My Little Gwen

My Little Gwen
Makan siang dengan Daddy Zaki


__ADS_3

Hari ini Sheza bermaksud untuk menanyakan keberadaan kakaknya pada Carlos. Pagi-pagi sekali Sheza sudah mendatangi ruangan Carlos. Setelah melakukan konfirmasi dengan James, asisten Carlos, Sheza bergegas menerobos ruangan Carlos.


"Carlos...", panggil Sheza bersemangat.


"Ya Tuhan... Dirimu benar-benar membuat jantungku hampir lepas She", rutuk Carlos sambil memegangi dadanya.


"Iiish, lemah....", ejek Sheza. "Jantungmu KW ya, baru segitu aja udah mau copot, ganti sana sama yang ori", ejek Sheza lagi sambil nyengir, memamerkan deretan gigi putihnya, bak iklan pepsoden di TV. Carlos melotot mendengar ocehan Sheza.


Setelah perdebatan tidak penting, akhirnya mereka berdua terlibat pembicaraan serius.


"Jadi kau sudah menemukan keberadaan kakakku Carl?", tanya Sheza serius, binar matanya tampak bahagia, ia memandang lekat pada Carlos. Carlos terpaku pada mata hazel itu.


'Indahnya matamu She, batin Carlos. Jangan pandang aku seperti itu She, please, kondisikan matamu', Carlos meringis.


Bukannya menjawab pertanyaan Sheza, Carlos malah masih terpaku pada mata Sheza, meski berulang kali Sheza melambaikan tangannya di depan wajah Carlos.


"Carl..... Carl, hei Carlos kau kenapa? ", tanya Sheza dengan suara nyaris berteriak cemas karena Carlos tak kunjung merespon pertanyaannya. Tapi yang ditanya masih terpaku sampai cipratan air mendarat di wajah tampannya. Dan teriakan tak kalah nyaring terdengar tepat di telinganya. Dan Carlos tau betul itu suara siapa.


Carlos seketika tersadar, dan pandangan maut mengarah pada si empunya suara.


" Eh...bos, kau sudah sadar rupanya", ujar Karen bergerak mundur perlahan bersiap-siap kabur dengan wajah pucat, matanya mengarah pada tatapan membunuh dari Carlos.


"Karen, kau selalu saja mengganggu di saat tidak tepat...., kau mau aku kirim ke planet pluto? ", tanya Carlos penuh penekanan.


"Ampun, ampun bos, maafkan aku", jawab Karen memelas sambil mengatupkan kedua tangannya. Karen perlahan mendekatkan dirinya pada Sheza, mencari perlindungan.


"Jangan marah pada Karen, Carl. Dia hanya mencemaskanmu, dia hanya ingin membuatmu sadar kembali", ujar Sheza berusaha menahan tawanya. Sheza berusaha membela Karen yang nampak resah di belakangnya.


" I...Iya bos", ujar Karen takut, ia mencuri pandang pada Carlos dari balik punggung Sheza.


"Lagipula kau kenapa tadi Carl, menatapku sampai tak berkedip?", tanya Sheza menyelidik.


"Matamu sangat indah She, seolah menghipnotisku", tanpa sadar Carlos berucap, matanya sayu menghiba, diiringi tatapan kaget dari Sheza dan Karen.


Carlos tersadar akan ucapannya yang tidak pantas. Dia memukul bibirnya sendiri. Iiis, aku bicara apa, kalau paman Ganial tau, bisa habis aku, batin Carlos.

__ADS_1


"Eh, ma... maaf She, aku asal bicara", ucap Carlos gugup, wajahnya memerah.


"Kenapa wajahmu memerah bos, kau sakit", tanya Karen polos diiringi timpukan majalah dari Carlos. Seketika Karen memegangi bibirnya, sadar kalau ia salah bicara lagi.


"Ayolah Carl jangan putar-putar kembali ke topik awal kita tadi. Dimana kakakku, bagaimana kabarnya?, tanya Sheza lagi.


"Iya She, aku baru tau kalau ternyata tuan Zaki mempekerjakannya di salah satu perusahaannya di kota J. Makanya aku tidak menemukannya dimana-mana", jelas Carlos lagi.


"Aku ingin bertemu dengannya Carl, apa bisa aku ke kota J", tanya Sheza.


"Sebaiknya kau tanyakan langsung pada paman Ganial atau tuan Zaki sekalian She", jawab Carlos lagi.


"Apa kau tau kenapa tuan Zaki mempekerjakan kakakku, Carl?, tanya Sheza kembali menatap lekat mata Carlos. Carlos yang ditatap, kembali terpaku.


