My Little Gwen

My Little Gwen
Ingin pindah kamar


__ADS_3

Setelah Oleta memeriksa dan mengobati Sheza, ia pun membungkukkan badannya hormat pada Sheza sebelum pamit undur diri ruangan tersebut.


Sepeninggal Oleta, Sheza berusaha duduk tapi sejurus kemudian ia memegang kepalanya yang terasa begitu pusing. Karen yang melihat kondisi Sheza merasa cemas. Ia meminta sang nona untuk kembali membaringkan tubuh dan beristirahat.


Sheza yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya memilih untuk mengikuti ucapan Karen. Ia kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang itu. Sheza memejamkan kedua matanya, berharap rasa nyeri di kepalanya dapat berkurang.


Karen yang sudah berdiri dari ranjang, beranjak mengambil sebuah kursi dan menariknya ke dekat ranjang di mana bisa berpaling kemudian ia duduk di sana dan menunggu Sheza.


Merasakan keberadaan Karen di dekatnya, Sheza ingin mendapat jawaban dari rasa penasarannya


"Karen, siapa bibi tadi? Aku tidak pernah melihatnya di mansion sebelum ini", tanya Sheza penasaran, meskipun kedua netranya dalam keadaan tertutup.


"Ia bernama Oleta nona. Ia adalah seorang perawat senior yang ditugaskan oleh tuan Zafier dan paman Ganial untuk menjaga dan merawat tuan besar Zaki", Karen memang sengaja tidak menjelaskan secara detail siapa Oleta sesungguhnya.


"Tapi sepertinya kau telah lama mengenalnya dan tampak sangat akrab dengannya Karen", selidik Sheza curiga.


Karen terdiam, ia tahu nonanya ini sangat kritis. Ia harus mempersiapkan sebuah jawaban yang memuaskan bagi sang nona.


Tentu saja aku mengenalnya nona, karena ia juga bekerja pada tuan besar Zaki sebelumnya. Meskipun ia tidak bekerja di mansion ini, tapi nona sendiri kan tahu kalau tuan besar Zaki memiliki usaha yang sangat banyak. Tuan muda Zafier dan paman Ganial tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan seseorang yang tidak mereka percayai untuk menjaga dan merawat tuan besar Zaki, karena mereka tahu betul bagaimana musuh tuan besar Zaki mengincar nyawanya", jelas Karen.


"Hmm...", Sheza berdehem. Sepertinya jawaban Karen barusan cukup memuaskannya sehingga Sheza tidak lagi berkomentar apapun.


"Kalau dari awal aku tahu bahwa bibi Oleta adalah orang yang menjaga dan merawat daddy Zaki, pastinya tadi aku akan bertanya banyak hal tentang kondisi daddy saat ini", gumam Sheza pelan. Meskipun demikian Karen masih dapat mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


"Sudahlah nona, nona tidak usah terlalu banyak berpikir saat ini, yang perlu nona lakukan hanyalah beristirahat. Jika nona sudah kembali pulih, nona bisa mengunjungi tuan besar Zaki sesuka hati nona karena tuan besar Zaki memang sedang dirawat di mansion ini", lanjut Karen.


"Hmm ya, kau benar Karen. Aku akan beristirahat", ujar Sheza pendek.


"Tapi sebelumnya nona harus makan dan minum obat ini dulu", ujar Karen. Ia beranjak dari kursi kemudian duduk di ranjang dan menawarkan makanan pada Sheza.


"Aku sedang tidak ingin makan Karen, cukup kau berikan saja obat dari bibi Oleta tadi", tolak Sheza.


"Apa tidak sebaiknya nona mengisi perut dahulu karena setahuku nona belum makan apapun sejak kita makan siang waktu itu", paksa Karen lagi.


"Aku sedang tidak ingin makan Karen, cepat berikan saja obat dari bibi Oleta tadi. Aku ingin segera beristirahat dan tidur agar sakit kepalaku dapat sembuh", netra Sheza menatap Karen tajam, seolah tidak ingin dibantah.


Tidak ingin berdebat dengan Sheza, Karen pun bergegas membantu Sheza untuk meminum obat yang diberikan oleh Oleta.


