
Matahari mulai tenggelam di peraduannya. Gelap pun perlahan mulai menjelang. Bulan pun mulai mengintip malu-malu tapi cahayanya cukup memberikan penerangan di malam yang gelap itu.
Di teras sebuah apartemen di sudut kota, Ruben tengah menikmati waktu santainya. Ia nampak sedang menikmati segelas kopi dengan berbagai macam makanan ringan.
Entah kenapa setelah ia mengantarkan Sheza ke bandara, Zafier memerintahkannya untuk pulang saja. Suatu kesempatan yang sangat langka buatnya, menikmati waktu dengan santai.
Jadilah Ruben yang sedang bersantai di apartemennya, sedang larut dengan pikirannya sendiri. Ia memikirkan dirinya yang belum menikah. Sangat sulit baginya untuk memiliki waktu mencari pasangan kekasih. Waktunya banyak tersita untuk mengikuti kemanapun sang bos, Zafier pergi. Semua aktivitasnya memanglah sangat sepadan dengan gaji yang ia terima. Terkadang ia berpikir, apakah nasibnya akan sama seperti bosnya, menghabiskan waktu dalam kesendirian di usia yang tidak lagi muda. Ruben menangisi nasibnya sendiri.
Berbanding terbalik dengan sang bos, jika sang bos selalu dikelilingi oleh wanita cantik maka Ruben selalu ditugaskan sang Bos untuk menjauhkan semua wanita itu dari hadapan sang bos.
Tiba-tiba bayangan sosok wanita cantik melintas begitu saja di pikiran Ruben. Ruben teringat dengan senyuman dan pandangan mata lembut dari nona Sheza. Senyuman yang mampu membekukan dunianya, pandangan mata yang mampu menghipnotisnya.
Jika ia tidak ingat bahwa bosnya yang begitu peduli pada nona Sheza. Ia pasti sudah langsung melamar nona Sheza saat itu juga. Tapi karena ia masih ingin hidup lebih lama maka ia tidak mau berakhir di tangan bosnya. Menyukai wanita yang sama dengan sang Bos, sama saja dengan mempertaruhkan hidupnya. Meski sang bos tidak mengakui perasaannya, sebagai asisten Ruben terbiasa mengamati perilaku sang bos, setiap perubahan meski hanya sangat sedikit, Ruben pasti mengetahuinya.
Saat Ruben larut dengan pikirannya, tiba-tiba saja ponselnya berdering cukup keras. Ruben bergegas mengeluarkan ponsel dari saku kemeja nya, nama sang Bos terpampang di layar ponselnya.
Ruben, "Halo tuan".
Arsen, "Ruben ini aku, Arsen".
Ruben, "Ya tuan Arsen, ada apa dengan tuan Zafier, tuan? Apa ia baik-baik saja, tuan?
Nada Ruben cemas.
__ADS_1
Arsen, "Saat ini aku dan bos mu sedang berada diThe Luxury Club, bosmu sepertinya sedang mabuk berat, tapi ia bersikeras pulang sendiri, kau harus segera menjemputnya Ruben".
Ruben terperangah, ia terkejut. Bukan kebiasaan tuan Zafier seperti itu, pikirnya.
Ruben, "Baik tuan Arsen, saya akan segera ke sana".
Ruben bergegas menyambar jaket dan kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja. Menit selanjutnya, ia sudah melaju membelah malam di jalanan kota J menuju The luxury Club.
Sementara itu di The luxury Club. Zafier nampak bersandar di salah satu sofa,.di sudut private room.
Sosok tampan yang terlihat dingin dengan ekspresi datar yang dominan. Di bawah cahaya redup wajah tampan Zafier tampak bersinar terang. Sosoknya mampu membius semua hal disekitarnya. Ketampanan itu dapat membuat semua gadis di luar sana rela mengantri hanya untuk sekedar makan malam dengannya. Mata hitam yang menghanyutkan dengan tatapan tajam yang tenang itu dapat menenangkan suasana hati yang buruk. Hidung yang menjulang tinggi dengan garis itu, dijamin bisa membuat wanita di luar sana menjerit saat sudut bibir itu tersenyum manis.
