My Little Gwen

My Little Gwen
Air mata Zaki


__ADS_3

Setelah Sheza dan Karen menyelesaikan sarapannya, mereka melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Karen tampak keluar dari mansion, sementara Sheza berjalan menuju ruang keluarga.


Sheza meminta seorang pelayan untuk memanggilkan Paman Adolf, sementara ia menunggu di ruang keluarga.


Tak Berapa lama nampak Adolf datang mendekat ke arah Sheza.


"Selamat pagi Nona. Adakah yang bisa saya lakukan untuk Nona?", tanya Adolf sopan.


"Paman apakah Daddy Zaki bisa dikunjungi hari ini? Aku ingin melihat Daddy Zaki. Jam berapa aku bisa ke ruangan Daddy Zaki, Paman?", tanya Sheza antusias.


"Saat ini bisa Nona Sheza. Saya akan mengantarkan Nona menuju ruangan tuan besar Zaki", jawab Adolf lagi. Sheza sedikit terkejut dengan jawaban Adolf, Namun demikian, ia terlihat senang karena diizinkan untuk langsung bertemu dengan Zaki. Sheza tampak sangat bersemangat.


"Mari silakan Nona!", Adolf mempersilahkan Sheza untuk jalan terlebih dahulu, sementara ia akan mengikuti siswa di belakang. Mereka berdua terus berjalan menuju lift. Lift terbuka secara otomatis setelah mereka menekan tombol. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai tiga di mana Zaki dirawat. Selama berada dalam lift Sheza dan Adolf hanya diam saja, tidak ada percakapan apapun antara keduanya.


Ting!


Beberapa saat kemudian mereka sampai di lantai tiga.


Pintu lift terbuka. Adolf mempersilahkan Sheza untuk keluar terlebih dahulu sebelum kemudian ia sendiri keluar dari dalam lift. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar perawatan Zaki.


Adolf membukakan pintu untuk ruang perawatan Zaki, kemudian mengantarkan Sheza menuju ruang dimana tepatnya Zaki dirawat. Setelah mempersilahkan Sheza masuk ke dalam ruangan, Adolf pun pamit undur diri pada Sheza.


Sheza berjalan sangat perlahan seolah dia khawatir langkah kakinya akan mengganggu Zaki yang sedang berada dalam keadaan koma. Sheza duduk di atas kursi yang memang tersedia di samping brankar Zaki.

__ADS_1


Ia mengusap punggung tangan Zaki yang tidak terdapat infus, ia menatap wajah itu sendu. kesedihan terlihat jelas pada wajah Sheza.


"Apa kabar Daddy? Aku berharap semoga Daddy sehat-sehat selalu. Kenapa Daddy masih Betah bermain di alam mimpi. Ayo bangunlah Dad! Banyak rencana yang akan kita lakukan berdua. Banyak hal yang masih menjadi teka-teki buatku. Tapi semua itu sudah tidak penting lagi artinya buatku yang aku inginkan hanya Daddy dapat kembali pulih. Daddy tahu aku baru saja merasakan kembali bagaimana rasanya memiliki seorang ayah, namun peristiwa ini terjadi. Aku tidak tahu lagi bagaimana menjalani hidupku Dad. Aku merasa seperti kehilangan pegangan. Aku merasa sendirian, karena walaupun kedekatan kita hanya sebentar, tapi itu benar-benar membangun sebuah kedekatan yang istimewa layaknya seorang ayah dan anak. Setelah sekian lama aku kehilangan Ayah Arshaka apalagi lebih mengatakan kalau Ayah harus Saka bukanlah Ayah kandungku. Meskipun aku tidak akan pernah bertemu dengan ayah kandungku paling tidak aku tahu siapa ayah kandungku dari daddy".


Sheza terus saja menceritakan berbagai hal menyenangkan di saat mereka menghabiskan waktu berdua, pada saat Zaki masih dalam kondisi sehat.


Sheza bercerita dengan ceria, ia ingin aura keceriaan itu juga akan melingkupi Zaki yang menjadi teman berceritanya.


Sampai kemudian Sheza melihat sesuatu yang aneh, netranya tidak sengaja menangkap air mata yang keluar dari sudut mata Zaki. Sheza terkejut, ia memperhatikannya lebih dekat lagi. Ternyata memang air mata mengalir begitu saja dari sudut mata zaki. Meski terkejut, ia berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak berteriak memanggil dokter. Perlahan ia berdiri, kemudian keluar dari ruangan di mana Zaki dirawat.


Ia kemudian pergi ke ruangan dokter. Di sana ia langsung masuk ke ruangan yang terpampang nama dr. Niko di pintunya.


