
Malam semakin larut, ketika kendaraan yang membawa Sheza, perlahan memasuki pintu gerbang rumah sakit. Sheza langsung bergegas turun dari atas kendaraan itu. Setelah ia membuka pintu mobil, tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, ia segera berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar di mana Zaki dirawat. Pikirannya benar-benar kalut, ia tidak fokus sepanjang lorong itu, yang ada di pikirannya hanya kekhawatiran akan keadaan Zaki. Sheza benar-benar telah menganggap Zaki sebagai pengganti ayah Arshaka yang telah meninggal. Please daddy Zaki, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku, batin Sheza. Tak terasa butiran bening mulai mengalir di sudut mata Sheza. Ia benar-benar takut kehilangan Zaki.
Sheza terus berlari menyusuri lorong. Ia sudah tidak peduli lagi apakah Karen mengikutinya atau tidak. Pikirannya terus saja terfokus pada Zaki, hingga di persimpangan lorong ia tidak menyadari ada seseorang yang juga menuju ke arah yang sama dengannya. Akhirnya tabrakan pun tidak dapat dihindari. Sesosok pria bertubuh tinggi besar menabraknya cukup kuat. Hingga tubuh Sheza nyaris terpental. Jika saja sosok tinggi besar itu tidak menangkap tubuh Reza dengan segera, bisa dipastikan Sheza akan terluka karena tubuhnya membentur lantai rumah sakit dengan sangat keras.
Tanpa sadar tangan Sheza memeluk leher sosok pria tinggi besar tersebut untuk berpegangan. Sheza begitu mungil di pelukan pria itu. Kepala Sheza terbenam di dada bidang itu. Setelah keadaan dirasa sudah stabil, Sheza menengadah melihat sosok yang telah menyelamatkannya. Cukup lama ia memandang mata mata hitam tajam bak mata elang di hadapannya itu, yang saat itu juga tengah menatap matanya. Mata Sheza seolah terperangkap di kedalaman mata hitam itu. Mata mereka berdua ibarat kutub magnet yang saling tarik-menarik. Selagi mata mereka saling bertatapan, otak mereka berdua seolah membeku dan tidak mampu mencerna siapa yang berada tepat di hadapan masing-masing. Sampai kemudian dalam pikiran Sheza berkelebat adegan demi adegan kebersamaannya yang singkat bersama seorang pria yang hadir juga begitu singkat dalam memorinya.
'Zafier', gumamnya. Ada kerinduan dalam sorot mata Sheza, tapi ada kekesalan juga karena ketidakpedulian Zafier saat perpisahan mereka. Seketika Sheza tersentak menyadari posisinya yang begitu intim. Ia melepas kedua tangannya yang tengah memeluk leher Zafier. Wajah Sheza sontak merona. Tapi ia kembali tersentak ketika Zafier menarik tubuhnya dan mendekapnya dengan erat. Membawa tubuh Sheza kembali ke pelukannya
"Shezan....", Sheza dapat mendengar gumaman rendah dan nyaris tidak terdengar itu. Terdengar begitu seksi di telinga Sheza. Sheza merinding. Sheza bisa mendengar dengan jelas debaran jantung Zafier yang tengah memeluknya erat. Bagaimana tidak, Sheza tepat berada di sana, wajahnya menempel begitu erat dengan jantung Zafier. Debaran jantung Zafier, sekuat debaran yang juga dirasakannya. Debaran itu bersahut-sahutan dengan jantungnya, yang tiba-tiba saja ikut berdebar kencang tak karuan. Pelukan itu bukannya meredakan jantungnya tapi malah membuat jantung Zafier dan jantungnya berlomba. Benar-benar menyesakkan.
__ADS_1
Sheza seolah tersihir, ia ikut tenggelam dalam pelukan Zafier. Sampai kemudian ia tersentak dan sadar pada situasi. Ia ingat apa tujuannya datang ke rumah sakit ini. Seketika ia mendorong tubuh Zafier sekuat tenaga, lalu kembali berlari menyusuri lorong rumah sakit.
