
Perjalanan menuju mansion Safaraz cukup lancar.
Dante mengemudikan kendaraan dengan kecepatan penuh namun kondisi mobil tetap stabil di jalanan. Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di depan pintu gerbang yang sangat tinggi dan mewah. Para penjaga hafal betul semua kendaraan milik keluarga Safaraz. Oleh sebab itu pintu itu sudah terbuka dengan otomatis, tanpa diminta. Kemudian para penjaga nampak berjajar di sepanjang pintu.
Dante mengurangi kecepatan mobilnya ketika memasuki pintu gerbang. Ia sengaja menurunkan kaca jendela mobil yang dikemudikannya. Menyadari siapa yang sedang dibawa Dante, para penjaga bergegas berbaris dan melakukan bow secara bersamaan.
Zafier hanya menatap datar kepada para penjaga yang berjejer di depan pintu gerbang.
Setelah melalui pintu gerbang dan memasuki halaman mansion Dante menambah laju kecepatan mobilnya. Mereka melalui halaman yang sangat luas, sampai akhirnya kendaraan itu sampai di depan pintu masuk mansion. Pintu besar itu terbuka, Adolf sang kepala pelayan yang diikuti oleh beberapa pelayan lainnya nampak sudah menyongsong Zafier. Dante kemudian beranjak keluar mobil, dan membukakan pintu bagi tuan mudanya. Sebelum keluar mobil, Zafier masih menyempatkan diri kembali melirik tubuh wanita cantik yang ada dibelakangnya melalui kaca spion depan.
Ia menghela nafas berat, masih belum sadar, batinnya.
Zafier kemudian memerintahkan Dante untuk membuka pintu belakang. Dan tanpa diduga, tanpa bicara apapun, tangan sang tuan muda langsung meraih tubuh Sheza dan menggendongnya ala bridal style. Hal tersebut sontak membuat orang-orang yang ada di sana, mulai dari kepala pelayan, para pelayan dan anak buah yang lain terlihat shock melihat kejadian itu. Mereka tidak pernah melihat sang tuan muda berinteraksi dengan wanita apalagi mengingat masalah Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD) yang dideritanya.
Karen juga tak kalah terkejut melihat adegan tersebut. Saking terkejutnya, Karen nampak melongo dengan wajah bingungnya. Hendak melarang pun ia sama sekali tidak punya keberanian. Karen masih sayang nyawanya. Karen hanya sanggup berujar dalam hati sambil menundukkan kepala pasrah, ampuni ketidakberdayaanku nona Sheza. Wajah Karen benar-benar menyedihkan.
Setelah Zafier membawa Sheza, Karen pun bergegas keluar dari kendaraan dan berjalan mengikuti sang tuan muda dari arah belakang.
__ADS_1
Zafier nampak santai membawa tubuh Sheza, seakan berat Sheza hanya seringan bulu baginya. Ia sangat hati-hati memegang Sheza dalam dekapannya. Seakan tubuh Sheza adalah benda yang sangat rapuh. Namun netra Zafier hanya fokus tertuju ke depan, netranya sama sekali tidak berani menatap wajah Sheza. Padahal sedari tadi ketika berada di dalam kendaraan, ia tak pernah lepas mencuri pandang ke sosok cantik itu.
Zafier terus saja berjalan ke dalam bahkan ia telah melewati tangga maupun lift menuju lantai dua, di mana kamar Sheza sebelumnya berada.
Karen masih tetap mengikuti Zafier dengan tatapan bingung. Hendak bertanya langsung pun tidak berani. Akhirnya hanya mampu bergumam dalam hati. Tuan muda Zafier hendak membawa nona Sheza ke mana?". Kening Karen nampak berkerut.
Sementara Zafier terus saja berjalan sambil menggendong tubuh Sheza. Entah sadar atau tidak, Zafier justru membawa Sheza ke dalam kamarnya.
Karen hanya terdiam di luar kamar, ia sama sekali tidak berani melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam kamar sang tuan muda.
