
"Ayah! Ayah! Ini she ayah", teriak Sheza berderai air mata. Sheza tau betul siapa pria itu. Ia terus saja berteriak-teriak memanggil sosok itu.
Tapi sosok yang Sheza panggil tidak bergeming sama sekali. Seolah panggilan Sheza hanyalah angin lalu. Atau ia memang tidak menyadari atau tidak melihat keberadaan Sheza di tempat itu.
Air mata sheza berjatuhan, ia begitu merindukan sosok itu tapi sosok itu terlihat tidak mengacuhkannya ketika ia berteriak-teriak memanggilnya. Sosok itu hanya fokus pada anak kecil yang berada di dalam gendongannya.
Sosok pria itu nampak sangat ketakutan, netranya. memindai situasi di sekitarnya, melihat ke kiri dan ke kanan, mengawasi lokasi sekitar jatuhnya mobil itu.
Setelah merasa aman, lelaki itu kemudian berjalan cepat dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan. Sheza bingung harus bagaimana, mengikuti langkah kaki sang ayah atau menolong orang yang ada di dalam mobil yang jatuh itu. Dari tempatnya berdiri Sheza bisa melihat jika di dalam mobil itu masih ada orang lain.
Entah atas dorongan apa, Sheza kemudian berjalan mendekati mobil yang telah berada di dasar Jurang itu. Ia begitu penasaran. Begitu sampai di dekat mobil. Ia melihat pintu mobil dibiarkan terbuka begitu saja oleh pria tadi. Sheza memberanikan diri melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
Begitu melihat suasana di dalam mobil. Sheza cukup shock. Di dalam mobil itu ia menyaksikan dua orang yakni seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sepertinya merupakan sepasang suami istri dalam keadaan yang menggenaskan, mereka berdua dalam kondisi sudah tidak bergerak. Wajah mereka berlumuran darah, hingga Sheza tidak bisa melihat dengan jelas rupa keduanya. Namun demikian, ia tetap berusaha membangunkan kedua orang itu dengan memanggil keduanya, berharap mereka berdua merespon panggilannya.
"Ibu....! Bapak....! Bangunlah!", ujarnya sendu, menatap penuh harap pada kedua tubuh itu.
Namun tidak ada jawaban atau pergerakan apapun dari kedua orang itu. Sepertinya mereka berdua sudah tidak bernyawa, karena tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat pada kedua tubuh kaku ini, monolog Sheza pada dirinya sendiri.
Netra Sheza terus mengamati wajah kedua orang itu lekat. Meski wajah kedua orang itu tidak begitu jelas karena sudah berlumuran darah, namun Sheza merasakan perasaan yang familiar ketika melihat tubuh keduanya.
Tanpa disadari kedua netra sisa mengeluarkan cairan bening di sudut matanya. Sheza tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya tapi begitu menyaksikan sepasang suami istri itu ada perasaan sedih yang teramat sangat dirasakannya sehingga Ia tidak mampu membendung air matanya yang terus turun ibarat air hujan.
__ADS_1
Sheza terus sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai ia dikejutkan ketika tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya. Reflek, Sheza beralih menatap ke arah belakang tubuhnya, dimana ia merasakan seseorang menyentuh lembut pundaknya.
Sheza sedikit kebingungan karena begitu ia melihat ke arah tersebut, ia melihat seorang pria tampan dan seorang wanita cantik yang tersenyum lembut kepadanya. Pria tampan itu memiliki postur dan wajah seperti orang luar negeri, dengan rambut berwarna coklat pirang, dan memiliki iris mata berwarna hazel. Sementara si wanita memiliki postur dan wajah khas asia, namun kecantikannya sangat mempesona setiap orang yang menatapnya. Lagi-lagi Sheza merasa kedua paras orang ini menghadirkan suatu perasaan familiar di hatinya. Sekaligus kerinduan yang teramat sangat di satu sudut hatinya. Padahal Sheza merasa baru kali ini pertama bertemu muka dengan mereka berdua.