Perasaan takut Sheza tiba-tiba semakin kuat. Ia semakin mengkhawatirkan kondisi Zaki akan semakin memburuk. Detik demi detik yang tersisa ketika ia menyusuri rumah sakit terasa berjalan begitu lambat. Entah mengapa ia merasa ruangan Zaki menjadi begitu jauh dari biasanya.
Dengan nafas terengah-engah, akhirnya Sheza bisa melihat ruangan Zaki di depan sana. Ia bisa melihat paman Ganial di sana dengan pengawal yang cukup banyak menjaga lokasi di sekitar ruangan di mana daddy Zaki dirawat. Sheza juga melihat rombongan dokter yang bergerak mendekati ruangan rawat daddy Zaki.
Sheza sampai lebih dahulu dari rombongan dokter itu. Beberapa saat kemudian, rombongan dokter itu juga sampai di depan ruang rawat Zaki. Mereka bergegas memasuki ruangan rawat Zaki. Sheza memaksa masuk. Mengingat kondisi pasien yang kritis, rombongan dokter itu tidak ingin menghabiskan waktu untuk berdebat dengan Sheza. Akhirnya tim dokter itu membiarkan Sheza ikut masuk bersama mereka.
Detik demi detik yang berjalan seolah begitu lambat bagi Sheza. Syukurnya setelah hampir satu jam tim dokter menangani Zaki, akhirnya kondisi Zaki mulai stabil. Tim dokter akhirnya bisa bernafas sedikit lega. Wajah mereka mulai berubah, tidak setegang tadi, seiring dengan kelegaan yang ikut dirasakan Sheza.
__ADS_1
Tim dokter itu kemudian bergerak keluar setelah memastikan keadaan Zaki tetap stabil. Setelah tim dokter meninggalkan ruangan itu, Sheza langsung mengambil posisi duduk di samping Zaki. Ia nyaris pingsan karena kecemasan dan kelelahan yang menderanya.
Setelah duduk, Sheza berusaha mengatur nafasnya perlahan. Ia menatap raut wajah Zaki yang berada tepat di depannya. Mata itu masih terpejam tapi wajahnya sudah mulai memerah tidak sepucat ketika pertama kali ia masuk ke dalam tadi. Sheza benar-benar lega, seolah ia merasa hidup kembali.
Sheza menyentuh tangan Zaki. Daddy Zaki, please bertahanlah. Aku mohon.....hanya daddy Zaki yang aku miliki di dunia ini sekarang. Daddy Zaki sudah seperti ayahku sendiri. Aku benar-benar merindukan daddy, rindu ingin bercerita dan bercanda bersama daddy kembali, aku mohon bertahanlah daddy.
Sheza terus menatap mata Zaki yang terpejam itu. Ia berharap mata itu akan terbuka dan kemudian menyapanya dengan lembut seperti biasanya. Sheza menarik nafasnya dengan berat. Ia terdiam, tapi buliran bening itu kembali mengalir di sudut mata indahnya.
Tak Berapa lama kemudian, Sheza berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju ke arah kamar mandi yang berada tepat berada di belakangnya. Ia ingin mencuci wajahnya yang terasa lengket. Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar dari mata indahnya itu. Aku tidak boleh membiarkan daddy melihatku bersedih seperti ini, batinnya.
__ADS_1
Cukup lama Sheza berada di kamar mandi. Setelah selesai, ia membuka pintu perlahan. Ia melihat sesosok pria yang sedang duduk di dekat ranjang Zaki, tepat di mana ia duduk tadi. Seorang pria bertubuh tinggi tegap. Sheza hanya bisa melihat tubuh bagian belakang dari pria itu, dari posisi dimana ia tengah berdiri sekarang. Sheza bisa mendengar suara pria itu, yang nampaknya sedang bercerita pada Zaki. Perasaannya mengatakan bahwa pria itu adalah putra Zaki satu-satunya.
Karena sedang fokus berbicara pada Zaki, pria itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Sheza di belakangnya. Sheza tidak mau mengganggu keintiman ayah dan anak itu. Sheza pun berniat keluar dari ruangan. Ia melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan menuju pintu. Kebetulan sekali pintu itu tidak tertutup. Mungkin pria itu lupa menutupnya ketika ia masuk tadi. Begitu mencapai pintu, Sheza langsung melesat keluar, sebelumnya ia menarik pintu itu perlahan.