My Little Gwen

My Little Gwen
Pembicaraan di markas


__ADS_3

Zafier berdiri dari kursi kebesarannya. Tangannya meraih pigura foto yang berada di atas meja kerjanya. Perlahan ia berjalan menuju sofa di mana Sheza berada. Ia menyerahkan figura foto itu padanya.


Sheza meraih figura foto yang diserahkan Zafier. Menatap lekat wajah yang ada di dalamnya. Ia sedikit terkesiap, wajah yang familiar baginya. Ya ... foto itu adalah gadis kecil yang kerap hadir di mimpinya.


Zafier kemudian duduk di sofa, tepat di depan Sheza, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Ia adalah teman masa kecilku. Kami banyak menghabiskan waktu bersama karena orang tua kami memang bersahabat baik. Gwen kecil lebih banyak tinggal di rumah ini. Aku sering bermain dengannya dan asal Nona tahu, ayunan itu adalah tempat favorit bagi Gwen".


Zafier menarik nafasnya dalam ia menghembuskannya perlahan untuk mengurangi gejolak di dadanya. "Dan Entah kenapa pada saat Nona menggunakan ayunan itu, di dalam pandanganku yang duduk di ayunan itu adalah Gwen dan tanpa sadar aku berjalan mendekati ayunan itu, yang aku lihat waktu itu adalah Gwen. Itulah kenapa tanpa sadar aku memeluk Nona. Maaf tapi kerinduanku yang besar setelah bertahun-tahun membuat aku tidak bisa berpikir normal lagi. Tapi aku bisa pastikan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang lagi. Maafkan aku atas ketidaknyamanan itu", ucap Zafier tulus. Ia menatap Sheza penuh penyesalan.


Kedua netra mereka kembali terkunci. Dan dalam sepersekian detik Zafier sempat merasa obsidiannya tersedot masuk ke dalam manik hazel perempuan itu. sementara Sheza buru-buru memutus tatapan itu. Ia mengambil minuman di atas meja, meminum seteguk demi seteguk, seolah dengan begitu bisa menenangkan jantungnya yang berdegup dengan kencang.


"Pelan-pelan Nona, anda bisa tersedak jika minum seperti itu", ujar Zafier lembut.


Sheza makin salah tingkah. Wajahnya memanas. Ia yakin saat ini wajahnya sudah merona. Ya Tuhan apa yang terjadi padaku?, keluh Sheza dalam hati. Ia terus menundukkan kepalanya. Ia begitu khawatir jika rona di wajahnya akan terlihat oleh pria di depannya itu.


Beruntungnya Zafier memang tidak memperhatikan perubahan wajah Sheza. "Ada baiknya Nona pikirkan kembali niat Nona, untuk kembali ke apartemen. Jika Nona tidak nyaman berinteraksi denganku. Aku pastikan, Nona tidak akan bertemu denganku, meskipun tinggal di mansion ini", ujar Zafier dengan yakin.

__ADS_1


Netra Sheza kembali menatap pria di depannya, seolah memastikan bahwa apa yang diucapkannya adalah sebuah janji yang harus ditepati. "Baiklah Tuan Muda, akan saya pikirkan kembali. Terima kasih untuk waktunya. Saya tidak akan mengganggu Tuan Muda lagi. Terima kasih atas waktunya, saya undur diri", pamit Sheza.


Sheza berdiri dengan tergesa-gesa, dari sofa di mana ia duduk. Ia tidak ingin berlama-lama lagi. Perlahan ia berjalan menuju pintu dan keluar dari sana.


Zafir hanya menatap punggung Sheza yang terus menjauh itu sampai hilang di balik pintu ruang kerjanya.


Sepeninggal Sheza. Zafier berpindah duduk ke kursi kerjanya. Ia memijat pelipisnya, kemudian menghela nafasnya. Satu persoalan telah selesai. Awalnya ia sedikit kuatir, jika Sheza tetap memaksa untuk kembali ke apartemen. Beruntungnya ia bisa meyakinkan wanita itu.


Jika saja Sheza tetap bersikeras, ia pasti akan mengalami kesulitan untuk fokus menghadapi musuhnya, karena harus membagi perlindungan pada Sheza di luar sana.


Hari ini ini Zafier harus menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk, dan menyelesaikan semua pekerjaannya lebih awal, karena beberapa hari ke depan, ia akan sibuk di markas.


