
Pagi mulai menjelang siang. Stefano masih berada di ruang kerja Surya, mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan Surya.
Surya sendiri saat ini tengah terdiam, ia masih menunggu jawaban Stefano setelah penjelasan panjang lebar darinya tentang kontrak Safaraz Grup yang didapatkannya di kota P.
Surya tidak terlalu berharap banyak karena persaingan yang sangat besar untuk mendapatkan kontrak kerjasama dengan Safaraz Grup pusat. Ia harus menghadapi beberapa perusahaan bonafit lainnya. Ia sudah cukup bersyukur mendapatkan kontrak dengan perusahaan Safaraz Grup di kota P.
"Jika kau berhasil menyelesaikan proyek kerjasama di sana dan dapat mengambil kepercayaan Safaraz Grup, maka aku akan mempercayaimu sepenuhnya. Dan menganggap bahwa skandal itu tidak pernah ada sama sekali", jelas Surya kembali dengan wajah serius. Surya menyadarkan tubuhnya santai.
Stefano mengangkat wajahnya, ia menatap wajah Surya serius. Ia berusaja menyembunyika kegugupannya. Tanpa sadar kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Tidak ada penolakan darinya. Ia cuma menjawab, "Baiklah ayah, aku akan melakukan yang terbaik bagi perusahaan", tekadnya sudah bulat bahwa ia akan membuktikan kepada sang ayah bahwa ia akan berubah dan menjadi lebih baik.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengatur keberangkatanmu dan akomodasinya selama berada di kota P. Asisten lamamu akan tetap mendampingimu tapi ia akan melaporkan setiap progres dan tingkah lakumu di sana kepadaku". Stefano menelan salivanya. Ia bergidik ngeri, ternyata di manapun ia berada, ia akan tetap dalam pengawasan. Skandal itu benar-benar telah merampas semua kebebasannya. Tapi apa mau dikata, kondisi ini lebih baik daripada hidupnya dulu yang serba kekurangan.
"Kapan aku harus mulai mengurus proyek di kota p ayah", tanya Stefano.
"Hari ini kau bisa pulang dan beristirahat. Farid akan mempersiapkan segala sesuatunya, besok kau sudah bisa berangkat ke kota P", jawab Surya lagi.
Sesaat Stefano terperangah, terkejut mendengar penjelasan sang ayah, rasanya terlalu cepat, batinnya. Tapi sejurus kemudian ia sudah dapat mengendalikan dirinya dan bersikap normal kembali. "Baiklah ayah, aku undur diri dulu", ujar Stefano sopan.
Sepeninggal Stefano, Surya kemudian memerintahkan Sofia untuk memanggil Farid asistennya. Tak berapa lama Farid memasuki ruangan Surya.
__ADS_1
"Aku sudah menjelaskan semuanya pada Stefano, Farid. Urus semua tiket dan akomodasinya di kota P, kemudian kau hubungi asistennya. Aku ingin asistennya melaporkan semua kegiatan dan apapun yang dilakukan Stefano di kota P. Aku tidak ingin hal seperti skandal itu terjadi kembali", perintah Surya.
"Siap laksanakan tuan", jawab Farid patuh.
Stefano baru saja turun dari lantai di mana ruangan sang ayah berada. Begitu keluar dari lift, ia bertemu dengan sang kakak Sherly. Sherly cukup terkejut ketika ia berpasangan dengan Stefano tapi seketika ia langsung membuang muka. Ia sama sekali tidak ingin menyapa saat ini. Ada rasa jijik di hati. Keberadaan Stefano saja sudah cukup dianggap sebagai ancaman buatnya. Ia semakin kesal karena ternyata sang ayah memaafkan Stefano atas skandal yang telah dibuatnya.
Stefano hanya terdiam melihat respon sang kakak meski ia sendiri sudah menyangka bahwa Sherly akan menanggapinya seperti itu tapi ia tetap merasa sedikit terkejut melihat respons sang kakak yang dingin. Stefano akhirnya hanya melewatinya saja, ia juga tidak berniat menyapa Sherly. Stefano terus berjalan menuju parkiran. Ia harus segera sampai di rumah untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya besok ke kota P.
