
Begitu keluar dari lobby hotel Carlos dan Karen berjalan menuju lokasi parkir kendaraan. Sesampainya di lokasi, mereka berjalan menuju arah yang berbeda. Carlos berjalan menuju mobilnya sendiri, sementara Karen berjalan menuju lokasi dimana mobilnya terparkir.
Karen masuk ke dalam mobil itu dan duduk di belakang kemudi. Ia mulai menghidupkan mesin mobil. Setelah beberapa saat Karen pun keluar dari mobil dengan membiarkan mesin mobil tetap hidup. Selesai dengan urusannya, Karen kemudian keluar dari dalam mobil itu, dengan langkah lebar ia berjalan cepat menuju lokasi di mana Carlos memarkirkan mobilnya.
Karen memasuki mobil Carlos. Mereka berdua mengawasi mobil yang Karen tinggalkan dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Bos apa para penguntit itu masih berada di depan sana?, tanya Karen penasaran. Matanya tetap awas memperhatikan situasi di sekelilingnya
"Ya ... menurut informasi dari para pengawal bayangan, dari tadi mereka sudah standby di sana, bahkan mereka sudah memanggil bala bantuan. Menurut perkiraan juan, sepertinya mereka memiliki rencana tersendiri untuk menculik nona Sheza . Pihak musuh sedang berusaha menculik nona Sheza untuk kemudian melakukan pertukaran dengan orang-orang mereka yang berada dalam tawanan kita", ujar Carlos dingin, kilatan emosi nampak jelas di matanya. Wajahnya menggelap dengan sorot mata yang tajam.
Seketika rahangnya mengeras dengan guratan urat nadi yang nampak menonjol. Kepalan tangannya mengerat. "Daftar manusia pengecut, mereka malah melibatkan perempuan dalam urusan ini", gumam Carlos kesal.
Perhatian Carlos dan Karen teralihkan ketika mereka melihat seseorang berjalan menuju lokasi di mana mobil yang dibawa Karen berada.
Karen menyadari bahwa sosok adalah seorang wanita. Ia yakin itu adalah Sheza. Mereka berdua masih terus mengawasi Sheza yang kemudian masuk ke dalam mobil tersebut. Karen merasa sedikit bersalah karena ia tidak berpamitan terlebih dahulu dengan nonanya itu. Pasti saat ini Sheza tengah kebingungan.
Maafkan aku nona, gumamnya. Karen bisa membayangkan betapa Sheza akan mengamuk jika mengetahui bahwa Karen sama sekali tidak berbagi informasi terkait kondisi saat ini pada Sheza.
"Bos jika nanti nona Sheza marah padaku, maka aku hanya akan mengatakan bahwa semuanya adalah atas perintahmu bos", ujar Karen santai. Matanya masih terus mengawasi sheza yang sudah berada di dalam mobil.
Mata Carlos sontak mendelik begitu mendengar ucapan Karen.
"Jangan coba-coba memfitnah aku Karen. Dari awal aku memberi instruksi melalui pesan-pesan kepadamu, cobalah kau baca kembali. Aku sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa kau harus merahasiakan kondisi ini dari nona Sheza", elak Carlos acuh. Netranya menatap Karen tajam.
__ADS_1
"Tapi bos ... kau sendiri kan tahu bagaimana mengerikannya nona Sheza ketika ia marah. Aku pasti akan dijadikan samsak latihannya bos", Karen meringis membayangkan kemarahan Sheza.
"Mana aku tahu Karen, itu adalah resikomu sendiri", jawab Carlos datar
Karen menghembuskan nafasnya dengan kasar, satu tangannya memijat dahi, frustasi.
Sementara Carlos masih dalam ekspresi datarnya, tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Dengan tenang ia kembali melanjutkan aktivitasnya mengawasi kondisi di sekitarnya. Ia bersikap acuh, mengabaikan Karen yang terlihat begitu kesal.
"Aiiish kau sangat tega bos", umpat Karen kesal.