"Oouwh Carl, jangan mulai lagi", kesal Sheza sambil mencubit gemas pangkal lengan Carlos, Carlos meringis.


"Ya ampun She, gak bisa lembut apa", ujar Carlos sambil mengusap bekas cubitan Sheza.


"Kau sangat menyebalkan Carl. Aku akan tanya langsung pada paman Ganial", sungut Sheza kesal.


Sejurus kemudian, sebuah panggilan masuk terdengar dari ponsel Sheza, "Daddy Zaki". Sheza tersenyum senang.


Perbincangan antara keduanya terdengar sangat akrab seperti ayah dan anak. Semua itu tidak lepas dari pengamatan Carlos. Dia tersenyum. 'Syukurlah, akhirnya tuan Zaki menemukan putri kecilnya kembali setelah belasan tahun', batin Carlos.


"Carl, aku keluar makan siang dengan daddy Zaki ya, paman Ganial akan menjemputku", ujar Sheza terdengar bahagia.


Tiga puluh menit kemudian, Sheza sudah berada satu kendaraan dengan Ganial menuju salah satu resto terkenal di kota P.


"Paman, bolehkan aku ke kota J untuk bertemu kakakku? ", tanya Sheza dengan tatapan memohon.


"Hmm, rupanya bocah itu sudah memberitahumu", ujar Ganial lagi. Terlihat raut tidak senang di wajahnya.


"Jangan salahkan Carlos paman, aku yang memaksanya", ujar Sheza dengan tatapan memohon. Sheza kuatir Carlos menjadi sasaran amukan Ganial. karena permohonannya.


"Entahlah Sheza, aku tidak yakin tuan mengizinkanmu", jawab Ganial penuh keraguan.

__ADS_1


"Aku yang akan bicara langsung dengan daddy, paman", ujar Sheza tersenyum pasti.


"Baiklah Sheza, silahkan, semoga berhasil", ujar Ganial. pendek. Ganial tau betul kalau meyakinkan tuannya adalah hal paling sulit, karena bagi tuannya yang arogan dan keras kepala, hanya keputusannya yang mempunyai hukum mutlak.


Tak terasa 15 menit perjalanan, Sheza telah sampai di parkiran restoran dimana Zaki menunggunya.


Ketika memasuki restoran, kedatangan Sheza disambut seorang pelayan restoran. Pelayan tersebut kemudian mengantarnya menuju sebuah private room yang biasa dipesan Zaki.



Sheza bergegas memasuki ruangan tersebut, tapi ternyata Zaki belum berada didalam ruangan. Sheza memilih salah satu tempat duduk dan bersiap akan duduk, tetapi rencana Sheza terhenti ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan masuk dari Zaki.


"Halo daddy! ", Sheza.


"She, maafkan daddy agak terlambat datang, ada keperluan mendadak yang tidak bisa daddy tinggalkan. Pesanlah sesukamu, makanlah dahulu, tidak usah menunggu daddy datang. Oke She! ", suara Zaki terdengar lebih sebagai sebuah perintah.


Sheza termangu. Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di otaknya.


"Aku tidak mau memaafkan keterlambatan daddy, jika daddy tidak mau mengabulkan satu permintaanku, sebagai kompensasi kerugianku. Bukankah daddy selalu bilang waktu adalah uang", rajuk Sheza dengan wajah cemberutnya.


"Hhh, baiklah She, apapun keinginanmu akan daddy kabulkan, apapun itu", janji Zaki tanpa sadar, karena dalam pikiran Zaki, kekayaannya yang berlimpah akan mampu memenuhi apapun permintaan Sheza. Bahkan jika Sheza menginginkan sebuah pulau sekalipun.


"Okeee daddy. Aku pegang janji daddy. Silahkan daddy lanjutkan acara daddy, aku akan menunggu daddy sampai jam berapapun di sini", ujar Sheza bersemangat. Senyum smirk memenuhi wajahnya. Percakapanpun berhenti.


Ponsel Sheza kembali berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Ganial. Sheza menekan tombol yes.


"Iya paman, daddy sudah menghubungiku. Aku akan menunggu daddy si sini paman", Sheza.


...****************...


Hai... hai readers semuaaaah, kita jumpa lagi setelah sekian lama. Mohon maap ya readers karena novel ini hiatus beberapa lama karena menunggu konfirmasi pengajuan kontrak.


Untuk menebusnya, aku usahakan selalu update secepatnya yaaaah, biar Zafier dan Sheza cepaat ketemu.


Okeeeh readers semua, selamat membaca yaaa. Muach muach ☺🤗

__ADS_1


__ADS_2