama jaraknya dengan ranjang Zaki semakin terkikis. Sampai akhirnya ia berada tepat di samping ranjang Zaki. Karen mendudukkan tubuhnya du sebuah kursi yang memang sudah tersedia di sana. Kursi itu terletak tepat di samping ranjang Zaki
__ADS_1
Sheza masih menatap Zaki dengan tatapan sedih. Ia menggenggam tangan Zaki yang bebas dari infus. Ia mencium punggung tangan itu dengan hormat kemudian membawa tangan itu ke arah pipinya. Sheza memejamkan kedua matanya, berusaha menahan agar bulir air matanya tidak jatuh kembali.
Kemudian kedua netra hazel Sheza kembali terbuka. Ia menatap wajah Zaki dalam.
"Kenapa Daddy belum juga bangun? Apa Daddy lupa dengan janji-janji Daddy padaku? cuma Daddy yang aku miliki saat ini. Daddy sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Banyak rencana yang belum kita wujudkan Dad!", ujar Sheza dengan suara paraunya.
Sheza menatap wajah Zaki seolah berharap bahwa pria yang sedang berbaring itu itu akan merespon pertanyaannya.
Kedua mata Zaki masih terpejam. Bunyi peralatan medis yang menyokong kehidupan Zaki terdengar sangat nyaring di ruangan yang sepi itu.
Airmata Sheza masih terus berderai dalam diam.
Sedapat mungkin ia menahan agar tidak keluar isakannya. Ia tidak ingin mengganggu Zaki.
"Daddy.... ", suara Sheza lirih.
"Daddy, maafkan aku yang baru bisa mengunjungi Daddy hari ini. Bagaimana kabar Daddy hari ini. Oh iya, Daddy tau, Daddy masih saja terlihat tampan seperti biasanya. Apakah Daddy masih mengingatku? Apa daddy ingat skenario yang sudah Daddy susun? Ayolah Dad, bangunlah ... tidak mungkin aku menjalankan sebuah skenario hanya seorang diri, sementara aktor utamanya sedang terbaring di sini. Dad, aku ingin bercerita banyak dengan Daddy. Apa Dedi Ingat masih banyak rahasia yang belum Daddy ungkapkan padaku? Please bangunlah dad!", ujar Sheza penuh permohonan.
Sheza kemudian terdiam. Ia merasakan ada kehadiran orang lain di ruangan yang sama. Pandangan Sheza beralih pada pintu yang kini menampilkan sosok seorang pria tampan mengenakan pakaian dokter. Kedua tangan pria itu berada di dalam sakunya. Ia tersenyum pada Sheza.
"Maaf, aku mengganggu waktu anda Nona Sheza", ucapnya dengan wajah menyesal. "Aku hendak melakukan pemeriksaan rutin pada Daddy Zaki", lanjutnya lagi.
__ADS_1
Sheza segera beranjak dari kursinya. Ia berjalan menuju sofa yang sudah tersedia di dalam ruangan itu. Ia duduk di sana dan memperhatikan semua aktivitas pria itu dengan seksama.
Wajah pria itu rasanya sangat familiar baginya. Ia berusaha mengingatnya. Ya tuhan, Bagaimana mungkin aku bisa melupakan pria ini, padahal baru tadi malam aku bertemu dengannya saat ia memeriksaku, batin Sheza.
Yaa, Sheza ingat bahwa pria itu adalah dokter yang juga memeriksanya pada malam ketika ia kembali tidak sadarkan diri.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan rutin pria itu mengalihkan tatapannya pada Sheza.
Pria yang tak lain adalah dokter Niko itu terperangah menatap wanita didepannya. Kecantikan wanita ini bukan kecantikan biasa layaknya wanita Indonesia. Ia lebih seperti seorang blasteran. Berhidung sangat mancung, dengan kulit putih, mata berwarna hazel, berambut pirang, dan tinggi melebihi rata-rata wanita Indonesia. Semua standarnya melewati standar lokal. Jika dilihat secara seksama, wajahnya seperti tipikal wanita Belanda yang sering ditemuinya, karena sebelumnya dr. Niko memang bertugas di Belanda.
Netra dr. Niko terus menatap netra hazel itu dalam. Netra mereka beradu dan dalam sepersekian detik dr. Niko sempat merasa obsidiannya tersedot masuk ke dalam manik wanita cantik itu. Ia sangat cantik, malam itu aku tidak terlalu memperhatikannya. Pantas saja Zafier berlaku sangat posesif padanya, batin dr. Niko.
Tanpa sungkan dokter berwajah tampan itu berjalan ke arah Sheza. Ia mengulurkan tangannya. Kedua matanya berbinar penuh harap berharap wanita cantik yang berada di hadapannya dengan raut sedih itu, akan meraih uluran tangannya
Sheza terdiam sesaat, ia menghela nafas pelan. Untuk menghargai sang dokter, wanita cantik itu mengulurkan tangannya sembari tersenyum tipis.
"Halo Nona Sheza, aku harap anda masih mengingatku", sapa dr. Niko ramah, bahkan terlalu ramah. Ia benar-benar sangat ekspresif, sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
Hanya sekejap, Sheza segera menarik tangannya, meski senyuman tipisnya masih terukir cantik.
"Pasti dokter, aku mengucapkan terima kasih karena anda telah mengobatiku malam itu", ujar Sheza datar.
__ADS_1
"Oh ya, perkenalkan namaku Nicholas julianta. Nona bisa memanggilku Niko. Kebetulan aku adalah dokter yang diberi kepercayaan oleh Zafier untuk menjadi penanggung jawab di sini. Di sini juga terdapat dokter-dokter spesialis yang bertugas untuk kesembuhan Daddy Zaki", jelas dr. Niko dengan netra yang tak lepas dari wajah cantik didepannya.
"Hmm, seperti yang anda sudah tau, namaku Sheza", ujarnya datar dan singkat.