
Di sebuah apartemen B di jantung kota J, satu sosok nampak meringkuk di dalam kegelapan di tengah kesunyian. Ia berusaha menarik nafasnya yang berat seolah sedang menahan beban berat yang tak dapat diurai. Dia sangat kecewa rencana yang sudah disusunnya sedemikian rupa, berakhir gagal.
Pria yang selalu tampan dan memperhatikan setiap inci dari penampilannya dengan menggunakan pakaian-pakaian model terbaru dan berasal dari brand ternama itu kini berubah seratus delapan puluh derajat. Ini telah lewat dari lima belas jam, namun Stefano masih mengenakan pakaian yang sama dari saat terakhir ia meninggalkan mansion ibunya. Pakaiannya pun sudah berantakan dan sangat kotor.
Fisik Stefano pun berubah, ia yang biasanya rapi dalam segala hal, tiba-tiba berubah dalam satu malam. Rambutnya berantakan tak terurus, matanya yang biasanya berbinar dan mampu menghipnotis setiap wanita, kali ini nampak sayu tanpa gairah, kantong matanya menggantung akibat tidak bisa tidur semalaman.
Sebuah api tersulut, diikuti asap yang mengepul pelan dari rokok di tangannya. Ia merenung seperti memikirkan sesuatu, detik berikutnya puntung rokok yang masih menyala itu ia remas dan perlahan padam di tangannya. Ia diam saja, tak merespon apapun seolah yang diremasnya adalah sebuah kertas belaka.
Kenapa aku jadi seperti ini, batin Stefano frustasi.
Perlahan cahaya menerobos masuk melalui celah-celah jendela, seiring dengan teriknya sinar mentari. Mesti saat itu jendela kaca besar itu tertutup gorden dengan rapat, namun cahaya itu masih bisa masuk memberikan penerangan. Bayangan gelap itu kini terlihat nyata,
Ruangan itu tampak sangat berantakan, botol-botol minuman berserakan di lantai, puntung-puntung rokok tak kalah banyak berserakan dalam asbak dan lantai. Ruangan itu juga terasa pengap dengan asap rokok yang masih terasa memenuhi udara.
Namun sosok itu masih terdiam di sana duduk dengan ekspresi yang tak dapat dijabarkan.
Helaan nafas berat terdengar sekali lagi, sepertinya ada yang salah dengan diriku, gumamnya.
Sekali lagi bayangan sosok cantik itu terlintas di pikirannya lalu seakan nyata didepan matanya. Stefano mengerutkan keningnya mencoba untuk berpikir rasional namun lagi-lagi sebuah senyum lembut yang baru ia ingat menghancurkan segalanya.
Kenapa.....? apa yang tak dapat ku berikan padamu? aaaarggg, teriaknya kesal dan putus asa.
Teriakan keras itu menggema, diikuti dengan melayang nya sebuah asbak kaca ke sebuah dinding dan pecah.
Stefano mengeratkan genggaman tangannya hingga urat nadi di wajahnya pun ikut terlihat. Ini adalah pertama kali baginya, ia benar-benar tidak dapat menerima apapun dari penolakan yang ia terima dari wanita itu.
Tidak....ia tidak akan pernah bisa. Stefano tidak mengerti kenapa gadis itu menolaknya, bahkan tidak ingin mengenalnya.
Akhirnya Stefano malah tertidur akibat kelelahan dengan semua permasalahan yang membelenggunya.
Stefano membuka matanya menjelang malam. Dia merasakan dingin di tubuhnya. Kegelapan dan kesunyian yang datang seakan meremas hatinya kuat.
__ADS_1
Ia berjalan ke sisi kamarnya dan dengan satu gerakan tangan ia menyibak tirai gorden jendela kamarnya hingga terbuka luas, menatap kegelapan yang mulai merangkak naik.
Saat Stefano masih terpaku dgn semua logika yang mulai ia kuasai, jiwa nya sedikit tenang.
Ia mengusap rambutnya. Matanya mengernyit pelan dengan rasa sakit yang mulai menghinggapi kepalanya.
Ia mulai memaksakan diri berdiri tegak, kesadaran dirinya mulai memuncak. Perlahan ia mulai berdiri, ia berjalan tertatih menuju kamar mandi. Ia berharap air dingin akan bisa meredakan sakit kepalanya.
Selang beberapa lama, ia keluar dari kamar mandi. Ia merasa sedikit lebih segar.
