My Little Gwen

My Little Gwen
Ruangan kerja Zafier


__ADS_3

Dr. Niko menatap punggung Zafier hingga menghilang dari pandangan. Sementara ia sendiri berjalan menuju lift. Begitu ia menekan tombol lift, pintu lift terbuka dan ia pun memasuki lift menuju ke lantai dasar di mana ruangan kerja Zafier berada. Ia nampak larut dengan pikirannya sendiri.


Lift dari lantai 3 itu berhenti di lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, dr. Niko keluar dengan langkah gontai. Ia berjalan menuju ruangan kerja Zafier. Ia sampai di depan sebuah pintu besar dengan desain antik, berwarna hitam. Pintu itu dilengkapi dengan smart door lock, kunci pintu otomatis menggunakan tekhnologi aplikasi. Perlahan pintu terbuka secara otomatis. Dr. Niko berjalan ke dalam. Dr. Niko memperhatikan sekelilingnya, ruangan kerja Zafier masih sama seperti dulu, tidak ada perubahan yang signifikan.


Satu set sofa mewah berwarna hitam yang tampak nyaman berada di dalam satu ruangan yang luasnya lebih dari satu petak rumah itu. Di satu pojok terdapat sebuah lemari yang dipenuhi oleh buku dan dokumen. Satu meja kerja mewah dengan desain antik berwarna hitam dan dilapisi kaca terletak kokoh di sudut yang lain. Satu set komputer mahal, telepon antik berwarna hitam, kursi putar mewah berwarna hitam, serta beberapa hiasan dinding dan juga tanaman melengkapi dekorasi ruangan itu. Benar-benar ruangan kerja dengan desain maskulin yang didominasi oleh warna-warna monokrom. Dr. Niko selalu mengagumi interior ruangan itu.


Ia lalu mendekat ke jendela kaca lebar, dengan tirai berwarna abu-abu yang terbuka. Kaca itu bekerja seperti cermin satu arah di mana orang yang berada di ruangan kerja Zafier akan bisa melihat dengan bebas pemandangan di luar sana, sementara orang di luar tidak akan bisa melihat ke dalam ruangan Zafier.


Dr. Niko terpana dengan pemandangan hutan yang dilihatnya, hutan itu terlihat dipelihara dan dirawat dengan baik, mungkin sejenis hutan buatan yang sengaja dibuat di lingkungan mansion bahkan di sana juga terdapat sungai buatan. Pemandangan itu benar-benar mengadopsi sebuah hutan hanya saja nampak teratur dan lebih terawat.


Dr. Niko tidak beranjak untuk waktu yang lama. Ia masih betah mengagumi pemandangan yang tersaji, awan biru yang cerah, daun-daun pohon yang nampak mulai menguning dan gugur. Burung-burung yang terbang ke sana kemari bermain dengan teman-temannya. Benar-benar pemandangan yang menyenangkan dan menyegarkan untuk mata. Pemandangan itu sedikit membuat dr. Niko melupakan persoalan yang sedang dihadapinya.


Dr. Niko menoleh ke sisi lain dari ruang kerja. Matanya tertumbuk pada sebuah pigura yang terletak di atas meja kerja. Ia merasa penasaran, kemudian berjalan menuju meja kerja itu. Ia tertarik pada pigura itu. Ia mengambilnya dan memperhatikan foto yang ada di dalamnya. Foto itu memperlihatkan dua orang anak kecil yang terlihat sangat dekat. Mereka tak lain adalah Zafier bersama Gwen kecil. Dr. Niko tahu betul bagaimana terobsesinya Zafier dengan cinta masa kecilnya itu, wanita yang masih terus dicarinya hingga sekarang namun belum diketahui di mana rimbanya.


Dr Niko tersenyum miris. Ia masih merasa beruntung menyukai seorang wanita yang benar-benar ada di hadapannya, berbeda sekali dengan Zafier yang mencintai seorang wanita yang ada di dalam bayang-bayangnya saja.


Dr. Niko meletakkan pigura itu dengan hati-hati, ia tidak ingin digantung Zafier hanya karena ia ketahuan mengusik pigura yang ada di sana.


Setelah pigura kembali ke tempatnya, dr. Niko berjalan menuju sofa yang tampak nyaman itu. Ia mendudukkan badannya di sofa, menyandarkan tubuhnya agar lebih rileks. Ia mengambil ponsel yang berada di sakunya, sesaat kemudian ia nampak sibuk dengan ponsel itu.

