
Sudut mata Zafier masih tak berkedip memperhatikan Sheza. Ia tahu pasti apa yang ada di otak Sheza saat ini. Besar kemungkinan terkait keberadaannya di kendaraan yang sama dengan Sheza, tapi entah kenapa Zafier sedang malas untuk menjelaskan. Ia sangat menikmati wajah kebingungan Sheza. Oleh sebab itu ia hanya diam saja. Atau mungkin saat ini ia sedang menunggu mata hazel itu memohon padanya dan bibir tipis itu mengajukan pertanyaan langsung pada dirinya.
Setelah cukup lama terpesona dengan Sheza, Zafier ingat sesuatu. Ia kembali melirik ponsel yang berada di tangannya, mengetik sesuatu...
Zafier : Laksanakan rencana!
Sebaris pesan ia kirimkan untuk Carlos. Sebenarnya ia merasa masih ingin menikmati kebersamaannya dengan Sheza, tapi ia sadar misi harus dijalankan.
Tidak sampai dua detik, sebuah pesan baru masuk...
Ting !!
Zafier melirik layar ponselnya.
Carlos : Siap tuan muda!
Zafier bersandar pada sandaran kursi, berusaha membuat tubuhnya lebih rileks, peperangan akan dimulai.
Sementara itu...
__ADS_1
Sheza mulai bisa menenangkan diri. Ia bertekad akan menanyakan sendiri maksud keberadaan Zafier saat ini di mobilnya. Namun ia masih bingung memikirkan bagaimana caranya untuk merangkai pertanyaan yang tidak akan membuat pria tampan di sebelahnya tersinggung karena walau bagaimanapun sosok di sebelahnya saat ini adalah bos di perusahaannya.
Ceklek!!
Lamunan Sheza seketika buyar.
Ia mendengar bunyi pintu belakang kendaraan yang ditumpanginya dibuka. Reflek ia menoleh ke arah belakang! Sejenak dia tertegun begitu netranya mendapati seseorang yang tiba-tiba memasuki kendaraannya dengan membawa tas besar. Kening Sheza berkerut, masih berusaha menebak sosok pria yang memasuki kendaraannya itu. Pria itu masih menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian ia mengambil posisi duduk, kepalanya sedikit tegak, menatap tepat ke depan, ke arah Sheza, netranya menatap Sheza lembut, ia tersenyum penuh makna.
"Halo nona", sapanya hormat. Matanya berbinar menatap sosok cantik di depannya. Sosok yang selalu mempesonanya.
Mata Sheza nyaris melotot.
Carlos menyentuh bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia cukup terkejut melihat respon Sheza.
Sheza tidak menyadari wajah sosok tampan disebelahnya. Tatapan pria bernetra abu-abu itu terlihat tajam, dingin dan juga begitu datar. Walaupun ekspresinya dingin tetapi sorot mata abu-abu itu secara terang-terangan menunjukkan kesinisan karena rasa tidak suka melihat interaksi Sheza dan Carlos.
"Kau sudah siap Carlos?", potong Zafier dingin. Ia nampak tenang dengan wajah datarnya, sekilas tidak ada ekspresi yang bisa terbaca di sana. Zafier sungguh hebat menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan.
"Siap tuan muda?", jawab Carlos bersemangat. Semangatnya semakin terpacu saat menatap sosok cantik di depannya.
__ADS_1
Sheza merasa sedikit bingung dengan interaksi kedua orang itu. Ia masih bisa menangkap ketegangan di wajah Carlos. Ada sesuatu yang tidak beres, batin Sheza. Instingnya memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang tengah mengancam. Sheza menatap Carlos dengan netra memohon, the puppy eyes, sukses meruntuhkan pertahanan Carlos. Harapan untuk mendapatkan informasi akan situasi yang sedikit janggal ini semakin kuat. Ia yakin semua jawaban akan didapatkannya dari Carlos.
"Saya harap nona bisa tenang, kita akan sedikit bermain-main, ada yang sedang menargetkan nona saat ini. Nona hanya perlu meyakini bahwa nona akan selamat", Carlos berusaha menjelaskan dengan tenang, senyum senantiasa menghias wajah tampannya. Dia merasa kasihan dengan raut kebingungan di wajah cantik itu.
