My Little Gwen

My Little Gwen
Sisi lemah Zafier


__ADS_3

Kesunyian malam di lorong rumah sakit itu sedikit terusik oleh suara langkah kaki tiga orang yang melangkah bersamaan menyusuri lantai.


Sesekali terdengar suara berbicara pelan antara mereka. Kemudian salah seorang diantara mereka berpamitan dan menuju arah yang berbeda.


Perhatian Zafier yang sedianya akan kembali ke ruangan rawat sang daddy sedikit teralihkan ke arah tiga orang yang berjalan menuju ke arahnya. Semakin lama jarak mereka semakin terkikis. Hingga seketika Zafier terkesiap. Matanya menatap lurus ke depan, tepat ke arah seorang wanita yang tak kalah terkejut pula menatapnya.


Ya....wanita itu adalah wanita yang baru saja ia pikirkan setelah pertemuan tak sengaja mereka saat bertabrakan di lorong rumah sakit tadi.


Kenapa wanita itu bersama Carlos, tanyanya pada diri sendiri. Walaupun dari jauh, tapi dari bahasa tubuh pria itu, Zafier bisa menebak kalau seseorang yang memisahkan diri itu adalah Carlos.


"Shezan", gumam zafier pada wanita itu. Wanita itu juga menyebutkan nama belakang Zafier, nama yang ia perkenalkan saat pertemuan mereka dulu.

__ADS_1


Zafier tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas kehadiran Sheza di sini. Namun hanya suara saling menyapa, setelah itu tak ada kata-kata apapun yang ke luar dari mulut mereka masing-masing. Sepertinya mereka sama-sama shock dengan pertemuan yang sangat tak terduga ini.


Zafier menatap tajam bak mata elang yang sedang memperhatikan mangsanya. Sheza sendiri merasa salah tingkah ditatap sedemikian rupa oleh pria di depannya. Sosok tinggi dengan tubuh atletis itu masih setampan ketika mereka pertama bertemu, ketika mereka menghabiskan waktu bersama meski singkat. Tapi tatapannya tidak lagi selembut dulu, tatapan itu begitu mengintimidasi. Sheza menunduk, ia merasa seperti seorang pesakitan.


Sampai akhirnya Zafier memilih pergi begitu saja tanpa pamit meninggalkan sheza. Sheza cukup terkesiap. Bingung harus bagaimana. Rasanya ingin berteriak dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Zafier itu sangat tidak sopan. Tapi hal itu pastinya tidak mungkin ia lakukan. Sheza cuma bisa mengurut dadanya, mencoba bersabar.


Zafier sendiri sebenarnya merasa bingung harus bagaimana terhadap Sheza. Rasanya saat itu ada dorongan yang sangat besar, yaa....ingin sekali rasanya ia menarik Sheza ke pelukannya. Melepas semua kerinduan yang begitu menyiksa. Menanyakan kabarnya, menanyakan apa yang ia lakukan di sini. Berbagai tanda tanya berputar-putar di otak Zafier. Ia kuatir tidak mampu menahan diri jika terlalu lama berhadapan dengan Sheza. Apalagi ketika melihat mata polos itu tertunduk seperti seorang yang habis melakukan kesalahan.


Tiba-tiba ia berbalik begitu saja dari hadapan Sheza. Ia berjalan kembali ke ruang di mana sang daddy dirawat. Begitu sampai di dalam ruangan Javier perlahan menutup pintu ruangan itu ia mengambil tempat di samping tempat tidur sang daddy, menatap wajah pucat sang daddy yang terpejam. Daddy, aku harus bagaimana, gumamnya pelan. Suaranya begitu lirih.


Siku tangan Zafier diletakkan di kasur sang daddy, sementara kedua tangan menumpu kepalanya. Setelah bisa berpikir lebih jernih, Zafier mulai merangkai kejadian demi kejadian yang berlangsung. Mata Zafier mulai terbuka menganalisa kondisi yang sebenarnya. Ia ingat apa yang dikatakan Paman Ganial saat ia menanyakan kemana calon istri sang daddy pergi. Setelah Zafier menghubungkan semua informasi itu di otaknya, ia bisa menarik satu garis lurus sebagai sebuah kesimpulan bahwa Shezan yang ia kenal adalah calon istri sang daddy.

