My Little Gwen

My Little Gwen
Posisi ambigu


__ADS_3

Adegan demi adegan yang Zafier saksikan di resto tadi seolah berputar-putar saja di otaknya. Hal itu sungguh membuat Zafier tidak bisa fokus. Emosinya jadi bergejolak, tidak bisa diredam dan dikendalikannya.


Zafier menarik nafas dalam, kedua mata dipejamkannya. 'Ada apa denganku sebenarnya', batin Zafier.


Zafier benar-benar dibuat pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, ia baru bertemu pertama kali dengan wanita itu, kenal pun tidak, tapi kenapa suasana hatinya menjadi seperti ini. Zafier tidak tahu dirinya sedang marah atau tidak, ia hanya merasa kalau suasana hatinya saat ini sedang tidak baik saat menyaksikan wanita itu berinteraksi dengan seorang pria.


Semua tingkah Zafier tidak lepas dari perhatian Ruben. Zafier dengan wajah dinginnya tidak berkomentar apapun. Sesekali tampak memejamkan matanya dan menarik nafas dalam. Bagi Ruben keadaan ini benar-benar mencekam. Ruben juga tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Serba salah. Rasanya Ruben ingin bersembunyi saja ke dalam perut bumi.


Merasa diperhatikan sedari tadi, Zafier menatap Ruben dengan dingin. Nyali Ruben menciut, 'Ya tuhan, aku salah apa'.


"Kita kembali ke hotel saja", perintah Zafier pendek.


"Ba... baik tuan", jawab Ruben patuh.


"Sudah dapat informasinya?, tanya Zafier.


"Siap tuan, wanita itu langsung berpisah dari pria tadi begitu ke luar resto, sekarang mereka sedang dalam perjalanan, jalurnya sama dengan jalur kita, mereka... ", belum selesai Ruben bicara, Zafier langsung memotong.


"Ia menginap di hotel yang sama dengan kita", ujar Zafier. Ruben langsung terkejut dan memandang takjub sang tuan, begitu mengagumi kehebatannya, bisa mengetahui hal tersebut, sebelum ia memberikan informasi lebih lanjut.

__ADS_1


Zafier kembali menatap Ruben dengan dingin. "Kondisikan mukamu, kenapa kau menatapku seperti itu? ", Zafier merasa aneh dengan tatapan Ruben.


"Aku kagum pada tuan, karna tuan sudah mengetahui wanita tadi menginap di hotel yang sama dengan kita", ujar Ruben masih dengan wajah takjub.


"Jelas saja aku tau, tadi pagi sebelum berangkat, aku bertabrakan dengannya di hotel", jelas Zafier pendek, masih dengan muka dinginnya.


"Haaaah.... ", Ruben bengong.


Begitu sampai di hotel, Zafier memilih duduk di lobby hotel. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Ruben sendiri sulit memprediksi. Tapi begitu melihat bosnya duduk di sana, mau tidak mau Ruben tetap berada di sana pula.


Dua puluh menit sudah waktu berlalu, Zafier masih duduk di sana dengan sabar. Ruben sendiri terus memperhatikan bosnya itu. Mencoba menerka-nerka apa yang ada dalam pikiran sang bos. Kenapa bosnya jadi aneh seperti ini. Duduk selama 20 menit dengan sabar seperti itu bukanlah kebiasaan sang bos. Bosnya bukanlah orang yang akan menghabiskan waktunya dengan hal yang tidak berguna semacam itu. Ruben benar-benar pusing dibuatnya.


Zafier berkali-kali mengamati pintu masuk hotel seolah sedang menanti kehadiran seseorang. Dua puluh menit sudah berlalu, dan ia masih melakukan hal tidak berguna semacam ini.


Semua tingkah Zafier, tidak luput dari perhatian Ruben, kenapa bosnya selalu melihat ke arah pintu seolah menunggu kedatangan seseorang. Rasanya si bos tidak punya jadwal meeting setelah ini. Ruben terpaksa diam dan mengamati saja tingkah sang bos, tanpa berani bertanya lebih jauh, karena ia tau si bos sedang dalam suasana hati yang sedang tidak baik. Ruben sungguh tidak berani mengambil resiko.


Akhirnya mata Zafier tertuju pada seorang wanita yang masuk dengan tergesa-gesa, tapi fokus si wanita malah ke ponsel yang dipegangnya, sepertinya ia sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Wanita itu nampak tidak memperhatikan jalannya.


Zafier lega wanita itu sendirian, pria tadi tidak bersamanya. Wajah dan sorot mata Zafier menjadi lebih lembut ketika ia menatap wanita itu. Wajah dingin dan sorot mata penuh amarah tadi entah kemana perginya, berganti dengan sorot mata berbinar-binar bahagia.

__ADS_1


Semua itu tidak lepas dari perhatian Ruben. Ruben langsung menganga menatap sang bos. Otaknya langsung berproses untuk menganalisa tingkah si bos yang di luar nalar sedari tadi, si bos sedang jatuh cinta kah?, tanyanya pada diri sendiri, mencoba menebak-nebak.


Tiba-tiba saja Zafier berdiri tanpa aba-aba. Ia berjalan ke arah si wanita. Kemudian ia berhenti setelah beberapa langkah. Tepat di jalur yang akan dilalui wanita itu. Zafier hanya berdiri diam di sana, seolah sedang menanti wanita itu mendekat padanya.


Wanita itu terus berjalan tanpa memperhatikan jalan di depannya. Ia sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang tinggi menjulang tengah menghadanh jalannya.


Beberapa saat kemudian tabrakan tidak bisa dihindari. Wanita itu menabrak Zafier dengan cukup kencang. Melihat si wanita hampir terjatuh setelah menabraknya, dengan cepat Zafier meraih pinggang wanita itu dengan tangannya. Posisi mereka menjadi sangat dekat, bahkan terkesan cukup intim.


Karena terkejut, wanita itu menatap Zafier. Mata mereka saling menatap cukup lama. Zafier seolah terhipnotis dengan mata hazel itu. Mata yang sangat indah, batin Zafier. Bibir tipis yang menggoda, apalagi karena terkejut, bibir itu sedikit terbuka, nyaris membuat Zafier kehilangan akal sehatnya. Jantung Zafier saat ini tengah berdegup sangat kencang, seperti genderang perang. Rasanya Zafier ingin sekali menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


Zafier tiba-tiba merasa tubuhnya memberi respon berbeda terhadap posisi ambigu itu. Ia yang biasanya begitu jijik berdekatan dengan wanita cantik sekalipun, saat ini malah mengambil inisiatif untuk ditabrak, dan gilanya lagi ia menikmati tabrakan yang berujung dengan posisi yang cukup intim seperti itu.


Untungnya Zafier segera tersadar, ia kuatir tidak bisa mengendalikan diri. Dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin, tapi dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi serak, Zafier berkata, "Sudah puas menatapku nona? tubuh anda cukup berat".


Sheza tersadar, wajahnya memerah, malu. Rasanya ingin sekali ia menenggelamkan diri ke dasar bumi. Bisa-bisanya ia terpesona pria yang ditabraknya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ia dibilang berat.


"Aku tidak menyangka tubuh sebesar anda, ternyata lemah", ujar Sheza dengan wajah cemberut, kemudian ia berlalu pergi.


Telinga Zafier langsung merah mendengar ucapan Sheza yang merendahkan. Ruben sendiri sudah menahan nafas mendengar hinaan Sheza. Ia kuatir si bos mengamuk. Tapi ternyata Zafier tidak marah, ia malah tersenyum aneh.

__ADS_1


Ruben menganga untuk ke sekian kalinya.


__ADS_2