
Sebelum kendaraan lain mencapai lokasi Zafier dan Carlos, sebuah jeep Wrangler Rubicon nampak menyalip lebih dahulu dengan kecepatan tinggi.
Mobil itu berhenti beberapa meter dari lokasi Zafier. Kemudian ketika pintu mobil itu terbuka seseorang nampak berlari ke arah Zafier. Seseorang yang keluar dari mobil itu tak lain adalah Karen. Ia nampak keluar dari sana dengan tergesa-gesa. Karen berlari cukup kencang agar segera sampai di tempat Zafier dan Carlos. Ia melakukan bow begitu sampai didepan Zafier.
Bow atau membungkuk, adalah suatu tindakan menurunkan batang tubuh dan kepala (menunduk) sebagai isyarat sosial ke arah orang lain atau simbol. Ini paling menonjol dalam budaya Asia tetapi juga tipikal bangsawan dan aristokrasi di banyak negara Eropa.
Ketika tatapannya beralih pada Carlos. Karen terkesiap begitu menyadari siapa yang berada dalam dekapan Carlos. Karen tampak sangat panik.
"Nona, ada apa denganmu nona?", teriak Karen tepat di samping telinga Carlos.
Carlos meringis, kalau saja di situ tidak ada tuan Zafier bisa dipastikan Carlos akan langsung menghardik Karen. Carlos makin kesal manakala melihat tampang Karen yang terlihat seperti seseorang yang tidak bersalah, padahal ia merasa hampir saja kehilangan pendengaran.
Carlos sendiri tidak menjawab pertanyaan Karen. Ia hanya menatap Karen tajam, seperti hendak menelan Karen bulat-bulat, dalam arti sesungguhnya.
Carlos sengaja tidak menjawab pertanyaan Karen. Ia tahu betul bagaimana sifat Karen, jika ia menjawab Karen maka persoalannya akan semakin panjang.
Carlos baru akan bersiap mengangkat tubuh Sheza ke dalam gendongan ala bridal style, ketika kemudian suara bariton yang dingin itu terdengar tajam.
__ADS_1
"Karen, segera bawa nona Sheza ke dalam kendaraan. Tunggu di sana. Carlos kau ikut aku", perintahnya tegas, tanpa mau dibantah.
"Siap tuan muda!!", jawab Karen dan Carlos nyaris bersamaan. Carlos mendelik menatap Karen, begitu juga sebaliknya. Karen balas melotot pada Carlos. Benar-benar menyebalkan, awas saja kau, ku congkel juga bola mata besarmu itu, kesal Carlos.
Begitu mendengar perintah dari Zafier, Karen bergegas meraih tubuh Sheza dari tangan Carlos. Carlos menyerahkan Sheza pada Karen dengan tatapan tidak ikhlas. Sementara Karen menatap Carlos dengan seringaian di bibirnya, sungguh menyebalkan. Rasanya Carlos ingin sekali membunuh orang saat ini untuk meredam kekesalannya. Karen benar-benar menguji kesabaran seorang Carlos.
Setelah Sheza berada dalam gendongannya, Karen kemudian berjalan menuju kendaraan yang membawanya tadi. Ia nampak berjalan dengan santai meskipun tengah membawa beban yang tidak ringan. Tidak terlihat kesulitan sedikitpun ketika ia membawa Sheza. Tubuh Karen memang sudah terlatih. Kekuatan wanita itu memang tidak main-main, melebihi kekuatan wanita normal pada umumnya.
Karen memilih untuk berjalan menuju kendaraan yang ia tumpangi tadi, karena ia merasa tidak mungkin membawa tubuh sang nona ke mobil yang membawa sang nona sebelumnya, melihat kondisi mobil itu nampak sudah tidak utuh lagi.
Setelah Karen beranjak pergi dari lokasi. Carlos kemudian berjalan mengikuti Zafier. Untuk bergabung dengan orang-orang Safaraz.
Dari dalam kendaraan itu keluar satu persatu pria-pria bertubuh tinggi besar. Mereka adalah sebagian kecil dari orang-orang Safaraz yang memang ditugaskan untuk membersihkan lokasi setiap kali terjadi hal-hal yang berpotensi melanggar hukum. Para pria itu terlihat memakai seragam dan emblem yang menjadi ciri khas orang-orang Safaraz.