__ADS_1


Zafier menghela nafas dengan berat kenyataan yang teramat berat buatnya. Zafier memejamkan kedua matanya. Ia menggigit bibir bawahnya, tangannya terkepal. Ia frustasi.


Dan kemudian pikirannya kembali melayang jauh. Peristiwa demi peristiwa muncul begitu saja di benaknya, seperti kepingan demi kepingan puzzle yang kemudian bergabung menjadi satu sosok utuh dalam kenangannya. Ingatan tentang sosok cantik Sheza yang lekat di kepalanya serta momen-momen kebersamaan mereka yang singkat tapi meninggalkan kesan tersendiri di hatinya. Kesan yang sempat membuat ia nyaris menggantikan posisi Gwen di hatinya.


Shezan, Zafier kembali menghela napas kasar. Akhirnya kita bertemu, tapi kenapa dalam situasi yang sangat sulit, batin Zafier. Ia menatap sang daddy sendu. Daddy, aku yakin kalau wanita yang ingin daddy perkenalkan padaku sebagai calon ibu sambungku adalah Shezan. Daddy mau tahu tanggapanku tentang calon istri daddy? Aku acungkan jempol untuk daddy. Selera daddy sangat bagus, daddy sangat hebat dalam mencari seorang calon istri. Wanita yang sangat cantik, yang mampu menarik siapa saja ketika mengenalnya. Maafkan aku dad, yang tidak mengenal calon istri daddy sebelumnya. Maafkan aku yang sempat mengaguminya.


Tiba-tiba Zafier ingat kejadian di resto kota J. Ia ingat saat Sheza berpelukan dengan seorang pria. Keningnya sedikit berkerut. Ada tanda tanya dalam pikirannya tentang siapa pria itu.


Dad, hanya saja ada satu pertanyaan di benakku yang ingin aku tanyakan pada calon istri daddy. Aku melihatnya bersama seorang pria di kota J. Mereka tampak sangat dekat, aku khawatir itu adalah pria lain yang menjadi kekasihnya. Kalau itu terjadi, aku tidak akan rela ia menjadi calon istri daddy. Aku tidak suka jika dia hanya memanfaatkan daddy, aku berjanji pada daddy akan menyelidiki siapa calon istri daddy itu, siapa pria yang begitu dekat dengannya di kota J dan bagaimana latar belakangnya. Aku hanya tidak ingin daddy menikah dengan orang yang salah. Aku ingin wanita yang menikahi daddy adalah wanita yang benar-benar tulus, karena padanya aku akan menitipkan masa tua daddy, gumam Zafier menceritakan segala kegundahannya. Zafier lagi-lagi menarik nafasnya dengan berat kemudian menghembuskannya dengan kasar. Saat-saat seperti ini ia butuh sahabatnya yang saat ini berada nun jauh di Belanda sana.


Sesungguhnya jauh di dalam hatinya, Zafier merasa ada perasaan sakit yang tidak bisa diungkapkan. Entah kenapa ketika ia bisa mengungkap kenyataan bahwa Sheza adalah calon ibu sambungnya, ia merasa begitu hampa, kosong di hatinya. Marah, sedih kecewa, semua bergabung menjadi satu. Tuhan begitu tidak adil menurutnya. Di saat ia yang selama ini sangat sulit untuk tertarik pada seorang wanita, kemudian merasa mulai tertarik pada satu sosok wanita, malah harus menghadapi kenyataan berat ini. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Terakhir kali ia merasakan seperti kehilangan sebuah harapan adalah ketika ia mengetahui hilangnya Gwen dan setelah sekian lama akhirnya ia merasakan perasaan yang sama seperti itu.

__ADS_1


Zafier merasa begitu lelah, hingga akhirnya ia terlelap di sisi tempat tidur sang daddy. Sebagai seorang pengusaha muda yang tidak pernah takut apapun, yang melewati berbagai rintangan dan permasalahan apapun dengan perencanaan matang tanpa kelemahan, kali ini akhirnya Zafier merasakan juga sisi terlemahnya.


__ADS_2