My Little Gwen

My Little Gwen
Reunian


__ADS_3

Malam terus beranjak. Di kafe rumah sakit dimana Zaki dirawat, nampak tiga orang anak manusia sedang asyik bercengkrama satu sama lain. Mereka seolah sedang melakukan reuni setelah sekian lama tidak bertemu.


Sheza, Carlos dan Karen makan dengan lahap. Sheza merasa seolah menemukan kembali sahabat-sahabatnya. Momen itu mengingatkan dirinya kembali pada saat-saat mereka bertiga masih bekerja di perusahaan Zaki. Bagaimana mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama saling berbincang dan bercanda layaknya sahabat dekat. Walaupun kemudian tanpa Sheza sadari, dari waktu ke waktu tumbuh perasaan berbeda pada diri Carlos terhadap Sheza. Perasaan yang Carlos coba untuk membunuhnya, tapi malah semakin bersemi setiap waktunya. Carlos tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Binar matanya terlihat jelas. Matanya yang hitam tajam hanya tertuju pada Sheza. Rindu itu terobati.


Semua tingkah Carlos tidak lepas dari perhatian Karen. Beberapa kali Karen menggelengkan kepala, takjub dengan tingkah sang bos yang biasanya dingin dan tegas bahkan kadang terkesan kejam saat menjalankan tugas atau saat sedang berada di markas, kini berubah menjadi remaja yang sedang jatuh cinta. Tapi sayangnya, cintanya jatuh pada orang yang tidak tepat. Sedetik kemudian pandangan Karen berubah menjadi pandangan iba, kasihan sekali nasibmu bos, gumam Karen prihatin.


"Oh ya Carlos, sampai saat ini aku masih penasaran pada penyebab yang membuatmu keluar dari perusahaan waktu itu. Apa kau dihukum karena sudah memberikan aku akses sehingga aku mengetahui nomor kontak kakakku Seif", tanya Sheza. Ia memiringkan kepalanya, menatap Carlos intens.


Seketika Carlos terpana melihat wanita yang berada tepat di depannya. Lamunannya buyar. Saat ia menatap Sheza, Sheza mengembangkan senyumnya yang menawan, mata berwarna hazel itu begitu tajam menghunus jantung Carlos hingga kembali berdetak cepat, oksigen serasa lenyap dari paru-parunya wajah Carlos memerah melihatnya. Oh sial....cantik sekali kamu, Sheza, batin Carlos. Ia tiba-tiba gugup. "Egh... Ehmm... Aku..."


Carlos tak mampu meneruskan perkataannya.


"Anda baik-baik saja bos? Kenapa wajah anda memerah?", tanya Karen tiba-tiba tepat di telinga Carlos. Alhasil Carlos terlonjak kaget. Hampir saja ia terjatuh dari kursinya. Carlos mendelik marah menatap Karen. Rasanya ingin sekali menendang Karen ke kutub utara, biar dimakan beruang kutub, pikirnya.


Carlos makin panik dan salah tingkah,mana kala Sheza ikut menatap wajahnya dan memperhatikan wajahnya dari dekat.


"Eh iya Carl, wajahmu kenapa? Kau demam?", tanya Sheza seraya menempelkan punggung tangannya ke kening Carlos. Seketika Carlos panas dingin. Ia mengalihkan pandangan matanya dari tatapan Sheza, seraya memegang dadanya, seolah ingin meredakan debaran di jantungnya yang terasa semakin menyentak kuat.

__ADS_1


"Egh... Ehmm... A-aku..aku tidak apa-apa, di sini hanya panas", ujar Carlos mencari alasan. Keringat terasa mengalir deras membasahi punggungnya.


"Kau tahu Carlos, beberapa kali aku menanyakan hal itu pada Karen tapi mahluk satu itu tetap bungkam dan tutup mulut. Aku merasa ia takut padamu. Untuk itu aku ingin menanyakan alasannya langsung padamu Carl", jelas Sheza.


Carlos tertegun, ia bingung harus menjawab apa. Karena semua yang dikatakan Sheza itu benar adanya. Namun ia rela dihukum asalkan ia bisa membuat Sheza bahagia. Terkadang Carlos bingung dengan apa yang ia rasakan. Di samping Sheza, seorang Carlos yang dulu terkenal arogan, sombong sangat kejam dan sadis, tidak punya perasaan sama sekali. Orang yang selalu bertindak dengan logika dan tanpa perasaan, yang selalu menjalankan tugas dengan loyal tanpa memandang hal lain yang dapat mengganggu tugasnya, yang selalu mengabaikan hal-hal tidak penting selain tugas utamanya ,tiba-tiba saja ia menjadi seorang pria yang lemah di hadapan seorang Sheza. Ia pastinya akan sgt malu seandainya saja James dan anak buahnya yang lain mengetahui tingkahnya ini. Carlos memijat kepalanya sendiri, frustasi.


