
Sheza masih menunggu di ruang rawat khusus Zaki. Sepanjang waktu ia mengajak Zaki bercerita dan berinteraksi, tanpa kenal lelah. Air mata Sheza tak henti-hentinya mengalir, menyebabkan mata indah itu lelah dan sembab.
Karen yang memperhatikan semua tingkah lalu Sheza sungguh tidak tega melihatnya. Sebenarnya Karen juga sangat sedih, apalagi ia sudah lebih dahulu mengenal Zaki, walau hubungan mereka hanya sebatas tuan dan anak buahnya. Tapi Zaki adalah orang yang sangat baik dan peduli pada semua anak buahnya. Hanya saja Zaki memang sangat jarang berinteraksi dengan mereka karena kesibukan yang sangat menyita semua waktunya.
Melihat Sheza kembali bersedih dan berderai air mata, Karen bergegas masuk ke ruang rawat Zaki. Ia menyentuh lembut pundak Sheza. "Sabar nona, tuan pasti akan baik-baik saja, tuan pasti akan pulih kembali", ujar Karen berusaha menghibur Sheza. Sheza mengangkat kepalanya, dua mata sembab itu
"Nona, mari beristirahat, nona harus makan dulu. Bukankah nona belum makan dari tadi siang?", ajak Karen.
"Nanti saja Karen, aku sedang tidak ingin makan. Aku hanya ingin menjaga daddy Zaki", ujar Sheza, matanya masih tetap terus menatap tubuh Zaki yang terbaring lemah.
"Nona, untuk menjaga tuan Zaki, nona butuh tenaga dan harus menjaga kesehatan juga dan untuk itu nona harus makan", ujar Karen membujuk Sheza. Sejenak Sheza menatap Karen, kemudian ia terdiam dan berpikir. Ia membenarkan apa yang dikatakan Karen.
Karen melihat pendirian Sheza mulai goyah. Ia berusaha terus membujuk Sheza.
"Mari nona, saya antar nona ke ruangan yang lain, bi Surti sudah menunggu di sana", ujar Karen. Sheza mengikuti langkah Karen. Mereka berdua menyusuri koridor rumah sakit hingga akhirnya mereka sampai pada ujung lorong. Sebuah ruangan VIP lainnya. Mereka melihat Evan, salah seorang anak buah Zaki sedang menunggu di depan pintu ruangan tersebut.
Sheza mengernyitkan keningnya, ia beralih menatap Karen, seolah mempertanyakan keberadaan Evan di sana. Karen memahaminya. "Paman Ganial memang sengaja memerintahkan pengawal agar memperketat pengawalan di sekitar rumah sakit ini nona. Paman khawatir terjadi sesuatu baik pada tuan Zaki maupun pada nona. Saat ini musuh sedang mengawasi kita dan berusaha mencari peluang menyerang kita", ujar Karen menjelaskan.
__ADS_1
Sheza hanya mengangguk paham.
Evan kemudian membuka pintu. Ia mempersilahkan mereka berdua masuk. "Saya akan berjaga di depan sana nona. Jika anda membutuhkan sesuatu atau terjadi sesuatu anda bisa memanggil saya", ucap Evan sebelum menunduk dan berlalu pergi.
Saat memasuki kamar, ia melihat bi Surti sudah berada di dalam ruangan itu. Bi Surti nampak mengeluarkan satu demi satu hidangan dan menatanya di atas meja. Sheza memilih duduk pada salah satu sofa di dekat jendela. Mata Sheza menatap sendu ke arah jendela. Tatapannya kosong.
"Makanlah nona, anda membutuhkan banyak tenaga agar bisa menjaga tuan", ujar bi Surti lembut mencoba mengalihkan perhatian Sheza.
"Benar nona, sebaiknya nona makan dulu, jangan sampai nona sakit, tuan Zaki pasti tidak akan senang melihatnya", Karen ikut membujuk.
