
Seif sangat terkejut. Ia tidak menyangka Sheza akhirnya mengetahui rahasia ini. Tapi Seif sudah siap dengan segala konsekuensinya. Karena bagaimanapun juga lambat laun semua akan terbuka juga. Pada akhirnya kebenaran akan menemukan jalannya.
Seif menatap adik yang disayanginya itu, yang kini tengah berurai air mata. Meski ia tau bahwa tidak ada ikatan darah antara mereka berdua, tapi Seif memang menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri. Sang ayah pernah berpesan padanya untuk menjaga Sheza dengan segenap jiwa dan raganya.
Seif mengusap lembut punggung tangan Sheza berusaha menenangkan sang adik. Ia sangat ingin memeluk sang adik, tapi sekarang tidak mungkin, karena Sheza sudah tau kalau mereka tidak mempunyai hubungan darah. Ia takut Sheza tidak suka.
"Maafkan kakak She, kakak tidak bisa menjagamu dengan baik. Apapun yang terjadi, bagi Kakak kamu tetap adalah adik terbaik yang pernah Kakak miliki. Sampai kapanpun kamu tetap adalah adik buat kakak, She. Kakak mewakili ibu mohon maaf kepadamu atas semua hal yang telah menyakitimu", mohon Seif penuh penyesalan.
"Ibu tidak salah kak, aku bersyukur karena selama ini ibu yang mengurus dan membesarkanku", ujar Sheza dengan tulus.
"Hanya saja aku ingin mencari informasi siapa orang tuaku yang sebenarnya. Apakah mereka masih hidup atau tidak. Apakah aku masih punya saudara atau tidak. Apakah kakak punya informasi untukku?", tanya Sheza antusias. Berharap Seif mempunyai informasi yang diinginkannya.
Seif terdiam, sejenak ia mengingat masa lalu, adakah informasi yang tertinggal di sana. Tapi nihil adanya.
"Maafkan kakak She, kakak benar-benar tidak punya informasi tentang asal usulmu, tentang siapa kedua orang tua kandungmu. Ayah membawamu pada waktu itu dalam keadaan penuh luka, tapi ayah tidak pernah menjelaskan kejadian apa yang telah menimpamu, serta dari mana asalmu. Bahkan ketika ibu marah pun ayah memilih untuk diam dan tidak menjelaskan apapun. Hal itulah yang kerap memicu kemarahan ibu. Ibu begitu membencimu karena ia mengira kamu adalah anak dari selingkuhan ayah. Tapi meski mengetahui kecurigaan ibu, ayah tidak pernah berusaha untuk meluruskan hal tersebut. Bahkan sampai ayah meninggal. Ibu masih dalam prasangka dan kecurigaannya itu. Ayah sendiri juga tidak pernah menjelaskan apapun kepadaku tapi aku tahu betul siapa ayah. Ayah bukanlah tipe laki-laki seperti itu. Jadi meskipun ibu seperti itu dengan segala kekurangannya, ia tidak akan pernah berniat untuk selingkuh, makanya aku tetap menyayangimu seperti adikku sendiri", papar Seif panjang lebar.
Sheza cukup tersentuh mendengar cerita Seif, hanya saja ia tidak bisa menyembunyikma rasa kecewanya mendengar penjelasan Seif. Awalnya Ia berpikir bahwa Seif dapat memberi informasi dan petunjuk yang dibutuhkannya. Sheza tahu Seif sudah mengatakan yang sebenarnya. Ia bisa melihat kejujuran pada wajah Seif. Sheza tetap tersenyum, meski sedikit kecewa.
"Terima kasih atas penjelasan kakak. Terlepas dari semua permasalahan yang ada, bagiku Kakak akan tetap menjadi kakakku selamanya", ujar Sheza masih dengan senyuman tulus di wajahnya. Seif sangat bahagia dengan penuturan Sheza.
__ADS_1
Sementara itu dua pasang mata dibalik dinding kaca transparan itu, masih setia mengamati adegan demi adegan yang terjadi di depan mereka. Mereka berdua berusaha mengendalikan diri ketika wanita yang sama-sama menarik perhatian mereka, sedang berurai air mata. Meski mereka penasaran, mereka tidak ingin ikut campur terlalu jauh, mereka kuatir hal tersebut akan membuat wanita itu tidak suka.