Penjelasan Carlos sontak membuat Sheza kembali tertegun. Tiba-tiba ia ingat kejadian yang menimpa daddy Zaki. Apakah saat ini musuh daddy Zaki telah menargetkan dirinya, batin Sheza. Meski merasa khawatir, tapi saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengandalkan Carlos dan tuan muda Zafier untuk mengeluarkannya dari kondisi menegangkan saat ini.
Sheza tersenyum penuh arti. "Aku percaya padamu Carlos", ujarnya lembut. Carlos tertegun, netranya menatap lekat netra hazel Sheza. Carlos seolah tersihir. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Carlos belum menyadari netra Zafier yang menatap lekat interaksi mereka berdua. Bahkan Zafier sudah menatap tajam ke arah Carlos. Ia mengeluarkan aura membunuh, tatapan dingin dan mematikan itu membuat punggung Carlos mendadak gemetar.
Sejurus kemudian Carlos merasa udara di sekitarnya menjadi sesak, tengkuknya terasa dingin. Tanpa sadar matanya menatap kaca spion depan, ia bisa menangkap tatapan tajam dari sang tuan muda yang tertuju tepat ke dirinya. Reflek Carlos menunduk. Tidak kuat menghadapi tatapan penuh aura dominan itu, ia merasa terintimidasi begitu saja. Jangan bilang anda cemburu tuan muda, batin Carlos meringis. Ia masih sayang nyawanya.
Tatapan Zafier semakin tajam dan dingin, ekor matanya terus melirik ke arah kaca spion depan, tepat ke arah Carlos. Telinganya panas mendengar ucapan lembut Sheza yang diperuntukkan pada Carlos. Tapi Zafier juga tidak bisa berbuat apa-apa, meski emosinya tersulut. Rahangnya kembali mengetat, kedua tangannya terkepal erat hingga memperlihatkan buku-buku tangannya yang memutih. Zafier menarik nafas berusaha keras mengendalikan dirinya.
Detik selanjutnya kendaraan mereka meluncur keluar dari areal parkir hotel dengan kecepatan sedang.
Dan benar saja beberapa saat setelah mobil yang mereka kendarai keluar dari area hotel, beberapa kendaraan yang sudah sedari tadi menunggu di seberang hotel mulai mengikuti mereka.
Zafier memperhatikan mobil yang mengikuti mereka dari kaca spion dengan tenang. Netranya beralih melirik sosok cantik disampingnya. Ia bisa menangkap ketegangan di wajah wanita cantik itu. Rasanya ingin sekali menenangkan wanita itu ke dalam pelukannya. Tiba-tiba ia merasa sedikit bersalah karena melibatkan Sheza dalam kondisi seperti saat ini sebenarnya bisa saja ia menyuruh Karen untuk membawa Sheza dengan kendaraan lain karena anak buahnya sangat bisa untuk sekedar melindungi Sheza. Tapi entah kenapa ia malah memilih jalan seperti ini dengan melibatkan Sheza ke dalam bahaya. Zafier sendiri sebenarnya cukup bingung mengapa ia mengambil keputusan untuk melibatkan Sheza di dalam misi ini. Ia hanya mengikuti kata hatinya.
Zafier menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri. Rasanya sangat berbeda jika hanya dirinya sendiri yang terlibat misi. Membawa Sheza dalam misi ini benar-benar seperti membawa beban yang sangat berat, terasa lebih memacu adrenalin, lebih menantang dan sedikit mengkhawatirkan. Ia cemas terjadi sesuatu pada wanita cantik itu. Ia yakin sang daddy akan mengamuk jika terjadi sesuatu pada calon istrinya, saat ia bangun dari koma nanti. Calon istri daddy...... Zafier mengulang kata-kata itu kembali di dalam hati, ia meringis, kenapa terasa begitu menyakitkan di hatinya. Tanpa sadar Zafier memukul stir mobil sedikit keras, Sheza terkejut, netranya menatap Zafier cemas. "Ada apa tuan muda Safaraz? Apa semua baik-baik saja?", tanya Sheza tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya
__ADS_1