
Sepeninggal Sheza, hanya tinggal Zafier dan dr. Niko yang ada di sana. Keheningan seketika melanda balkon lantai tiga itu. Zafier dan dr. Niko sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Dr. Niko kemudian menatap Zafier menuntut penjelasan. Raut wajahnya yang tadi nampak begitu bahagia saat ini berubah seratus delapan puluh derajat. Betul-betul ekspresi yang penuh kekalutan dan kegalauan.
"Jangan menatapku seperti itu Niko", ejek Zafier. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, berusaha lebih rileks sepeninggal Sheza. Keberadaannya yang tadi satu sofa dengan Sheza membuat tubuhnya sedikit kaku. Kedua tangan Zafier bersidekap dengan mata abunya yang menyorot tajam pada dr. Niko yang berada tepat di depannya, dengan tatapan penuh aura intimidasi.
Meski merasa sedikit tertekan karena aura intimidasi dari Zafier, namun dr. Niko masih tetap bersikeras mempertanyakan pernyataan Zafier.
"Apa maksudmu tadi? Jangan bilang kalau itu semua hanya taktikmu agar berhenti mengejar Sheza. Bersainglah secara sehat Zafier!", ujar dr. Niko penuh kekesalan. Wajahnya memerah akibat emosi. Kedua tangannya terkepal erat, hingga kuku-kuku jarinya memutih.
Sudut bibir Zafier terangkat, sebuah senyuman smirk tercipta samar di sana.
"Semua aku ungkapkan demi kebaikanmu, Niko. Sekarang kau tahu kan kenapa aku begitu posesif pada Nona Sheza, itu karena ia adalah calon ibu sambung ku", ujar Zafier berusaha membela diri. Meski hatinya meragukan ucapannya sendiri.
"Hhhh...", dr. Niko menghela nafas berat, Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba terasa lemas tak berdaya.
"Ekspresimu sangat menyedihkan Niko", ejek Zafier kembali. Ia nampak acuh tak acuh meski saat ini sahabatnya tengah dilanda kesedihan.
"Apa kau tau Zafier, ucapanmu tadi sangat membuatku terpukul. Kau menghempas perasaanku ke jurang yang terdalam", ujar Niko berlebihan.
"Kau tahu jantungku saat ini sedang tidak baik-baik saja. Rasanya seperti ribuan jarum yang menghujamnya, terasa sakit hingga terasa berat saat hendak mengambil nafas", lanjut Niko dengan suara parau, sambil memegang dadanya, nampak frustasi.
Zafier memutar bola matanya malas, melihat kelakuan dr. Niko.
__ADS_1
"Kau ingin kupanggilkan dokter spesialis jantung, atau kau ingin aku panggilkan ambulance sekalian", tawar Zafier acuh tak acuh.
"Kau benar-benar seorang sahabat yang tidak pengertian Zafier", dr. Niko meringis sebal. Tatapan tidak bersahabat melayang pada Zafier. Zafier hanya menanggapi dengan datar.
"Itu lebih baik daripada kau semakin lama semakin berharap pada sesuatu yang tidak bisa kau raih" ujar Zafier berusaha menyadarkan sahabatnya itu.
"Kau tidak malu pada predikat playboymu, menangisi seorang wanita yang baru saja kau temui", tuding Zafier, ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Senyum mengejek terbit di wajahnya yang saat ini menunjukkan ekspresi sangat dingin.
Dr. Niko terlihat acuh, meski mendapat ejekan dari Zafier, ia masih sibuk meratapi nasibnya.
"Awalnya aku pikir sikap posesifmu itu karena kau menaruh harapan pada Nona Sheza", selidik dr. Niko. Netranya memperhatikan wajah Zafier.
"Apa jangan-jangan benar kau memiliki perasaan pada ibu sambungmu tanya dr. Niko penuh penasaran. Matanya memicing, menatap Zafier dengan kecurigaan.
Beruntungnya dr. Niko tidak menyadari itu semua, wajah Zafier yang datar mampu membuat kecurigaannya memudar.
Dr. Niko malah asyik merenung, netranya memandang jauh, namun gumamannya terdengar jelas, "Aah ... Aku kagum pada daddy Zaki. Ia memang sangat pintar mencari calon istri, kau harus belajar dari Daddy Zaki, Zafier. Jangan berlarut-larut mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas tidak ada", ujarnya sok bijak menasehati Zafier.