Ia mulai berpakaian. Yaa....malam ini ia akan menghabiskan waktu di club D & B, sebuah club dimana anggotanya kebanyakan adalah para pengusaha dan orang-orang kaya di kota J. Ia merasa dengan menghibur diri di sana, ia akan merasa lebih baik.
Stefano berjalan keluar, sejenak ia memperhatikan keadaan sekitarnya, ia baru menyadari betapa berantakan apartemennya.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan menghubungi sebuah nomor .
"Def, kirim orang untuk membersihkan seluruh kekacauan di apartemen ku ini, aku ingin menenangkan diri di club, setelah aku kembali aku ingin apartemen ku ini terlihat seperti sediakala" perintahnya pada Def asistennya. Setelah itu Stefano pun beranjak pergi.
Tak Berapa lama Stefano sudah kembali kepada kebiasaannya, begitu ia disuguhi minuman, ia seolah sudah merupakan semua persoalan yang membelenggunya tadi.
Tiba-tiba seorang wanita mendekatinya, "Halo tampan!".
Wanita cantik itu berpakaian rapi dan seksi serta menggunakan sepatu hak tinggi.
Ia mendatangi Stefano dengan senyumnya yang menawan.
"Boleh aku minum bersamamu?", tanya si wanita.
Stefano membuka matanya, bibir tipis nya sedikit terangkat saat melihat sosok anggun wanita itu. Wanita itu terlihat sangat seksi dalam cahaya club yang redup. Ia terus menatap wanita di depannya, cantik, gumamnya.
"Apa gunanya kalau cuma minum, bersenang-senanglah denganku", jawab Stefano.
__ADS_1
Wanita cantik itu pun kemudian bersandar padanya dan berkata dengan nada manja, "aku akan bermain apapun yang kamu inginkan", ujar wanit.
"Kau tahu siapa aku? ", tanya Stefano dengan sombong.
Wanita itu membelai wajah Stefano kemudian memegang wajah Stefano dengan kedua tangannya
Dia menatap Stefano dengan pandangan menggoda.
"Siapa yang tidak tahu dengan dirimu tampan", wanita itu mengedipkan sebelah matanya pada Stefano. "Stefano Darmawangsa anak pengusaha ternama di kota ini, semua wanita bahkan akan menyerahkan dirinya secara sukarela pada mu", pungkasnya.
Stefano tertawa lebar, ia menatap wanita itu dengan penuh gairah. "Gadis pintar", ujarnya.
Mereka menghabiskan waktu dengan minum-minum di club itu.
"Kau mau ikut denganku?", ujar Stefano, ia mengedipkan matanya nakal, wanita itu pun mengangguk manja sambil membalas kedipan mata Stefano.
Selanjutnya mereka berdua keluar dari club. Wanita itu nampak bergelayut manja pada tangan Stefano
Mereka berdua masuk ke dalam mobil Stefano. Tapi tiba-tiba Stefano merasa ada yang aneh pada dirinya, kepalanya terasa sakit, kesadarannya seperti di ambang batas, antara sadar dan tidak. Seperti berada di dunia halusinasi.
Stefano meminta wanita itu yang mengambil kemudi mobilnya, karena ia merasa kondisinya mabuk berat, sehingga sangat berbahaya jika ia yang memegang kemudi.
Mobil Stefano kemudian berhenti di sebuah hotel terdekat. Stefano membiarkan saja wanita itu yang mengurus semuanya. Selang berapa lama, wanita itu memapahnya menuju kamar hotel dengan susah payah.
Begitu sampai di kamar hotel, wanita itu meletakkan tasnya, kemudian berlalu berlalu menuku kamar mandi.
"Sayaang, aku membersihkan diri dulu ya", ujar si wanita dengan nada manja sambil mengedipkan matanya genit.
Stefano cuma mengangguk. Ia merasa kepalanya semakin terasa sakit, akhirnya ia pun tidak sadarkan diri lagi di atas ranjang itu.
Ketika si wanita keluar dari kamar mandi, ia melihat Stefano sudah berada di atas ranjang, ia mencoba membangunkan Stefano, tapi Stefano tidak merespon sama sekali.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum licik, selanjutnya ia meraih ponselnya yang berada di dalam tas. Ia menghubungi nomor seseorang, "Misi pertama berhasil bos, target sudah dilumpuhkan, masuk ke misi dua".