Sejenak Sheza berpikir l, bagaimana mungkin kedua orang ini bisa berada di tempat yang sama dengan dirinya. Sementara ia tahu betul betapa sulit dan berbahayanya medan yang harus ditempuh jika harus menuruni jurang ini dari jalan raya di atas sana.
Ketika Sheza mengalihkan pandangan kepada kedua sosok itu, Sheza merasa tubuh keduanya seperti mengeluarkan cahaya.
Sheza terpana, takjub dengan pemandangan di depan matanya, ia seolah terhipnotis. Terpaku menatap keindahan kedua orang itu.
Kedua orang itu tersenyum lembut pada Sheza. dibalik senyuman lembut itu entah kenapa Sheza merasakan netra mereka berdua menyiratkan kesedihan yang mendalam. Kesedihan yang seolah ikut menyedot perasaan Sheza untuk hanyut di dalamnya.
Tangan kedua orang itu bergantian membelai lembut rambut Sheza. Sheza pun hanya terpaku diam, ia sendiri tidak menolak perlakuan kedua orang itu. Entah kenapa, ia pun merasa nyaman diperlakukan seperti itu.
Beberapa saat kemudian Sheza tersadar, dan ingin bertanya siapakah mereka berdua, dan berbagai pertanyaan lain yang tiba-tiba saja bermunculan di otaknya.
Namun belum sempat ia mengajukan pertanyaan, tiba-tiba saja Sheza merasa dunianya gelap.
"Nona! Nona! Nona sudah?"
Sisa terbangun dengan bingung mendengar suara seseorang memanggilnya dengan cukup keras. Dia berjuang untuk membuka matanya dan seketika itu juga ia merasakan rasa sakit berdenyut hebat di kepalanya
__ADS_1
Sheza kembali menutup kedua matanya, sementara kedua tangannya masih memegang erat kepalanya.
Kenapa rasanya kepalaku sakit sekali, gumamnya pelan. Sheza menarik nafasnya perlahan, berharap rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang.
Perlahan Sheza membuka netranya yang terasa berat. Setelah netranya terbuka sempurna, ia mengerjapkan matanya.
Begitu ia bisa melihat dengan normal, netranya langsung tertumbuk pada sosok Karen yang sedang berdiri di sebelah kiri ranjangnya. Wajah Karen nampak penuh kekhawatiran.
"Nona! Nona sudah sadar? Apa ada bagian tubuh nona yang terasa sakit?! Silahkan nona beristirahat dulu, aku akan memanggil Oleta untuk memeriksa nona. Tadi ia izin ke kamar mandi", ujar Karen, setelah itu ia bergegas beranjak dari samping ranjang Sheza hendak menuju keluar
"Ti-tidak usah Karen, aku tidak apa-apa, a-aku...", belum sempat Sheza menyelesaikan kalimatnya, Karen sudah berlalu pergi.
Sejenak Sheza terdiam, sambil memperhatikan suasana di sekitarnya. Ia berusaha memastikan dimana ia berada, apakah ini masih dunia mimpi atau bukan. Ia ternyata sudah berada di dalam sebuah ruangan kamar bernuansa monokrom. Sheza kembali memperhatikan sekelilingnya, ia merasa pernah mengunjungi kamar ini sebelumnya, suasana kamar ini terasa begitu familiar baginya.
Otak Sheza masih sibuk menerka-nerka dimana ia berada, ketika ia melihat Karen masuk dengan tergesa-gesa dengan menarik seseorang menuju ke arah ranjangnya.
"Yaa ... Begitu keluar dari kamar di mana Sheza berada, Karen berpapasan dengan Oleta. Tanpa banyak bertanya Karen langsung menarik tangan wanita itu dengan tergesa-gesa.
"Ayo Oleta...", paksanya.
Oleta dengan pasrah mengikutinya. Ia yakin kalau Karen dalam mode seperti ini, maka bisa dipastikan nona Sheza telah siuman. Dan ia harus segera melakukan pemeriksaan. Mengingat itu, Oleta sedikit bergidik, ia sangat khawatir karena telah meninggalkan nona Sheza tadi.
__ADS_1