Kemudian Karen berdiri dan melangkah menuju sofa di tengah ruangan. Begitu sampai di depan sofa, Karen pun menghempaskan tubuhnya di sana. Ia memang tidak ingin meninggalkan sang nona. Karena juga merasa lelah, Karen pun terlelap di sofa tersebut.


Sheza terbangun tengah malam.Nyeri Kepalanya mulai mereda. Awalnya terbangun, Sheza mengumpulkan segenap kesadarannya untuk mengamati situasi di sekitarnya, hingga ia kembali menyadari dimana ia berada. Kamar mewah dengan dominasi warna maskulin, monochrome.


Sheza menghela nafas berat. Lagi-lagi masih berada di sini, keluhnya. Entah kenapa ia merasa sedikit kurang nyaman berada di kamar yang ia ketahui adalah milik tuan muda Zafier. Pemuda tampan dengan aura mendominasi.


Sheza mengamati sekitarnya, ketika netranya menangkap satu sosok yang nampak tertidur di sofa di tengah ruangan itu, siapa lagi jika bukan Karen.


Sheza berusaha bangun dan duduk di sandaran ranjang, tapi lagi-lagi nyeri di kepalanya kembali terasa.

__ADS_1


"Aah!", rintihnya.


Reflek Sheza memegang kepala dengan kedua tangannya. Karen tiba-tiba ikut terbangun mendengar suara rintihan Sheza. Pendengarannya yang sudah terlatih membuat ia selalu berada dalam kondisi waspada di manapun ia berada.


Karen langsung terbangun dan bergegas menuju ranjang Sheza.


"Nona, nona kenapa? Ada yang terada sakit? Aku panggilkan Oleta dulu", ujar Karen cemas. Ia segera beranjak keluar, bermaksud untuk segera memanggil Oleta, namun Sheza menahan tangannya dengan kuat.


"Aku tidak apa-apa Karen, kepalaku memang terasa sedikit nyeri. Tapi tidak separah tadi. Mungkin aku masih harus istirahat lagi. Hanya saja...", Sheza terdiam, ia tidak melanjutkan ucapannya.


"Ada apa nona? Apa yang bisa aku lakukan?", tanya Karen menatap Sheza cemas.


"Karen, bisakah aku pindah dari kamar ini. Aku tahu ini adalah kamar tuan Zafier, aku hanya merasa kurang nyaman berada di kamar ini. Aku ingin beristirahat dengan nyaman di kamar yang pernah aku tempati dulu saja", ujar Sheza penuh harap.


"Maafkan saya nona, tapi saya tidak bisa mengambil keputusan saat inu, karena yang menempatkan nona di kamar ini adalah tuan muda Zafier langsung. Saya tidak berani untuk melanggar perintahnya nona", Karen berusaha menjelaskan dengan hati-hati. Ia mengerti bagaimana perasaan sang nona, tapi ia tidak punya kuasa untuk menolak perintah dari tuan mudanya. Kare hanya bisa menatap Sheza prihatin.


Sementara Sheza menatap Karen kesal.


Sheza kembali termenung di atas ranjangnya. Sheza masih ingat samar-samar potongan demi potongan peristiwa yang ia lihat pada saat ia tidak sadarkan diri. Ia mengingat-ingat kembali kepingan demi kepingan kejadian yang ia alami saat itu. Sheza masih dilema. Ia berusaha kembali mengingat-ingat jika ada kepingan memori tentang masa lalunya yang tertinggal di otaknya. Adakah sedikit saja ingatan tentang masa lalunya, Sheza berusaha mengingat-ingatnya lebih kuat. Tapi lagi-lagi yang ia rasakan adalah kepalanya kembali berdenyut.


Sheza ingin tau, apakah potongan peristiwa itu hanya fiktif belaka atau itu adalah kepingan memori masa lalunya yang tidak ia ingat.


Sheza kembali memegang kepalanya dengan kedua tangannya, rasa sakit kembali menghantam, rasanya seperti dihantam dengan ribuan palu. Sheza menarik nafas, kemudian menghentikan ingatannya untuk mencari lebih dalam.

__ADS_1


"Aaarght", teriak Sheza dalam hati. "Andai saja daddy Zaki sadar, ia pasti bisa menanyakan hal ini padanya", monolog Sheza.


__ADS_2