"Carl jangan mulai lagi, jawab pertanyaanku", perintah Sheza, ia kembali menatap mata Carlos lembut.


Ya tuhan, Nona Sheza jangan seperti itu, aku tidak kuat dengan tatapan mata indahmu itu, batin Carlos


"Tidak ada apa-apa nona", Carlos berusaha menjawab.


"Aiiiin kau lupa apa yang aku bilang tadi, panggil aku Sheza", ujar Susan menekankan.


"Oke, oke baik Sheza. Pada waktu itu saya pergi meninggalkan perusahaan karena memang saya ditugaskan oleh tuan Zaki ke perusahaan yang lain di luar daerah untuk mengurus bisnis tuan Zaki. Saya sempat mengikuti tuan Zaki beberapa kali keluar daerah bahkan ke luar negeri", jelas Carlos. Ia berharap jawabannya itu akan cukup memuaskan Sheza. Ia memang harus membohongi Sheza. Ia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa ia kemudian ditarik dari perusahaan Tuan Zaki di kota P. Ia memang mendapatkan hukuman dari paman Ganial karena telah lancang membantu Sheza mencari informasi tentang Seif sang kakak. Carlos sempat harus menjalankan hukuman di barak. Sampai kemudian tuan Zaki membawanya untuk membantu bisnisnya di daerah lain.


Waktu itu ia memang jujur kepada paman Ganial tentang perasaannya yang mulai berubah terhadap Sheza. Ia memang memilih untuk menjauhi Sheza karena tidak ingin perasaannya menjadi semakin sulit untuk ditangani. Tapi siapa sangka akhirnya ia harus kembali bertemu Sheza kembali. Sepertinya waktu-waktu ke depan nanti akan cukup berat dilalui Carlos.

__ADS_1


Sheza terdiam mendengar cerita Carlos. Keningnya sedikit berkerut. Tapi kemudian ia juga merasa lega karena selama ini ternyata pikirannya salah. Sebelumnya ia merasa dirinya lah yang membuat Carlos akhirnya angkat kaki dari perusahaan Zaki di kota P. Ia begitu kuatir kalau Carlos telah mendapatkan hukuman karena membantunya.


Setelah mendengar cerita Carlos, perasaan Sheza sedikit lebih baik.


Tiba-tiba Sheza tersentak, sesaat kemudian ia melirik jam tangannya. Ia terkejut, karena ternyata mereka sudah cukup lama berada di cafe ini. Sontak Sheza bergegas berdiri dari kursinya. Memberi kode dengan tatapan matanya, diiringi kepergian Karen ke kasir cafe rumah sakit tersebut.


Setelah Kare menyelesaikan semua bil, mereka bertiga kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit untuk kembali ke ruangan di mana Zaki dirawat.


Wajah Sheza sedikit panik karena merasa telah terlalu lama meninggalkan Zaki. Carlos menatap Sheza khawatir.


"Ada apa She, wajahmu nampak panik? ", tanya Carlos tanpa sadar. Ia kembali pada mode keakrabannya pada saat mereka masih sama-sama bekerja dulu.


Sejenak Sheza menatap Carlos, Sheza tersenyum, rasanya sudah sangat lama ia tidak mendengar panggilan akrab seperti ini dari Carlos. Ia merasa nyaman, panggilan seorang sahabat yang cukup menenangkan buatnya.


"Aku tidak apa-apa Carl, cuma merasa sedikit cemas karena terlalu lama meninggalkan daddy Zaki. By the way, aku senang kau sudah ingat kembali panggilan akrabmu yang dulu", ujar Sheza. Ia kembali menatap. Carlos. Carlos sedikit tersentak, salah tingkah ditatap seperti itu oleh Sheza. Karen yang memahami situasi mencoba mencairkan suasana. "Tenang nona Sheza, tuan Zaki tadi sedang bersama tuan muda, saya yakin tuan Zaki baik-baik saja".


"Iya Karen, semoga saja", ujar Sheza, ia menghela nafas lega.

__ADS_1


__ADS_2