Sheza mengalihkan pandangannya pada Karen dan bi Surti. Ia menghela nafasnya. Ia masih saja berusaha menolak untuk makan, tapi setelah Karen dan bi Surti memaksanya, Sheza hanya mengangguk, kemudian berjalan ke meja dimana bi Surti menata makanannya. Selanjutnya perlahan mulai mengisi perutnya
"Maafkan aku yang lalai ini tuan, aku yang bodoh ini. Saya mohon bertahanlah tuan, anda pasti kuat, anda pasti akan baik-baik saja. Saya akan seret pelakunya dan orang dibalik ini ke depan anda. Anda harus menyiksa pelakunya pelan-pelan, karena telah membuat tuan menderita seperti ini", Ganial mengepalkan tangannya. Giginya terkatup rapat.
Beberapa saat kemudian rombongan dokter dan perawat memasuki ruang perawatan Zaki untuk pengecekan rutin. Ganial bergegas keluar. Ia mengamati setiap pergerakan di dalam ruangan itu dari luar melalui dinding kaca.
Ganial menunggu pemeriksaan rutin itu dengan sabar. Hingga suara langkah kaki membuat Ganial menoleh ke arah sana. Ia melihat beberapa orang berjalan terburu-buru dari ujung lorong. Semua anak buah Zaki yang berada di lorong rumah sakit itu langsung siaga. Ganial terlihat waspada, ia bergegas memegang pistol yang berada di balik jaketnya. Tapi ia langsung lega ketika rombongan itu mendekat. Ternyata orang itu adalah Zafier. Ia hampir tidak mengenalinya setelah lima tahun tidak bertemu, kalau saja di sekeliling Zafier tidak ada Carlos, James dan pengawal lainnya.
__ADS_1
Ganial akan membungkukkan tubuhnya jika tidak ditahan Zafier. Zafier menjabat tangan Ganial. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Terlihat datar, orang lain tidak akan tahu apa yang dirasakan Zafier saat ini.
"Katakan bagaimana kondisi daddy, paman", ujar Zafier dingin.
Ganial menundukkan kepalanya, ia menghela nafas pelan, kemudian menjawab, "Luka tembak di bagian dada yang hampir mengenai jantung tuan", suara Ganial bergetar di akhir kalimat. " Dokter sudah mengupayakan yang terbaik tuan. Operasi pengangkatan proyektil peluru selama lebih dari tiga jam sudah dilakukan. Saat ini tuan Zaki juga sudah melewati masa kritis nya namun akibat kerusakan yang cukup serius pada organ dalamnya juga karena kekurangan banyak darah tuan Zaky belum bisa siuman untuk saat ini", lanjut Zafier lagi.
"Apa daddy koma, paman?", suara Zafier sedikit tercekat.
"Iya tuan, dokter belum bisa memastikan berapa lama tuan Zaki akan koma, bisa beberapa hari, minggu, ataupun bulan, semua itu tergantung pada keinginan tuan Zaki untuk hidup tuan", jawab Ganial lagi.
"Atur pertemuanku dengan kepala rumah sakit ini paman, aku yakin pasti paman Eka J. Pramono yang turun tangan langsung melakukan operasi daddy. Aku ingin berdiskusi banyak hal dengannya", perintah Zafier pada Ganial.
Begitu rombongan sang dokter keluar, Zafier bergegas masuk ke ruangan perawatan sang daddy.
Ganial hanya mengawasi dari luar saja.
Begitu masuk ruangan Zafier menatap tubuh sang daddy yang terbaring lemah di atas ranjang, berbagai alat nampak melekat di tubuh sang daddy. la menarik nafasnya dengan berat, wajahnya tiba-tiba terlihat keruh. Kesedihan, kekesalan, kemarahan bergabung menjadi satu.
__ADS_1
Zafier mendekati ranjang sang daddy
"Daddy ini aku Fier. Maafkan aku yang baru datang ke sini setelah sekian lama dad. Aku sangat menyesal bertemu daddy dalam keadaan daddy seperti ini, tolong aku daddy, jangan biarkan aku menanggung penyesalan ini seumur hidupku. Tolong bertahanlah dad. Aku yakin daddy kuat, daddy akan baik-baik saja. Aku berjanji akan mengikuti semua keinginan daddy", Zafier memohon.