Zafier mendelik kesal mendengar ucapan Zafier. Bisa-bisanya makhluk satu ini sok bijak menasehatinya, dikala ia sendiri tidak bisa menangani perasaannya.
"Hei kenapa jadi aku yang kau nasehati, ada baiknya kau menasehati dirimu sendiri untuk tidak berlarut-larut mengharapkan calon istri orang lain", ujar Zafier tenang. Sindirannya mampu membuat dr. Niko terdiam, alhasil dr. Niko kembali meratapi patah hatinya.
"Aaargh... Kenapa kau mengingatkan pada keterpurukanku Zafier!". Dokter Niko tertunduk sambil memegang kedua kepalanya, frustasi.
__ADS_1
Dr Niko meraih ponsel yang berada di saku jas dokternya. Ia menekan sebuah nomor kemudian melakukan panggilan pada seseorang.
Dr Liam Lodewijk, Aku butuh waktu untuk menenangkan diri sementara ini. Tolong bantu aku mengawasi Tuan Besar Zaki, dan berikan aku laporannya secara kontinyu.
"Aku tidak menyangka kalau kau bisa berlebihan seperti ini Niko", sindir Zafier. " Kau tidak usah berpura-pura di depanku. Kau adalah seorang player, tidak mungkin hanya karena seorang wanita yang baru saja kau kenal hari ini mampu mematahkan hatimu".
Dr. Niko menghela nafas berat, ucapan Zafier sedikit mengusiknya. Ia sendiri juga bingung kenapa kebenaran tentang Sheza begitu memukul hatinya. Ia yang biasanya menganggap wanita tidak lebih dari mainan saja, yang bisa ia ganti sesuka hati ketika ia sudah bosan, saat ini begitu mengusik mood-nya.
"Kau benar Zafier, aku sendiri tidak tahu kenapa perasaanku memburuk begitu mendengar kejujuranmu. Kau tahu Zafier, rasanya begitu hampa seperti kau baru saja kehilangan sesuatu yang berharga, padahal kau belum memilikinya", keluh dr. Niko frustasi.
Melihat kondisi sahabatnya itu, Zafier mulai merasa iba. Ia sudah lama mengenal dr. Niko. Ia tahu bahwa kali ini, meski dr. Niko nampak kurang serius, namun dr. Niko memang cukup terluka.
"Mari kita ke ruangan kerjaku saja. Sepertinya lagi-lagi aku harus menemani seseorang yang patah hati karena sheza. Mungkin minuman sedikit bisa membuat kau melupakan rasa patah hatimu Niko", lagi-lagi ia menatap dr. Niko prihatin. Ia kemudian berdiri dari sofa lalu berjalan meninggalkan balkon, sementara dr. Niko mengikutinya dari belakang dengan gontai, langkahnya tak lagi tegap seperti sebelumnya.
Mendengar ucapan Zafier tadi, dr. Niko sedikit merasa tergelitik. "Lagi-lagi?", gumamnya.
"Apa berarti sebelumnya ada orang yang juga merasakan hal yang sama seperti aku, Zafier", lirih dr Niko, ekspresinya begitu penasaran. Menatap penuh harap akan jawaban dari Zafier.
"Ah sudahlah tidak usah kau pikirkan", jawab Zafier malas.
"Ayolah Zafier, kau terlanjur mengucapkannya, aku menjadi penasaran. Siapa orang yang kau maksud itu?", tanya dr. Niko lagi, memaksa.
"Nanti saja aku ceritakan. Sekarang kau pergilah ke ruangan kerjaku. Tunggu aku di sana. Aku ingin mengunjungi Daddy Zaki terlebih dahulu", jawab Zafier tidak mau dibantah. Dr. Niko tidak memaksa lagi, ia membiarkan saja Zafier berlalu menuju ruangan perawatan, sementara ia sendiri berjalan menuju lift. Begitu ia menekan tombol lift, pintu lift terbuka dan ia pun memasuki lift menuju ke lantai dasar di mana ruangan kerja Zafier berada. Ia nampak larut dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1