"Ada ap... ",


"Ayolah dr. Niko, mari ikut dulu denganku sebentar saja", ujar Sheza seraya menarik tangan dr. Niko dengan tergesa-gesa.


Dr Niko kemudian berdiri dari kursi kerjanya mengikuti Sheza. Ia tidak banyak berkomentar, ia hanya menatap Sheza penuh arti, wajahnya sedikit terasa panas. Jika diperhatikan dengan seksama, maka akan tampak perubahan rona pada wajah dokter tampan itu.


Dr. Niko memilih untuk mengikuti Sheza ke arah yang Sheza inginkan, karena melihat wajah Sheza yang nampak shock. Setelah ia melihat Sheza sedikit lebih tenang, ia mulai berbicara pada Sheza.


"Sebenarnya ada apa Nona Sheza? Anda kelihatan sedikit shock", tanya Dr. Niko lembut.


Sheza yang tanpa sadar sedari tadi menarik tangan dr. Niko, melirik dr. Niko, kemudian menyadari sesuatu. Ia segera melepaskan tangan dr Niko yang sedari tadi ditariknya.

__ADS_1


Sheza menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri.


"Tadi aku sedang menceritakan berbagai hal pada Daddy Zaki. Setelah beberapa lama aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku memperhatikan Daddy sampai aku melihat sudut mata Daddy mengeluarkan air mata. Aku ingin anda melihatnya dr. Niko. Ada apa dengan Daddy? Pertanda apakah itu?", ujar Sheza cemas.


Dr. Niko nampak terkejut mendengar ucapan Sheza, keningnya sedikit berkerut penuh tanda tanya.


"Baiklah Nona Sheza. Saya perlu melihat kondisi Daddy Zaki terlebih dahulu. Kami akan melakukan observasi lebih jauh. Semoga ini adalah pertanda baik", ujar dr. Niko penuh harap.


Beberapa saat kemudian dr. Niko meraih ponsel di saku bajunya. Ia menghubungi satu nomor dan meminta kehadirannya di ruangan Zaki.


Sheza yang paham akan situasi kemudian hanya menunggu di luar ruang rawatan Zaki. Ia hanya memperhatikan saja ketika dr. Niko dan beberapa dokter yang memasuki ruangan Zaki untuk memeriksanya.


Sheza menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas. Cukup lama ia berada di sana dengan gelisah. Sampai kemudian Paman Adolf, Paman Daniel dan Karen juga sampai di tempat tersebut


Karen mendekati sang nona, "Nona sebaiknya istirahat saja di kamar Nona. Mereka sedang melakukan pemeriksaan yang akan memakan waktu cukup lama".


"Tapi aku ingin berada di sini saja Karen. Aku ingin mendengar bagaimana kabar jadi Zaki setelah mereka menyelesaikan pemeriksaan nanti", ujar Sheza penuh harap.


Tak Berapa lama kemudian Zafier juga sampai di tempat yang sama dengan tergesa-gesa. Sebelum ia memasuki ruang rawat sang Daddy, netranya menatap Sheza yang ada di ruangan itu, dengan tatapan rumit. Sheza secara reflek juga menetap Zafier yang masuk secara tiba-tiba. Sejenak netra mereka bertatapan.


Sheza sebenarnya ingin sekali memasuki ruangan rawat Zaki, namun ia sadar diri jika ia bukanlah siapa-siapa.


Karen melihat kepada sang Nona dan memahami kegelisahan sang Nona saat ini. Ia kembali membujuk. "Ayolah Nona! Sebaiknya Nona istirahat saja di bawah. Aku akan menemani Nona. Kita tunggu saja informasinya nanti. Aku yakin mereka pasti mengabari Nona, bagaimana kondisi Tuan Besar Zaki. Sheza menatap Karen sejenak. Apa yang dikatakan Karen ada benarnya juga , batinnya. Akhirnya dengan berat hati, ia melangkahkan kaki keluar diikuti oleh Karen di belakangnya.

__ADS_1


Mereka terus berjalan menuju lift. Setelah menekan tombol lift, mereka pun masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai satu. Begitu sampai di lantai dasar Sheza langsung berjalan ke arah kamarnya diikuti oleh Karen. Ia memutuskan untuk menunggu informasi mengenai kondisi Zaki di dalam kamar saja. Sheza memposisikan dirinya untuk duduk di salah satu kursi santai yang terdapat di balkon kamarnya. Di sana ia menunggu bersama dengan Karen. Sheza nampak gelisah, berkali-kali ia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


__ADS_2