
Matahari sudah tidak seterik siang, panasnya pun tidak lagi membakar kulit, cahayanya juga mulai meredup. Sore telah menjelang.
Di dalam ruangan kantornya yang elegan, sore itu Zafier masih tampak sibuk dengan aktivitasnya. Ia terlihat fokus memeriksa laporan demi laporan serta data yang berada di atas meja kerjanya. Ruben sendiri ikut membantunya.
Ia sepertinya berniat untuk fokus pada bisnisnya di negara kelahirannya ini, karena progres dan profit yang dihasilkan sangat baik dan menguntungkan. Hanya saja keputusannya masih menunggu hasil kerja tim auditnya. Ia bermaksud menugaskan Ruben dan tim untuk mengelola bisnisnya di kota J.
Tiba-tiba ponsel Zafier berdering. Ia masih terlihat fokus pada pekerjaannya. Tanpa mengalihkan pandangan matanya, ia meraih ponselnya yang terletak di meja samping tak jauh dari tempat ia duduk.
Zafier menatap layar ponselnya, sebuah panggilan telepon dari paman Ganial. Kening Zafier sedikit berkerut, tidak biasanya paman Ganial menghubunginya.
Zafier, "Halo paman Ganial? ".
Ganial, "Tuan muda Zafier.... ".
Ucapan Ganial terhenti, terdengar ia sedang menarik nafas dalam, suaranya menyiratkan nada cemas dan khawatir.
Jantung Zafier mulai berdetak kencang, firasat buruk menghantuinya.
Ganial, "Tuan muda Zafier, tuan besar Zaki tertembak saat dalam perjalanan dari bandara menuju Mansion di kota P, saat ini dalam keadaan kritis dan sedang menjalani operasi di rumah sakit kota P".
Ganial kembali menarik nafas dalam, suaranya terdengar bergetar.
Zavier terdiam, ia tidak mampu berkata-kata. Ia nyaris tidak percaya, karena beberapa jam yang lalu, ia baru saja berbicara dan bercanda dengan sang daddy melalui telepon. Wajah Zafier sempat berubah tetapi dengan cepat dia menyembunyikan semua emosinya. Pria itu terus memasang raut wajah dingin, tapi tatapannya juga tidak fokus dan terlihat tengah memikirkan sesuatu.Berbagai pikiran buruk terus memenuhi kepalanya.
__ADS_1
Ruben yang berada di ruangan Zafier, terlihat mengamati semua hal yang terjadi. Sesuatu yang gawat telah terjadi, ia menangkap perubahan wajah sang bos.
Ganial, "Jika Tuan akan ke kota P, saat ini Carlos sudah menunggu tuan di bandara, pesawat jet kita sudah siap di bandara"
Zafier, "Baik paman, tolong bantu aku menjaga daddy".
Zavier bergegas meraih kunci L. Veneno Roadsternya. Sebelum pergi, ia menatap Ruben.
"Ruben, kau kutugaskan mengawasi dan menyelesaikan semua urusan disini, aku akan berangkat ke kota P, daddy mengalami insiden penembakan di sana", ujar Zafier. Ia berusaha tenang.
Ruben terkejut, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mematuhi perintah dari bosnya, "Baik tuan", ujarnya patuh.
"Kau pastikan tim audit bekerja maksimal di sini jangan sampai ada satupun kendala atau kesalahan", perintah Zafier tegas.
"Maaf tuan, tapi siapa yang akan mendampingi dan melindungi tuan di sana, semua orang-orang kita berada di Belanda", tanya Ruben cemas.
Zafier menghela napasnya, sejenak ia menatap Ruben. Ia paham kekhawatiran asisten sekaligus orang kepercayaannya itu. Ruben memang tidak tahu bagaimana latar belakang Zafier di negara ini. Butuh banyak waktu untuk menjelaskan semuanya, pikir Zafier.
"Tidak usah kau pikirkan. Aku akan baik-baik saja, aku bisa menjaga diriku sendiri", ujar Zafier lagi memastikan.
"Baik tuan", ucap Ruben singkat.
Beberapa saat kemudian Zafier sudah membelah jalanan kota J menuju bandara.
__ADS_1
Di bandara telah bersiap jet pribadi milik sang daddy. Carlos bersama pilot James dan co pilot Jimy nampak menyambut Zafier. Mereka bergegas menaiki pesawat jet tersebut.
