
Sementara itu Zafier....
"Bereskan mereka semua tanpa tersisa dan cari bukti siapa yang mengirim mereka!", pria tampan itu memberikan perintah pada anak buahnya. Raut wajahnya terlihat dingin, netra abunya menatap para bandit yang ketakutan itu tajam tanpa ekspresi.
"Baik tuan!", sahut Carlos dan yang lainnya.
"Aku akan menghancurkan dalangnya karena sudah berani bermain-main dengan Safaraz", lanjutnya lagi.
"Carlos, pastikan semua bersih, aku tidak mau berurusan dengan pihak berwajib", ujar Zafier datar.
"Siap, tuan muda", jawab Carlos.
Setelah memberikan instruksi pada orang-orangnya, Zafier langsung meninggalkan lokasi dengan dikawal beberapa anak buahnya yang tersisa. Carlos sendiri tetap berada di lokasi untuk memastikan kondisi dan strategi selanjutnya.
Sebenarnya bisa saja Zafier memerintahkan Karen membawa Sheza terlebih dahulu ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya saat ini. Tapi entah kenapa Zafier merasa dirinya harus memastikan langsung keselamatan calon ibu sambungnya itu. Ia merasa tidak nyaman jika belum melihat langsung Sheza sadar dan baik-baik saja. Yaa....itu pasti rasa tanggung jawabnya saja pada daddy yang belum sadar, batin Zafier. Lagi-lagi mencari pembenaran dari tindakan anehnya yang kadangkala bukan merupakan cerminan dari dirinya yang sesungguhnya. Tidak pernah ada dalam sejarahnya Zafier harus mengurusi hal-hal remeh semacam ini. Jika saja sang sahabatnya di negeri Belanda sana tahu, maka bisa dipastikan Zafier akan jadi sasaran bulan-bulanan daru Gavin.
Zafier berjalan dengan cepat diikuti oleh beberapa orang anak buahmya, menuju lokasi di mana Sheza berada.
Ternyata di samping mobil di mana Karen dan Sheza berada, sebuah mobil super mewah sudah menunggu kedatangan Zafier.
"Selamat datang, tuan muda", sapa Felix yang memang telah menunggu Zafier sedari tadi. Felix adalah sopir pribadi Zaki Safaraz dengan kemampuan beladiri mumpuni. Sayangnya ketika penembakan terjadi pada Zaki, Felix tidak dalam posisi membawa kendaraan yang ditumpangi Zaki Safaraz. Hal itu menjadi penyesalan terbesar yang dirasakan oleh Felix, meskipun kejadian itu murni bukanlah kesalahan Felix. Sejak saat itu Felix bersumpah bahwa ia akan selalu membawa mobil yang dikendarai tuan muda Zafier apapun yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan apa yang menimpa Tuan Zaki Safaraz akan menimpa tuan mudanya pula.
__ADS_1
Felix segera melakukan bow begitu Zafier berada di depannya. Ia memberi hormat untuk menyambut kedatangan tuannya kemudian ia segera membukakan pintu mobil dan mempersilahkan tuannya untuk masuk dengan nyaman.
Zafir menganggukkan kepalanya pada Felix.
"Felix aku akan bersama Dante, kau ikuti saja mobilnya dari belakang", perintah Zafier.
"Tapi tuan muda ... ma-maaf tuan muda... bukan saya bermaksud untuk membantah perintah tuan, sa-saya hanya mengkhawatirkan keselamatan tuan", ucap Felix terbata-bata sambil menunduk, tidak berani menatap netra tajam tuan mudanya. Ada raut kekhawatiran di wajahnya. Ia tidak peduli apakah tuan mudanya akan marah karena ia membantah perintahnya, namun bagi Felix, ia sudah bersumpah untuk menjaga Zafier sebagai satu-satunya keturunan tuan besar Zaki. Hal itu dilakukannya sebagai penebusan terhadap rasa bersalah yang selalu menghantuinya.
