
"Maafkan aku Nona Sheza, aku mengira anda tadi adalah seseorang yang telah bertahun-tahun tidak aku temui. Hmm ... Sebaiknya Nona masuk, udara di sini tidak baik untuk kesehatan, bukankah Nona baru saja pulih", ujar Zafier datar. Apa yang diucapkan Zafier sebenarnya lebih tepat sebagai sebuah perintah. Zafier menatap netra hazel Sheza dengan tajam sekaligus lembut di waktu bersamaan.
Ekspresi Zafier benar-benar membuat Sheza terkejut. Mulutnya nyaris menganga dengan perubahan ekspresi pria tampan di depannya ini. Ekspresi itu benar-benar berubah hanya dalam hitungan detik, seolah tidak terjadi apa-apa pada mereka berdua. Sheza sungguh takjub.
Sheza menarik nafasnya dalam-dalam untuk menstabilkan emosinya, karena saat ini rasanya ia ingin meledak, menghardik pria tampan di depannya yang telah bersikap lancang dengan memeluknya. Wajahnya yang telah memerah karena emosi hanya diam meredam amarah.
Ia mengepalkan tangan dengan erat, menggigit bibir bawahnya dengan keras. Netranya melirik tajam ke arah Zafier, seolah akan menelannya hidup-hidup, dengan giginya yang terkatup.
Sementara Zafier hanya menatapnya dengan acuh tak acuh. Zafier yang tampil dengan bagian lengan dari kemejanya yang tergulung hingga batas siku, yang menampakkan guratan vena di lengannya yang atletis, dengan tangannya berada di saku celana, ia tampak santai tanpa rasa bersalah. Hal itu benar-benar membuat Sheza kesal setengah mati.
Ia sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menanggapi kejadian yang baru di alaminya ataupun merespon ucapan dari Zafier, meski ia akui aura pria tampan itu cukup mengintimidasinya, sehingga membuat ia tidak punya pilihan selain hanya mengikuti kata-kata pria itu.
Sheza tampak patuh untuk bangkit dari ayunan itu, kemudian berjalan dengan cepat ke arah kamarnya tanpa permisi dan tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Meski dengan wajah penuh kekesalan
Sementara Zafier dengan tenang melanjutkan langkahnya. Ia bersikap mengabaikan wanita yang terlihat begitu kesal itu. Zafier hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia yakin jika saat itu wajahnya sudah berubah warna karena malu. Itulah Kenapa ia segera berpaling, ia tidak berniat berlama-lama berada di hadapan sheza.
Namun baru beberapa langkah, Zafier merasa harus berbalik, menatap punggung wanita itu hingga ia menghilang di balik pintu. Dan berkata dengan putus asa di dalam hati, maafkan kelancanganku Sheza. Ia merasa bersalah karena telah berbuat lancang pada Sheza. Ia menatap bayangan Sheza penuh rasa penyesalan. Ia kemudian berjalan menuju Gazebo yang ada di taman itu. Ia menghempaskan tubuhnya pada salah satu sofa di sana.
__ADS_1
Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, satu tangannya memijat dahi. Jujur ia merasa sangat malu. Entah mau ditaruh dimana wajahnya jika bertemu wanita itu besok. Bisa-bisanya ia tadi mengira bahwa Sheza adalah Gwennya, bisa-bisanya kesadarannya hilang kendali seperti tadi.
Zafier kembali menghela nafas. Ia meremas rambutnya merasa frustasi dengan masalah tadi. Zafier menyandarkan tubuhnya berusaha lebih rileks. Ia menatap hamparan bintang di atas langit, mereka nampak berkelap-kelip. Semilir angin menerpa wajahnya. Perlahan ia memejamkan mata, berusaha berpikir jernih.
Sementara itu...
Sheza merasa sangat kesal. Sepanjang perjalanan menuju kamar yang ditempatinya, ia hanya mengomel tidak jelas. Syukurnya malam itu tidak ada satupun pelayan yang berkeliaran di dalam mansion. Seandainya saja ada, bisa dipastikan mereka akan menjadi pelampiasan kemarahan wanita cantik itu.