__ADS_1


Cukup lama dr. Niko larut dengan gawai itu, sampai kemudian ia merasakan kehadiran seseorang di pintu masuk yang ia lewati tadi. Ia menoleh ke arah pintu dan mendapati Zafier sudah berada di sana.


Rupanya Zafier telah menyelesaikan kegiatannya menemui sang daddy. Di belakangnya tampak Adolf mengikutinya dengan patuh.


Zafier kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan dr. Niko.


"Saya akan meminta pelayan mempersiapkan makanan dan minuman untuk untuk tuan", ujar Adolf hormat, memecah keheningan di ruangan itu.


Zafier melirik dr. Niko dan bertanya "Apa kau ingin makan Niko?".


Netra dr. Niko menatap Zafier, kemudian memasang wajah yang menyedihkan, "Aku sama sekali tidak memiliki minat untuk makan saat ini Zafier", jawabnya lemah. Zafier berdecak malas, dr. Niko terlalu berlebihan menurutnya.


"Baik Tuan Muda", ujar Adolf patuh. Ia membungkukkan badan sebelum kemudian berjalan ke luar ruangan.


Beberapa saat kemudian Adolf sudah kembali memasuki ruangan diikuti oleh dua orang pelayan yang membawa troli yang berisi minuman. Para pelayan menata Minuman itu di atas meja.


Dr. Niko menatap minuman-minuman itu. Keningnya berkerut. "Apa cuma ini minuman yang kalian miliki?", tanyanya putus asa.


"Bagaimana kalau kita pergi ke club saja untuk bersenang-senang", ide dr. Niki antusias.

__ADS_1


Zafier memutar bolanya malas. "Aku bisa saja membawamu ke club tapi apa kau yakin akan pergi bersamaku? karena aku tidak bisa menjamin bahwa kau akan keluar dari Club dengan selamat", ujar Zafier santai, padahal ucapannya lebih terdengar sebagai sebuah ancaman.


Dr. Niko agak merinding mendengar pertanyaan Zafier. Ia lupa siapa Zafier. Ia lupa jika kondisi saat ini sangat tidak terkendali, musuh Daddy Zaki dan Zafier sedang berkeliaran mengincar mereka di luar sana, mencari momen yang tepat untuk menghancurkannya.


"Aku pasti punya berbagai merek minuman di mansion ini, tapi bukankah kau seorang dokter. Bukankah biasanya seorang dokter sangat menjaga kesehatannya. Kau yakin ingin minum minuman beralkohol?" tanya Zafier memastikan. Selagi berbicara, tangan Zafier menyentuh segelas Espresso Coffee yang tadi disajikan oleh para pelayan. Ia menyesapnya perlahan.


Dr Niko meringis. "Persetan dengan kesehatan, Aku hanya ingin menenangkan diri dengan minuman", ujar dr. Niko frustasi.


Zafier menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Ayolah sebaiknya kau minum dulu minuman yang sudah disajikan ini, sebelum ia menjadi dingin. Aku akan meminta Paman Adolf untuk mengambil koleksi minuman terbaikku untukmu. Ini terlalu cepat bagi kita untuk minum minuman beralkohol". ujar Zafier. Ia melirik jam mewah yang melingkar di tangannya, saat ini jam di tangannya menunjukkan pukul lima sore.


Mau tak mau dr. Niko pun menyentuh segelas Americano Coffee dia menyesapnya perlahan, menikmati setiap rasa pahit itu, sepahit pengalaman yang ia alami saat ini.


"Paman Adolf, dua jam lagi bawakan koleksi minuman terbaikku ke sini", perintah Zafier.


"Baik Tuan Muda. Apakah masih ada yang tuan muda butuhkan?", tanya Adolf sopan.


"Tidak paman. Sekarang Paman bisa beristirahat. Aku akan memanggil Paman jika aku membutuhkan sesuatu", jawab Zafier.

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa tuan mudanya tidak lagi membutuhkan sesuatu, Adolf pun pamit undur diri, karena ia merasa kedua tuan muda itu memiliki urusan yang tidak bisa ia campuri. sebelum pergi, ia membungkukkan badannya dengan hormat pada Zafier.


__ADS_2