Zafier yang mengerti niat baik Felix dan memahami rasa bersalah Felix dapat mengerti kenapa Felix membantah perintahnya. Jika itu adalah anak buahnya yang lain, bisa dipastikan peluru dari senjata yang ada di tangannya saat ini telah menembus tubuh orang tersebut.
Ya ... Felix memang belum tahu siapa Zafier. Itulah mengapa ia masih mengkhawatirkan Zafier seperti halnya kekhawatirannya pada sang tuan besar yang saat ini masih dalam kondisi koma.
Felix pasrah tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti perintah tuan mudanya.
Zafier kemudian berjalan menuju kendaraan dimana Karen dan Sheza berada.
Dante yang sedang berdiri di luar mobil menyambut kedatangan Javier dengan melakukan bow, memberi hormat untuk menyambut kedatangan tuannya kemudian ia segera membukakan pintu mobil dan mempersilahkan tuannya untuk masuk. Setelah itu ganti ia sendiri yang memasuki mobil dan duduk tepat di sebelah Zafier.
Sebelum memasuki mobil tersebut, sudut netra Zafier bisa melihat bahwa kondisi Sheza masih dalam keadaan belum sadarkan diri. Zafier menghela nafas berat. Meski samar, namun ada raut kekhawatiran di wajah tampannya itu.
Zafier segera memasuki mobil, begitu sang sopir membukakan pintu untuknya. Setelah itu, ia duduk dengan tenang di sebelah sopir, masih dengan ekspresi andalannya.
__ADS_1
"Segera kembali ke mansion dan hubungi dr. Tracy untuk datang secepat mungkin!", perintah Zafier dengan nada dan ekspresi dinginya.
Sementara netra abu itu terus mencuri padang pada sosok cantik yang masih terbaring di pangkuan Karen, melalui kaca spion yang ada di depannya.
"Siap tuan muda", jawab Dante menerima perintah. Ia pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh.
Karen terkesiap mendengar ucapan sang tuan muda, namun ia tidak memiliki keberanian untuk melakukan protes kepada tuan mudanya itu. Ia kembali mengendalikan dirinya, bisa jadi mereka akan mengantar tuan muda Zafier terlebih dahulu ke mansion, baru setelah itu sang sopir akan mengantar mereka ke apartemen, pikir Karen.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi. Karen benar-benar tidak berani membuka mulut sedikitpun. Selintas ia menatap dua orang di depannya melalui kaca spion depan, tampilan anak buah yang saat ini juga merangkap sebagai sopir itu benar-benar adalah fotocopy tuan mudanya. Wajah mereka datar terkesan dingin tanpa ekspresi.
Sementara itu Sheza, masih belum sadarkan diri.
Sebagian besar wajah Zafier nampak tertutup bayangan. Garis wajahnya yang sempurna terlihat dingin dan tegas tidak menunjukkan emosi hanya saja tekanan di sekitarnya semakin lama menjadi semakin rendah dan memancarkan aura yang sunyi sehingga udara di dalam mobil terasa membeku.
Merasakan tekanan saat itu membuat Karen rasanya ingin turun dari mobil. Dan melanjutkan perjalanan dengan taksi saja. Berkali-kali Karen menarik nafas kasar dan menghembuskannya perlahan agar dapat menenangkan dirinya sendiri.
Karen yang bingung harus berbuat apa,akhirnya memilih menatap ke arah luar melalui jendela mobil, menikmati pemandangan luar, sehingga Karen sendiri tidak menyadari entah sudah ke berapa kalinya netra tuan muda di depannya mencuri pandang ke arah Sheza melalui kaca spion depan. Meski samar rona khawatir tanpa melintas di wajah tampan Zafier.
Kenapa kamu belum sadar juga Sheza, batin Zafier. Netranya masih menatap penuh harap, berharap wanita cantik itu segera bangun dan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Zafier menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil yang merilekskan tubuhnya, setelah semua peristiwa menegangkan tadi. Ketegangan yang ia rasakan kali ini lebih berat dari kejadia -kejadian sebelumnya, karena resikonya yang melibatkan calon istri sang daddy.
__ADS_1