
Di sebuah lokasi di tengah hutan yang berjarak puluhan kilometer dari pemukiman terdekat di perbatasan kota J, terdapat sebuah bangunan yang sangat besar seperti gudang.
Orang tidak akan menyangka jauh di tengah hutan yang tidak tersentuh manusia seperti itu akan ada tempat seperti ini. Lingkungan di sana tampak di kamuflase seperti sebuah lahan pertanian beserta pabrik besar dengan lokasi yang sangat luas nyaris puluhan hektar, di sekelilingnya dibangun tembok dan pagar yang sangat tinggi. Area dalam jangkauan beberapa kilometer sebelum lokasi selalu disterilkan oleh para pengawal.
Para pekerja di lokasi itu memang tampak seperti pekerja-pekerja biasa, tapi mereka sebenarnya adalah pengawal-pengawal terlatih dengan ketahanan dan kemampuan luar biasa.
Tempat ini memang sekaligus dijadikan semacam. markas dan camp pelatihan. Tempat ini sejatinya dibangun Zaki sejak ia muda dulu. Zafier memang beberapa kali menginjakkan kaki ke lokasi ini bersama Zaki. Orang-orang di sini memang mengenal dua tuan, yakni Zaki dan Zafier.
Jauh di ruang bawah tanah bangunan itu terdapat ruangan besar yang terdiri dari banyak kamar. Di setiap dinding ada lemari-lemari besar yang sepintas menyerupai dinding biasa, di dalamnya terdapat berbagai senjata dan alat penyiksaan. Sementara di bagian yang lain terdapat ruangan seperti rumah sakit lengkap dengan berbagai peralatan medis, di bagian yang lain terdapat tempat seperti kebun binatang. Di sana terdapat beberapa kandang binatang berisi binatang buas dan penangkaran buaya. Di bagian atas bangunan terdapat landasan helikopter dan jet pribadi.
Tiba-tiba beberapa orang pria dengan tubuh tinggi besar dengan balutan pakaian serba hitam menyeret beberapa pria yang terlihat kacau dengan tubuh penuh luka bahkan wajah beberapa pria itu nyaris tidak bisa dikenali lagi akibat puluhan pukulan yang didapatkannya. Beberapa pria yang diseret itu semuanya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang begitu luas. Lantai yang berwarna putih seketika berubah warna menjadi merah akibat ternoda oleh darah para penjahat yang diseret.
Dalam ruangan itu terdapat puluhan pria berbadan tinggi dan besar lainnya. Mereka berdiri di posisi masing-masing dalam kondisi waspada.
Para pria yang merupakan penjahat itu di lempar ke dalan ruangan yang berbeda. Ke enam pria yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri itu diikat dan dirantai. Selanjutnya mereka digantung di dinding. Seember air menyiram tubuh para penjahat. itu, mereka terbangun dan gelagapan.
Seorang pria berbadan tegap memasuki salah satu ruangan dimana pemimpin para penjahat itu ditahan. Para anak buah yang berada di dalam ruangan itu menundukkan kepala begitu pria itu memasuki ruangan. Salah seorang anak buah membawa sebuah kursi agar si pria bisa duduk.
"Silahkan tuan Juan", ujarnya dengan hormat.
Sama halnya dengan Carlos, Juan adalah anak yatim piatu yang ditemukan Zaki berkeliaran di jalanan. Mereka diasuh dan digembleng semenjak kecil di sana. Bedanya jika Juan lebih fokus ke otot, Carlos lebih fokus ke otak, meski ia juga menguasai bela diri. Itulah kenapa Carlos lebih banyak terlibat di perusahaan Zaki.
Juan juga salah satu orang kepercayaan Zaki yang ditugaskan mengurus semua kegiatan operasional di markas.
__ADS_1
Juan duduk di kursi itu, ia mengamati kondisi di sekitarnya. Melihat sang penjahat yang sudah terbangun akibat disiram air oleh salah satu pengawal ia tersenyum dingin.
Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasa begitu bersemangat seperti saat ini, batinnya. Senyumnya mengembang, terlihat sadis.
"Baguslah, kau sudah bangun, aku tidak sabar menyiksamu", seringai pria itu.