Karena masalah Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD) yang diderita Zafier, membuat tidak semua orang baik pelayan ataupun anak buahnya yang diperbolehkan masuk ke dalam kamar Zafier. Hanya orang-orang tertentu saja yang diperbolehkan untuk masuk dan membersihkan kamar itu. Adolf sang kepala pelayan dan salah seorang pelayan laki-laki bernama Draco yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang kesehatan, yang diberikan tanggung jawab untuk kebersihan kamar Zafier. Jangan tanyakan kenapa Draco mau menerima pekerjaan sebagai pelayan dengan latar belakang pendidikannya itu, pastinya gaji yang diberikan oleh keluarga Safaraz sangat sangatlah tinggi.
Begitu sampai di samping ranjang ukuran sangat besar itu, Zafier meletakkan tubuh Sheza dengan sangat hati-hati di atas ranjang. Kemudian Zafier berdiri di samping ranjang. Tanpa sadar netranya terus memperhatikan wanita cantik yang kini terbaring tenang di ranjangnya.
Sementara Adolf menunggu di depan pintu kamar menunggu perintah selanjutnya dari sang tuan muda.
"Paman Adolf, apa Tracy sudah sampai di mansion, dari tadi aku belum melihatnya sama sekali?", tanya Zafier, netranya menatap pintu kamar. Keningnya berkerut, karena belum juga mendapati keberadaan dr. Tracy.
__ADS_1
"Maaf tuan muda, dr. Tracy.... ", belum sempat Adolf menyelesaikan kalimatnya. Seorang pria yang tak kalah tampan, dengan tubuh atletis berbalut berpakaian casual tiba-tiba melenggang masuk tanpa permisi ke dalam kamar Zafier. Pelayan lain yang belum mengenal pria itu nampak meringis, menahan nafas. Siapa pria tampan ini, pikir mereka ingin tahu. Mereka khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa pria tampan itu, mengingat sepak terjang sang tuan muda.
"Hallo broer!", Hoe gaat het met je?(belanda: halo bro! Apa kabar?)", sapanya ceria. Netra hitamnya berbinar melihat Zafier, mengingat mereka sudah cukup lama tidak bertemu.
Zafier memang sudah menyadari keberadaan seseorang yang baru datang di kamarnya. Ia berusaha menajamkan telinganya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Mendengar suara yang terdengar begitu familiar di telinganya, Zafier sontak mengalihkan netranya ke arah suara itu berasal. Saat ia mengalihkan netranya ke arah pintu kamar, ia langsung terkejut ketika menyadari siapa pria tampan yang baru memasuki kamarnya dengan sangat santai itu.
Awalnya Zafier cukup terkejut, netranya menatap seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, namun sepersekian detik kemudian netranya berubah, Zafier menyorot datar tanpa ekspresi. Bola mata abu itu berputar malas menatap pria tampan itu.
Dr. Nicolas Julianta, ia adalah putra dari dr. Eka Julianta, seorang spesialis bedah ternama di Indonesia, yang menjadi direktur di Rumah Sakit ternama sekaligus menjadi guru besar di bidang ahli bedah.
Putranya sendiri yang tak lain adalah Nicolas Julianta mengambil spesialis bedah di Leiden University Medical Center Belanda. Nico dan Zafier memang sudah saling mengenal sejak kecil, apalagi setelah mereka kembali bertemu dan menetap di Belanda. Nico dan Zafier memiliki hubungan yang sangat baik karena perasaan senasib, sama-sama berada di negeri orang dan sama-sama berada jauh dari keluarga.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? ", tanya Zafier acuh.
"Wah, wah kau masih saja sama seperti dulu, datar tanpa ekpresi. Ayolah Zafier, tidak bisakah kau memberikan aku pelukan selamat datang terlebih dahulu", ujar Nico sambil mengembangkan senyum ceria di wajahnya.
__ADS_1
Benar-benar dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Ibarat bumi dan langit. Zafier yang dingin dan cenderung datar, tanpa ekspresi dan acuh. sementara Nico seorang yang sangat ekspresif, hangat, penuh perhatian dan ceria, namun cenderung iseng dan jahil. Sangat aneh memang, meski memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang, namun mereka memiliki hubungan yang sangat dekat.
"Aku tidak butuh basa-basi", jawab Zafier, netranya menatap Nico tajam, dengan aura mengintimidasi. , Nico mengalihkan netranya dari netra Zafier, meski berusaha acuh tak acuh, tapi ia tetap tidak kuat menghadapi tekanan dari aura itu.