Zafier membuka kancing kerah bajunya memperlihatkan tulang selangka nya yang seksi. Ia membungkukkan tubuhnya ke meja dan menuang kembali segelas minuman untuk dirinya sendiri. Perlahan ia menyesap isi gelasnya, terlintas dibenaknya wajah cantik Sheza, bibir tipis Zafier terangkat, ia ingat saat-saat pertama bertemu Sheza, rasanya sangat menyenangkan menggodanya.
"Halo tampan!", seorang wanita cantik berpakaian rapi dan seksi serta menggunakan sepatu hak tinggi mendatangani Zafier. Zafier hanya diam mengamati wanita itu dengan tatapan datar, tanpa ekspresi.
Dengan senyumnya yang menawan disertai lirikan nakal, wanita itu berkata "Boleh aku minum bersamamu?".
Arsen terperangah, salut dengan keberanian wanita itu. Wanita malang itu belum tau saja siapa Zafier. Saat ini arsen sedang tidak ingin bersikap lembut pada wanita. Jadi ia membiarkannya saja, ia menggoyangkan gelas ditangannya menunggu sebuah pertunjukan digelar di depannya dengan tatapan jahil.
Zafier membuka matanya. Bibir tipisnya sedikit terangkat. Ia melihat sosok anggun wanita itu.
Wanita itu terlihat sangat seksi di bawah cahaya redup ruangan.
__ADS_1
"Apa gunanya kalau cuma minum, bersenang-senanglah denganku" ujar Zafier dengan sorot mata dingin sekaligus jijik.
Wanita cantik itu bermaksud bersandar kepadanya, tapi Zafier menjauhkan tubuhnya. Sorot mata tidak suka jelas tergambar di wajah tampan Zafier, hanya saja cahaya yang redup mengaburkannya.
Dengan nada manja wanita itu berkata, "Aku akan bermain apapun yang kamu inginkan". Matanya mengerling nakal pada Zafier.
Akan tetapi apa yang terjadi berikutnya membuat wanita itu ketakutan.
Zafier mengeluarkan sebuah pistol revolver dan membantingnya di atas meja. Ia menatap antusias wanita cantik disampingnya itu, sembari tersenyum. Penampilannya benar-benar tampan dan berbahaya.
Selanjutnya sambil menyeringai ia berkata pelan-pelan, "Pistol itu cuma terisi satu peluru, ayo kita uji keberuntungan kita dan bergiliran menembak diri sendiri. Bagaimana menurutmu?".
Wanita itu langsung berlari ke luar ruangan dengan wajah pucat, sepertinya ia sangat ketakutan.
Meski sedikit terkejut dengan senjata yang berada di tangan Zafier, namun Arsen yang melihat semua adegan itu, tidak dapat menahan tawanya. Sontak ia tertawa terbahak-bahak. Mendengar itu, Zafier hanya memandang malas pada Arsen. Selanjutnya ia kembali menyesap minumannya, dan menyimpan kembali senjatanya.
Zafier benar-benar menikmati waktunya di club. Entah sudah berapa gelas minuman yang ia habiskan. Arsen yang melihat itu semua hanya menggelengkan kepalanya. Ia harus tetap sadar untuk memastikan keselamatan Zafier sampai di rumah.
"Zafier, ayo kita pulang", bujuk Arsen.
Zafier hanya menatap Arsen dengan dingin dan acuh. Sorot matanya tampak tidak suka. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Arsen hanya terdiam, menunggu dengan sabar. Ia dapat memahami apa yang dirasakan Zafier.Sepertinya minuman mulai mempengaruhi sahabatnya itu.
Tiba-tiba Zafier berucap dengan keras, "Arsen, aku merindukan wanita itu, bayangannya selalu saja melintas di sini", ujar Zafier seraya menunjuk kepalanya. "Aku lelah Arsen", lanjut Zafier lagi. Arsen terdiam. Ia bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
Selang beberapa waktu kemudian ponsel Arsen berdering. Nama Ruben terpampang di layar ponselnya. Rupanya Ruben mengabarkan kedatangannya di di lokasi club. Setelah perdebatan yang cukup panjang dengan Zafier, akhirnya ia bersedia untuk pulang bersama Ruben, demi keselamatannya.