Kemudian masing-masing anak buah Zafier berlari mengambil tempat dan posisi, tepat di depan Zafier. Lalu mereka secara bersamaan melalukan bow pada Zafier.
Begitu Karen sampai di depan kendaraannya, sang sopir bergegas membuka pintu belakang mobil. Karen kemudian meletakkan tubuh Sheza dengan sangat hati-hati ke dalam mobil. Ia meletakkan tubuh Sheza di kursi belakang dengan menjadikan pahanya sebagai bantal dari kepala sang nona.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu nona. Apakah kedua orang yang perkasa itu tidak mampu melindungimu. Tapi, sepertinya aku tidak melihat luka sedikitpun di tubuh nona. Apa yang sebenarnya terjadi nona. Si Carlos sialan itu tidak menjelaskan apapun padaku ketika aku menanyakan apa yang terjadi pada nona. Aku sama sekali tidak berani bertanya kepada tuan Zafier. Baru berdiri dekat dengannya saja, aku sudah merasa sesak, aura dominasinya sungguh membuatku merasa terintimidasi. Belum lagi netranya yang dingin dan tajam jika menatap. Benar-benar membuatku bergidik. Karen bermonolog. Netranya menatap sang nona iba.
Karen menunggu Sheza dengan sabar di dalam mobil. Dari tempat dimana ia duduk, ia bisa melihat orang-orang Safaraz sedang sibuk di depan sana. Zafier nampak memberikan instruksi kepada timnya itu. Setelah itu ia nampak berbicara pada Carlos. Kemudian, sang tuan muda nampak berjalan menuju kendaraan dimana Karen berada, sementara Carlos nampak mengambil alih posisi yang ditinggalkan Zafier.
Pria tampan bertubuh atletis itu nampak berjalan tenang dengan wajahnya yang dingin, serta ekspresinya yang datar.
Karen menelan salivanya. Dia selalu merasa takut berdekatan dengan tuan mudanya itu. Meskipun Karen mengakui bahwa tuan mudanya itu sangat tampan dengan fisik dan wajah yang sempurna, benar-benar tidak ada celah sama sekali, tapi sosok yang angkuh dan penuh wibawa itu membawa aura yang sangat mendominasi. Hal itu sukses membuat setiap orang yang berhadapan dengannya seolah direnggut oksigen di sekelilingnya, nafas mereka akan terasa tercekat dan sesak. Ia benar-benar sesuatu yang tidak tersentuh.
Meskipun sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan tuan mudanya itu namun Karen tahu tuan mudanya bukanlah tipe orang yang suka berbasa basi, bukan orang yang mudah berinteraksi dengan orang lain. Berada satu kendaraan dengan sang tuan muda pastilah sangat-sangat tidak nyaman. Aura sang tuan muda yang dominan dan mengintimidasi, pasti akan membuat dirinya merasa sesak dan sulit bernafas.
Ya Tuhan apa aku harus berada satu kendaraan dengan tuan muda, apa tidak bisa aku di lokasi saja mendampingi carlos, batin karen.
Seandainya saja ia bisa memilih Karen akan lebih memilih harus berhadapan dengan musuh ketimbang harus berada satu kendaraan dengan tuan mudanya itu. Tanpa sadar peluh mulai membanjiri tubuh Karen.
Hhhh... Saat-saat menyiksa akan segera tiba, ringis Karen dalam hati.
Tenang Karen, tenang. Ingat kondisi nona Sheza saat ini. Lagi-lagi Karen membatin, mencoba menenangkan hatinya. Ia kemudian menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan.
__ADS_1
Meski sudah berusaha menenangkan dirinya, namun tak urung Karen terperanjat begitu pintu mobil dibuka oleh sang sopir. Ternyata sang sopir bersiap membukakan pintu mobil untuk sang tuan muda yang akan masuk. Untungnya Karen segera bisa mengendalikan diri dan kembali terlihat tenang.
Ia memperhatikan setiap gerak sang tuan muda dari kursi belakang. Tanpa sadar Karen memperhatikan sambil menahan nafasnya.