Sesampainya di kamar Sheza menghempaskan pintu dengan keras, kekesalannya masih mendominasi. Sheza membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia tampak termenung memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba saja kejadian di taman tadi melintas kembali di ingatannya. Sheza mengerutkan keningnya berusaha mengingat-ingat kembali bayangan yang muncul di otaknya. Ia terus berusaha mengingat sesuatu.
Saat itu bayangan demi bayangan muncul di dalam benaknya. Saat ia berayun di ayunan yang sama, Sheza merasa pernah mengalaminya, tapi dalam situasi dan waktu yang berbeda-beda. Bahkan Sheza ingat seorang anak laki-laki yang selalu setia menemaninya saat ia bermain di ayunan yang mirip dengan ayunan yang ia pakai tadi. Sheza ingat bagaimana ia bercanda dengan anak laki-laki itu ataupun saat anak-anak laki-laki itu mendorong ayunannya. Saat itu ia akan merasa sangat senang bahkan meminta agar anak laki-laki itu mendorongnya lebih kencang.
Wajah anak laki-laki itu masih samar-samar dalam bayangannya. Ia sendiri tidak mengingat siapa anak laki-laki itu, bahkan namanya sekalipun Sheza benar-benar tidak ingat.
Aku harus mengingat ini karena aku yakin ini penting sekali bisa jadi itu adalah ingatan masa kecil yang aku lupakan, batinnya.
__ADS_1
Sheza memegang kepala dengan kedua tangan
sambil memejamkan mata. Entah kenapa kepalanya mulai terasa sakit kembali, tapi ia masih berusaha mengingat, ada sesuatu yang mengganggunya.
Dalam kepala wanita cantik itu, semua ingatannya bercampur menjadi satu, ingatan yang berasal dari mimpi pada saat ia tidak sadar dan ingatan yang berasal dari dunia nyata tentang sesuatu yang ia lupakan. Itu membuatnya semakin bingung dan tidak bisa membedakannya.
Semakin berusaha mengingat, kepalanya semakin terasa sakit. Sheza nyaris menyerah. Rasanya ia tidak sanggup lagi menahan sakit kepalanya ini.
Tiba-tiba kejadian lain saat ia bersama Zafier melintas kembali di otaknya tanpa mampu ia kendalikan.
Sheza ingat, ia tersadar ketika merasakan tangannya bersentuhan dengan tangan seseorang pada besi ayunan. Karena itu ia menyadari ada kehadiran orang lain di belakangnya, yang sedang mendorong ayunannya. Ia mencoba mendongak untuk melihat siapa orang yang mendorong ayunannya.
Pada saat yang sama ternyata pria yang tidak lain adalah Tuan Muda Zafier juga tengah menunduk menatapnya, membuat jarak diantara wajah mereka menjadi dekat. Sheza merasa sedikit malu dengan situasi seperti itu, belum lagi dengan detak jantungnya yang menggila
Namun saat Sheza masih berusaha mencerna situasi yang terjadi, pria itu menatapnya dengan tatapan sendu. Hanya sedetik kemudian bibirnya bergerak untuk mengucapkan sesuatu. Sebelum pria itu memeluk tubuhnya, rasanya pria itu menyebut satu nama. Kalau ia tidak salah dengar. Tuan Muda Zafier memanggil nama "Gwen".
Nama yang sama. Nama yang muncul di dalam mimpinya pada saat ia tidak sadar. Entah kenapa nama itu memunculkan suatu perasaan familiar buatnya. Apa ia pernah mengenal gadis kecil yang bernama Gwen itu. Apa gadis kecil itu adalah bagian dari salah satu ingatan yang juga ia lupakan.
__ADS_1
Aaargh... Kenapa aku tidak ingat masa kecilku sama sekali? Ingatan terakhir yang bisa kuingat hanyalah saat-saat bersama keluarga Ayah Arshaka. Aku sama sekali tidak bisa mengingat kenangan-kenangan sebelumnya. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa mengingat kembali semua kenangan masa kecilku? Aku harus tahu siapa orangtua kandungku. Apakah aku mempunyai saudara atau keluarga lainnya? Ya Tuhan ... aku harus bagaimana?, Sheza nampak lelah dan frustasi.