Begitu sadar, pria itu memberontak, tapi usahanya sia-sia saja, rantai yang besar membelenggunya dengan kuat.
Juan tersenyum jahat, "Kenapa kau menyerang Nona tadi", teriak Juan dengan nada dingin.
Penjahat itu dia dan acuh, ia tidak menanggapi pertanyaan Juan. Ia malah balik menatap Juan dengan tajam.
Juan nampak tenang, tidak terprovokasi sama sekali. Kemudian ia menganggukkan kepala pada anak buah yang berada di ruangan itu. Detik berikutnya terdengar teriakan kesakitan dari dalam ruangan itu.
"Kau sangat lemah, hanya disiksa begitu saja kau sudah berteriak-teriak", bentak Ruben, tawanya membahana di ruangan itu.
"Ampun tuan, ampun tuan, ampun...aku akan bicara, tolong hentikan penyiksaan ini", mohon penjahat itu.
Ruben mengangkat salah satu tangannya pengawal itu mengerti dan menghentikan penyiksaannya.
"Bicara! ", hardik Juan.
"Ka...kami dibayar untuk menculik nona itu, seseorang menjanjikan sejumlah uang kepada kami jika kami berhasil menyelesaikan misi kami dengan menculik nona itu", ujar si penjahat.
"Siapa yang membayar kalian? ", hardik Juan lagi dingin, matanya menyorot tajam.
__ADS_1
"A...aku tidak tahu tuan", jawab si penjahat takut-takut. Ia menunduk, menghindari tatapan tajam mata Juan.
Seketika mata Juan mendelik, ia selintas mengamati penjahat itu, ia tahu penjahat ini menutupi sesuatu.
Sebagai pemimpin dari teman-temannya yang lain penjahat ini pasti mengetahui siapa yang membayarnya, Juan paham betul hal semacam itu. Mereka adalah penjahat-penjahat kacangan, penjahat kelas ringan, mereka bergerak sendiri-sendiri dengan kelompok kecil, tanpa sindikat tertentu. Jadi sudah pasti pemimpinnya akan berkomunikasi langsung dengan orang yang dibayarnya.
Juan kembali menganggukkan kepala pada anak buahnya, detik berikutnya teriakan membahana kembali bergema di ruangan itu. Anak buahnya menyiksa penjahat itu tanpa ampun.
"Siksa ia dengan sangat keras, jangan biarkan ia mati dengan mudah. Biarkan ia memohon dan memilih untuk lebih baik mati daripada disiksa", perintah Juan dengan dingin. Anak buahnya nampak bersemangat, ia mengeluarkan berbagai peralatan penyiksaan dari dinding di sana. Melihat berbagai alat penyiksaan, nyali si penjahat langsung ciut, ia langsung merinding.
Sementara Juan sudah beranjak dari kursinya, ia bergegas keluar ruangan. Tapi belum sempat ia mencapai pintu, ia mendengar si penjahat itu berteriak-teriak ketakutan.
"Tuan...aku mohon ampuni aku, maafkan aku, aku akan bicara. Jangan pergi tuan, jangan biarkan aku mati disini, maafkan aku, aku akan bicara", mohon penjahat itu.
Juan acuh, ia tetap berjalan keluar, senyuman jahat tersungging di sudut bibirnya.
Penjahat itu semakin takut, ia kembali berteriak- teriak apalagi ketika melihat beberapa anak buah pria itu mulai mendekatinya dengan alat-alat penyiksaan di tangan mereka.
"Tuan aku mohon, aku tidak mau mati disini, tuan jangan pergi aku mohon", teriak si penjahat gemetar.
Juan berbalik, dia menyeringai menatap penjahat itu. "Kalau sampai kau permainkan aku lagi, aku jamin kau akan mati dengan sangat menyedihkan, aku pastikan kau kan mengalami penderitaan dan penyiksaan paling menyakitkan yang pernah ada", ancam Juan.
Penjahat itu menelan ludahnya dengan susah, nyalinya benar-benar ciut.
"Cepat bicara!", hardik anak buah Juan yang berdiri tak jauh darinya penjahat itu.
__ADS_1