Lebih kurang 30 menit perjalanan akhirnya Stefano sampai di rumah sang ibu. Stefano turun dari mobil, berjalan gontai ke dalam rumah. Ratih, sang ibu melihat perubahan yang cukup besar ketika anaknya masuk. Stefano tidak lagi bersemangat seperti ia berangkat bekerja tadi pagi. Stefano terlihat sedikit lesu. Sebagai seorang ibu yang sudah mengenal Stefano dari kecil, ia menangkap perubahan itu.
Stefano sedikit terkejut ketika Ratih tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
"Tidak ada apa-apa bu", jawab Stefano berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Ayolah nak, ibu tahu dirimu dari kecil, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ibu", ujar Ratih.
Stefano menghela nafasnya, "Ayah menugaskanku ke kota P untuk mengelola cabang perusahaan yang ada di sana, bu", akhirnya Stefano jujur.
Ratih tersentak, ia sedikit emosi menghadapi kenyataan tersebut. Ia tidak mengerti kenapa suaminya mengirim sang anak ke sana.
__ADS_1
"Kenapa ayahmu mengirimmu ke sana, aku harus menanyakan alasannya", ujar Ratih berapi-api, emosi telah mendominasi dirinya
Ratih bergegas ke dalam untuk mengambil ponselnya. "Ibu ingin meminta penjelasan dari ayahmu".
"Ibu tunggu, ibu aku mohon, jangan hubungi ayah, Aku sudah berjanji akan melakukan apapun asal ayah memaafkan segala kesalahanku Ayah. hanya ingin menguji ku bu, sejauh mana ketulusanku untuk berubah, aku sudah menyetujuinya bu. Aku mohon jangan merusak semuanya bu. Aku ditugaskan Ayah untuk menangani suatu proyek di sana. Jika aku berhasil menyelesaikannya, maka ayah akan memaafkan semua kesalahanku. Aku mohon", Stefano berusaha menahan Ratih, matanya nampak memelas menatap Ratih.
Ratih menghembuskan nafasnya dengan kasar, kekesalan nampak di wajahmya. Aku tidak suka ayahmu memperlakukanmu seperti itu, kalau memang ia tidak ingin memaafkanmu lebih baik kita pergi saja dari sini. Ibu merasa ia mengirimmu ke kota P, hanya untuk membuangmu, pasti Ini semua adalah hasutan dari Stacy dan Sherly", ujar Ratih kesal.
"Sudahlah bu, kita tidak mungkin meninggalkan ini semua. Aku tidak mau kembali hidup susah seperti dulu bu. Apa ibu yakin mau kembali ke kehidupan kita yang dulu", tanya Stefano.
Ratih terdiam, tiba-tiba peristiwa demi peristiwa di saat mereka masih susah dulu melintas di benaknya. Ratih bergidik, Stefano benar, ia memang tidak rela meninggalkan semua kemewahan ini. Ratih menatap Stefano, dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan sang anak.
"Baiklah Stevano, kalau menurutmu itu adalah pilihan yang harus kamu ambil, maka ibu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ibu hanya mampu mendoakanmu. Semoga semua urusanmu di kota P dapat berjalan dengan lancar", Ratih kemudian meninggalkan Stefano sendirian.
Stefano lega karena berhasil menenangkan sang ibu. Ia tidak bisa membayangkan betapa murkanya sang ayah jika ibunya tadi berhasil menghubunginya.
Stefano kemudian beranjak masuk ke dalam rumah, terus berjalan menuju kamarnya sendiri. Ia akan mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya besok. Baru saja memasuki kamar ponsel Stefano berdering, ia bergegas meraih ponsel dari kantong kemejanya.
Nama Def tertera di sana. Stefano mengerutkan dahinya, sudah cukup lama Def tidak menghubunginya. Ia tau Def pasti mendapatkan hukuman dari Surya, karena dianggap tidak becus menjadi asisten, sehingga terjadi skandal itu. Awalnya ia berpikir Def telah dipecat oleh sang ayah. Tapi tiba-tiba Def berinisiatif menghubunginya. Ada apa, batinnya.
__ADS_1