
Rasa haus yang dirasakannya, memaksa Zafier beranjak dari kursi kebesarannya. Ia berjalan perlahan keluar dari ruang kerjanya. Sebenarnya ia bisa saja menghubungi salah seorang pelayan agar mengantarkan minuman ke ruang kerjanya, tapi entah kenapa ia memutuskan untuk mengambil sendiri minuman di areal dapur yang terletak didekat taman halaman belakang.
Suasana mansion malam itu sangat sepi, karena memang para pelayan tidak diperbolehkan untuk berkeliaran di dalam mansion ketika malam tiba. Hal itu untuk menjaga privasi dan ketenangan para penghuni mansion, kecuali tuan rumah memerintahkan mereka untuk melayani para penghuni mansion. Tanpa kepentingan khusus itu, para pelayan harus kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing begitu malam menjelang.
Tinggal beberapa langkah lagi Zafier akan memasuki daerah dapur di dalam mansion. Namun sebelum langkahnya memasuki dapur, ia melewati pintu menuju taman belakang yang terbuka lebar. Kemudian ia terhenti di pintu menuju taman belakang. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di sana.
Netranya menangkap satu pemandangan yang tidak biasa di taman di tengah kesunyian malam itu. Satu sosok yang sedang duduk di ayunan taman. Zafier merasa dejavu.
Jantungnya menegang, ia tertegun saat melihat satu pemandangan yang terasa begitu familiar buatnya terpampang nyata di hadapannya. Kedua netra abu itu sedikit menyipit, terlihat sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seolah memastikan bahwa apa yang lihat saat ini bukanlah hanya bayangannya saja.
Zafier tertegun di pintu itu. Ia melihat seorang wanita dengan rambut tergerai tengah duduk di ayunan tempat favorit Gwen kecilnya.
Perasannya serasa kembali ke beberapa tahun yang lalu, ia seolah kembali melihat bayangan Gwen. Ayunan itu adalah tempat favorit Gwen. Gwen selalu betah menghabiskan waktunya selama berjam-jam untuk duduk menikmati ayunan itu. Zafier selalu menyukai moment itu.
Setelah hilangnya Gwen, ia selalu menyempatkan diri untuk menatap ayunan itu, berharap jika tiba-tiba saja Gwen berada di sana, bermain di ayunan itu.
Dan kali ini harapannya seolah terwujud.
Zafier bahkan berusaha untuk tidak mengedipkan matanya, agar jika ini hanyalah sebuah fatamorgana, setidaknya tidak segera menghilang dari pandangannya saat ini juga. Aaah, ia masih saja begitu merindukan moment ini, meski telah melewati waktu bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
Zafier seolah terhipnotis.
Tanpa sadar kaki Zafier terus melangkah melewati pintu, hingga ia telah berada di area taman, ia terus berjalan mendekat ke arah ayunan itu. Dari jarak dekat, tampak seorang gadis dengan rambut ikal bergelombangnya yang berwarna pirang tertiup angin. Kedua netranya terpejam. Gadis itu sama sekali belum menyadari kehadiran Zafier di sana.
Sementara dalam pandangan Zafier, yang dilihatnya saat ini adalah Gwennya.
Iris obsidiannya menatap gadis itu lekat, kemudian pandangannya turun pada bibir kemerahan meski tanpa pewarna bibir itu, bibir itu sedikit terbuka, benar-benar menantang adrenalinnya. Dengan susah payah Zafier meneguk salivanya yang terasa menggantung di tenggorokan.
Tubuh Zafier tiba-tiba berdesir. Jantungnya serakah memompa aliran hangat pada setiap sisi tubuhnya. Jantungnya seketika bergemuruh liar. Ia sendiri bahkan bisa mendengar letupan-letupan pada jantungnya.
Zafier memegang dadanya seolah berusaha menenangkan jantungnya. Namun ternyata usaha itu hanya sia-sia belaka.
Ia hendak mendorong perlahan ayunan itu, seperti yang biasa ia lakukan pada Gwen kecil, mendorong ayunan Gwen dan setelah itu ia akan tertawa senang menikmati gerakan dari ayunan yang Zafier dorong. Setelahnya Gwen akan berteriak, "Dorong ayunannya lebih kencang Fier!".