Sheza sendiri sudah merasa lebih nyaman di mansion, meskipun mimpi-mimpi tentang gadis bernama Gwen atau tentang ia yang seolah-olah terjebak dengan suatu kejadian yang terasa asing dan familiar secara bersamaan, kerap menghampirinya. Namun Sheza tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ia pergi bekerja dari mansion, dengan pengawalan yang ketat. Meski merasa risih, Sheza tidak bisa menolak. Mereka semua hanya menjalankan perintah dan itu semua adalah perintah dari Tuan Muda Zafier, bos mereka.


Hari-hari Sheza berjalan seperti biasa. Meski merasa nyaman karena tidak harus bertemu Zafier, tapi entah kenapa ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang.

__ADS_1


......................


Pagi ini Zafier sudah bersiap untuk berangkat ke dengan menggunakan helikopter. Ia ingin sampai lebih cepat. Ia memang menggunakan fasilitasnya ini karena tidak ingin membuang waktu. Setiap hari ia pergi sebelum matahari terbit dan pulang larut malam. Sebenarnya ia bisa saja tinggal untuk sementara waktu di markas, tapi ia sadar bahwa ia tidak mungkin meninggalkan ayahnya yang saat ini terbaring koma di mansion. Untuk itu ia memilih untuk bolak-balik setiap harinya dari mansion ke markas, agar ia tetap bisa mengawasi perkembangan ayahnya. Apalagi informasi dari dr. Niko, ayahnya mengalami perkembangan yang cukup signifikan akhir-akhir ini. Proses penyembuhan untuk luka luar dan dalamnya cukup baik. Hanya menunggu ayahnya pulih kembali dari komanya.


Setiap hari sepulang dari markas Zafier selalu menyempatkan diri untuk menyapa dan bercerita tentang banyak hal pada ayahnya. Terkadang Ia menceritakan momen-momen masa kecilnya serta kebahagiaan mereka ketika saat Mommy masih ada. Bahkan seringkali Zafier bercerita tentang Gwen kecil. Zafier ingat bahwa ayahnya memang cukup dekat dengan Gwen kecil. Mungkin karena ayahnya sangat menginginkan anak perempuan.


Pagi ini Zafier sudah berada di markas. Kehadirannya disambut dengan penuh hormat oleh para anak buahnya. Ia menuju sebuah ruangan utama yang menjadi jantung pergerakan markas. Ruangan yang masih berada di bawah tanah namun di lantai yang berbeda itu dipenuhi perangkat komputer dengan perlengkapan tekhnologi canggih, termasuk alat peretas, dan beberapa layar pemantau. Di ruangan utama inilah mereka melakukan aktivitas peretasan dan sabotase terhadap CCTV dan data-data penting.


Begitu melihat siapa yang memasuki ruangan monitor, para anak buah ahli IT milik keluarga Safaraz itu pun membungkukkan tubuhnya. Selanjutnya Draco mempersilahkan Zafier untuk duduk di depan salah satu layar monitor utama.


Di dalam ruangan itu telah berkumpul orang-orang kepercayaannya, Juan dan para ahli IT. Mereka akan membicarakan perkembangan terbaru dari musuh mereka serta rencana Apa yang sedang mereka susun serta Strategi apa yang akan mereka lakukan untuk menghancurkan musuh.


Sambil melihat layar monitor Draco menjelaskan mengenai pergerakan dari musuh mereka, Reonal Barton.


"Tuan Muda, saat ini Anthony, orang Barton yang sengaja kita susupkan ke dalam kelompoknya itu, telah melebur dan melakukan aktivitas seperti biasa. Sepertinya tidak ada musuh yang curiga dengan kehadiran Anthony di sana. Namun karena Anthony bukanlah termasuk orang penting dalam kelompok Barton, maka ia tidak terlalu dilibatkan untuk pembicaraan penting dan perencanaan di dalam kelompok itu. Namun sepertinya, kelompok mereka tengah mencari keberadaan Alvin dan salah seorang temannya yang menghilang", jelas Juan

__ADS_1


"Terus awasi pergerakan mereka Juan. Jika waktunya sudah tiba kita akan memberikan kejutan kepada mereka karena telah berani mengusik kita", ujar Zafier penuh kebencian.


"Satu lagi Tuan Muda, kita sudah berhasil menemukan dan menyabotase data kecelakaan Nona Gwen lima belas tahun silam. Draco dan tim nanti akan mencoba menelaah dan mengumpulkan bukti beserta temuan lain", ujar Juan antusias. Zafier menatap Juan bersemangat, dengan tatapan penuh harap.


__ADS_2