Suasana di dalam jet sangat mencekam, baik Zafier maupun Carlos terus menampilkan raut wajah penuh kekhawatiran. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Zafier memecah keheningan itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada daddy, apa kau tau Carlos", Zafier tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. Jika tidak bertanya sekarang maka dia tidak akan bisa tenang.
"Saya tidak tahu pasti tuan muda, saya hanya mendengar cerita dari paman Ganial. Menurut paman, tiba-tiba saja kendaraan yang membawa mereka dari bandara menuju mansion diserang di tengah jalan yang sepi. Kendaraan kami diserang tiba-tiba tuan muda dan hal itu tidak sempat diantisipasi oleh orang-orang kita, karena pada waktu itu tidak ada pengawalan dari orang-orang kita. Karena selama ini semua berjalan tenang dan aman. Tuan Zaki juga tidak pernah lagi memerintahkan pengawalan khusus dari orang-orang kita sejak tuan memutuskan untuk meninggalkan dunia hitam belasan tahun silam. Orang-orang kita terlambat untuk mengantisipasinya, ketika kita sampai di sana semua sudah terjadi, sepertinya mereka memang mengincar Tuan Zaki. Paman Ganial dan Miko sang sopir tidak bisa mengejar penembak jitu itu karena mereka mengutamakan untuk menyelamatkan tuan Zaki terlebih dahulu", Carlos menampilkan raut wajah rumit.
Kemudian melanjutkan, "Masalah ini terlalu besar dari yang kelihatan tuan. Saat ini tuan Zaki bukanlah pemimpin bisnis dunia hitam lagi, bahkan Itu sudah berlalu belasan tahun lamanya. Mungkin orang-orang yang berbisnis di dunia hitam sekarang sudah melupakan nama tuan".
"Apakah sudah diketahui siapa pelakunya? ", tanya Zafier dingin. Kebencian terlihat mendominasinya.
"Masih dalam penyelidikan tuan. Saat ini Juan sudah bergerak bersama orang-orang kita. Ada dua kemungkinan tuan, pertama mereka adalah lawan bisnis tuan Zaki hanya saja tuan Zaki bergerak di dalam bisnis bersih, rasanya tidak mungkin lawannya akan berani menggunakan cara sekotor ini.
Yang kedua, bisa jadi adalah lawan di bisnis hitam tuan Zaki dulu tapi rasanya hal tersebut sulit dimengerti alasannya, mengingat bahwa tuan Zaki sudah tidak lagi menggeluti bisnis dunia hitam sejak belasan tahun lalu. Saat ini orang-orang hanya tahu bahwa bisnis hitam tuan Zaki sudah tidak ada lagi. Juan pun menjalankan bisnis itu dengan nama samaran yang berbeda, tapi jika ini benar adalah dari orang-orang dunia hitam, maka perang antar orang-orang yang bergerak di bisnis hitam akan terjadi karena mereka telah berani mengusik tuan Zaki. Saya yakin Juan tidak akan tinggal diam", jelas Carlos panjang lebar.
Carlos diam-diam melirik Zafier dari samping. Wajah pria itu tidak bisa ditebak, hanya menampilkan raut dingin, membuat orang tidak bisa menerka isi pikirannya.
Sebenarnya di balik diamnya Zafier, tersimpan banyak kemarahan dan kekhawatiran yang tidak bisa diungkapkan.
Meski hubungan Zafier dengan sang daddy terlihat tidak terlalu dekat, tapi Zafier sangat menyayangi sang dady. Kini orang yang disayanginya tengah berada dalam keadaan antara hidup dan mati, tidak mungkin Zafier akan tenang-tenang saja. Ada penyesalan terselip di hati Zafier, selama ini ia terkesan tidak peduli pada sang daddy, ia jarang menghubungi sang daddy. Sudah lima tahun ia tidak menginjakkan kaki di negara kelahirannya, bahkan untuk menemui sang daddy di sini. Tuhan, kumohon jangan ambil daddy, biarkan ia kembali pulih, izinkan aku bertemu dengannya, merawat dan menunjukkan rasa sayangku padanya, aku janji akan mengikuti apapun yang diinginkan daddy, aku ingin berbakti padanya, doa Zafier dalam hati.
__ADS_1