Ketika ia berpindah ke belakang Sheza, kedua tangannya yang memegang tali gantungan ayunan yang terbuat dari besi, secara tidak sengaja bersentuhan dengan tangan gadis yang saat itu juga berpegangan pada tali gantung ayunan. Sentuhan itu menciptakan desiran hangat pada tiap saraf Zafier.
Di saat yang bersamaan Sheza juga merasakan sentuhan yang sama. Sentuhan tidak sengaja itu memaksa Sheza kembali ke dunia nyata. Netranya hazelnya kembali terbuka. Begitu menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Sheza mengerutkan keningnya.
Sheza menoleh ke arah belakang tubuhnya. Seketika netra Zafier menangkap manik mata indah berwarna hazel yang saat ini sedang menatapnya. Netra mereka beradu dan dalam sepersekian detik Zafier merasa obsidiannya tersedot masuk ke dalam manik gadis itu. Netra hazel Sheza yang sama dengan Gwen semakin membuatnya terperangkap dalam kenangan masa lalu.
__ADS_1
Netra Sheza menatap sosok pria tampan di belakangnya penuh tanda tanya. Begitu tahu siapa yang berada di belakangnya, Sheza semakin bingung. Untuk apa pria dingin tak tersentuh itu malah mendorong ayunannya? Apa ia sedang sangat santai, sampai harus mencari kesibukan ini? Sejak kapan ia berada di sana? Kenapa ia baru menyadarinya?, berbagai pertanyaan berputar-putar di otak Sheza, namun ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya langsung. Aura pria itu sangat mendominasi.
Sheza merasa Ia ingin segera berpaling dari tatapan tajam dan lembut secara bersamaan itu, tapi entah kenapa tatapan yang memancar dari netra abu itu seolah mengunci pandangannya. Entah kenapa Sheza merasakan sesuatu, jantungnya berdebar kencang.
Manik abu Zafier memperhatikan dalam hening. Pandangannya benar-benar terpana seakan terpenjara. Membuat ia semakin hanyut dalam gulungan ombak yang membuatnya nyaris tersesat.Tanpa sadar bibirnya melengkungkan senyuman.
"Gwen", panggilnya lirih. Kedua netra yang biasanya dingin itu berubah menjadi tatapan sendu penuh kerinduan. Dan tanpa aba-aba, Zafier mendekap tubuh Sheza kuat, sekuat kerinduan yang ia tahan selama bertahun-tahun lamanya.
Sheza terperangah, otaknya yang masih berusaha mencerna apa yang terjadi, hanyut dalam dekapan itu. Aroma maskulin Zafier yang begitu memabukkan membuat ia lupa segalanya. Sheza tanpa sadar malah menikmatinya. Dekapan Zafier begitu menenangkan buatnya.
Semilir angin menerpa tubuh keduanya cukup lama.
Sampai kemudian di titik Sheza menyadari ada hal yang salah dan tidak seharusnya. Sheza sedikit memberontak, berusaha melepaskan diri.
Tiba-tiba Zafier tersadar. Ia segera melepaskan dekapannya. Menatap gadis yang disangkanya sebagai Gwen. Zafier terkejut menatap wanita cantik dengan wajah yang telah memerah. Kegelapan malam tidak mampu menutupi rona itu. Entah karena marah atas perlakuannya, entah karena merona karena dekapannya. Sebenarnya sangat menggemaskan, namun Zafier tidak sempat berfikir lagi.
Wajah Zafier yang tadinya begitu tenang, sekarang berubah menjadi sangat gugup. Tapi bukan Zafier namanya kalau ia tidak mampu menutupi ekspresinya. Sesaat kemudian, wajahnya sudah dihiasi dengan ekspresi datar, seolah tidak pernah terjadi apapun di antara mereka.
"Maaf Nona Sheza, aku mengira anda tadi adalah orang lain. Hmm ... Masuklah, udara di sini tidak baik untuk kesehatanmu, bukankah dirimu baru saja pulih", ujar Zafier datar. Ia menatap netra hazel Sheza dengan tajam sekaligus lembut di waktu bersamaan.
__ADS_1