Arsen nampak sangat kecewa karena ia tidak bisa mendekati wanita pujaannya. Zafier selalu saja melarangnya dengan memberikan berbagai alasan yang cukup masuk akal menurutnya. Hingga niat Arsen untuk mendekati wanita itu dan mengenalnya lebih dekat menjadi kandas begitu saja.
Zafier menyarankan agar Arsen merintahkan anak buahnya saja untuk menyelidiki wanita itu agar ia bisa mendapatkan informasi akurat tentang siapa wanita itu. Agar proses pendekatan Arsen nantinya lebih lancar.
Zafier memang telah memperhitungkan itu semua. Meski terkesan jahat, ia tidak mau memperberat persaingannya. Ia belum bisa melangkah lebih jauh dalam hal pendekatan dengan wanita itu. Jika dalam proses itu kemudian Arsen mengambil tempat lebih dekat, ia takut persaingannya semakin sulit.
Ia memang menyarankan Arsen mencari informasi tentang wanita itu, karena ia tahu Arsen juga tidak akan bisa mencari informasi lebih mendalam tentang wanita itu, sama seperti kebuntuan yang dihadapinya.
Ia memang berharap Arsen akan putus asa karena tidak bisa mencari identitas dan informasi tentang wanita itu, ia ingin agar Arsen lama kelamaan akan melupakan wanita itu.
Di sisi lain, selama Sheza dan Seif berbincang-bincang, beberapa kali Seif nampak harus menerima telepon.
"Kakak sebaiknya kembali ke kantor saja, sepertinya kakak tengah sibuk", ujar Sheza merasa tidak enak.
Sheza tidak ingin menahan Seif lebih lama mengingat kesibukan sang kakak. Ia tau Seif bekerja pada tuan Zaki dan tuan Zaki sudah begitu baik padanya selama ini.
Setelah percakapan mereka berakhir, dengan berat hati Sheza berpisah dengan sang kakak. Mereka berjanji akan saling berkomunikasi ke depannya.
__ADS_1
Seif berencana untuk kembali ke kantor melanjutkan pekerjaannya yang masih tersisa, sedangkan Sheza akan kembali ke hotel dimana ia menginap.
Setelah Sheza menyelesaikan semua pembayaran di resto, Sheza bergegas menuju areal parkir untuk mencari Karen. Ternyata Keren sudah menunggu di kendaraan yang akan membawa mereka.
Di sepanjang perjalanan Karen memperhatikan wajah Sheza. Sheza lebih banyak terdiam. Karen bisa melihat aura mendung yang mendominasi di wajah Sheza.
Sheza sendiri nampak sibuk dengan pikirannya, kemana lagi aku harus mencari informasi tentang kedua orang tuaku, sekarang harapanku satu-satunya hanya Tuan Zaki. Sheza menghela nafas berat.
Karen sangat penasaran dengan apa yang dipikirkan Sheza. Tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya. Karen merasa perjalanan menjadi lebih jauh dalam kesunyian itu.
Sheza dan Karen tidak menyadari bahwa sejak mereka meninggalkan resto tadi, sebuah mobil telah membuntuti mereka.
Tepat pada saat kendaraan mereka berada pada jalanan yang sepi, tiba-tiba sebuah mobil hitam melesat keluar dari arah yang tidak mereka ketahui, langsung menabrak kendaraan mereka.
Kendaraan mereka langsung terkena benturan keras. Kap mobil mereka sontak mengeluarkan asap. Kendaraan mereka rusak parah.
Kemudian dari mobil hitam itu keluar enam orang pria dengan perawakan tubuh tinggi besar. Mereka semua mengenakan pakaian berwarna gelap dengan penutup wajah. Ke enam orang tersebut kemudian bergerak mendekat menuju kendaraan Sheza.
Karen yang melihat situasi tidak kondusif bergegas keluar dari mobilnya. Ia berusaha mengarahkan orang-orang itu agar menjauh dari Sheza. Ia langsung menghadang ke enam orang tersebut.
__ADS_1