Tiba-tiba Karen dan Carlis melihat seseorang yang mengendap-ngendap memasuki mobil Karen tadi. Pada mulanya kening Karen sedikit berkerut. Ia sedikit bingung menebak siapa orang tersebut sampai kemudian dia sadar bahwa itu adalah tuan mudanya sendiri
"Bos, kenapa tuan muda Zafier jadi mirip seorang maling", tanya Karen polos. Matanya masih awas memperhatikan situasi di depannya
Mata Carlos tetap fokus melihat tuan mudanya yang memasuki mobil di mana Shezq berada, ada sedikit perasaan tidak ikhlas yang dirasakannya. Carlos memejamkan matanya, ia mengepalkan tangannya, kesal dan geram berpadu di dadanya, serasa ribuan jarum yang menghujamnya, terasa sakit hingga terasa berat saat hendak mengambil nafas. Carlos menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan, mencoba mendengalikan diri. Sesaat kemudian Carloz sudah bisa menguasai diri. Fokus Carles ... fokus, tetap profeional. Ingat siapa dirimu dan siapa nona Sheza, kalian seperti langit dan bumi. Mengagumi bukan berarti harus memiliki, batin Carlos.
"Bos, apa memang tidak ada cara lain selain melibatkan nona untuk menjebak orang-orang itu", tanya Karen, wajahnya terlihat khawatir. Carlos tersentak dari pikirannya, begitu mendengar pertanyaan Karen.
Netranya beralih menatap Karin.
"Kau tenang saja, nona Sheza akan baik-baik saja. Bukannya kau sudah sering terlibat dalam setiap misi kita. Kau pasti tahu bagaimana cara kerja kelompok kita", Carlos balik bertanya. Pernyataan itu, sekaligus untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena ... jangan tanya betapa khawatir dirinya akan keselamatan Sheza.
"Iya aku tahu bos hanya saja ... melibatkan seseorang yang pentinga ... aku masih merasa sedikit khawatir bos", keluh Karen pelan. Matanya menatap sendu sang nona yang berada di dalam mobil di depannya
__ADS_1
Keren dan Carlos masih terus menunggu pergerakan di depan mereka. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam mobil itu ketika Zafier memasukinya. Karen hanya bisa berdoa "Semoga tidak terjadi pertumpahan darah di sana".
Doa Karen itu sukses mendapatkan jitakkan di kepalanya oleh Carlos. Karen meringis mengusap-usap kepalanya. Detik berikutnya Karen menutup mulutnya rapatt-rapat, Carlos pun merasa sedikit lebih tenang.
Beberapa saat kemudian. ..
Drrt!
Ponsel Charles bergetar. Dengan sigap ia meraih ponsel yang berada di dalam sakunya. Ia dapat melihat nama tuan mudanya tertera dengan jelas di layar ponsel, tuan muda Zafier.
Carlos menggeser tanda hijau dari panggilan itu dan segera menjawab.
"Hallo tuan muda!", sapa Carlos setelah panggilan tersebut tersambung
"Kau sudah siap? kita mulai sekarang!! Ujar Zafier, yang lebih mirip sebagai sebuah perintah, singkat dan padat.
"Siap tuan muda", ujar Carlos siaga.
Carlos kemudian keluar dari mobilnya. Ia mengambil tas berisi semua perlengkapan yang ia bawa. Selanjutnya kunci mobil ia lemparkan pada seseorang yang tiba-tiba saja keluar dari salah satu sudut parkiran. Pria tinggi besar dengan pakaian seragam layaknya seorang bodyguard, menggunakan emblem khusus, memasuki mobil di mana Karen berada. Pria itu dengan sigap menangkap kunci itu. Mengambil perlengkapan lainnya di kursi belakang dan memindahkannya ke kursi bagian depan. Ia kemudian masuk ke bagian depan mobil, tepat di sebelah Karen. Ia mengambil alih kemudi. Ia memasukkan kunci kontak dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. Karen hanya memperhatikan pria berwajah datar di sampingnya itu. Pria yang ditatap Karen nampak acuh dan tanpa ekspresi.
"Aih kau lagi Dante, si wajah tanpa ekspresi", gumam Karen dengan nada malas, kemudian mengalihkan pandangannya ke perlengkapan yang dipindahkan Dante tadi ke depan. Meski cuma sekedar gumaman namun terdengar cukup jelas, di telinga pria di sebelahnya. Pria itu masih tampak acuh dan datar. Ia tetap fokus pada kemudi mobil.
Karen membuka tas berisi perlengkapan tersebut. Di dalamnya Karen menemukan berbagai senjata. Ia memilih dua senjata untuk persiapan. Ia sadar musuh kali ini bukanlah penguntit biasa, mereka adalah orang-orang profesional yang memang sudah biasa berkecimpung di dunia bawah, dunia gelap yang terkait dengan bisnis dan kegiatan ilegal.
__ADS_1