
Sheza hanya bisa kembali menghela nafas ketika mendengar jawaban dari Arsen.
Sheza melirik jam yang melingkar cantik di tangannya. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. Ia ingat kalau jam itu adalah hadiah dari daddy Zaki atas kelulusannya waktu itu. Hatinya berdenyut, ada rasa sesak menghimpit di sana.
Sheza segera mengendalikan dirinya sebelum ia larut dalam kesedihan mengingat daddy Zaki yang saat ini masih terbaring koma di rumah sakit.
Sheza kembali fokus pada jarum-jarum jam yang berada pada jam yang melingkar di tangannya. Sheza berdecak pelan. Ia merasa waktunya sudah banyak terbuang karena harus menghadapi Arsen yang terkesan bertele-tele, dan sengaja mengulur-ulur waktu menjadi lebih lama. Sabar She, batinnya.
Yaa, mau bagaimana lagi ia hanya bisa menuruti keinginan sahabat dari bosnya itu, meski ia merasa kesal.
Sheza yang telah berpindah duduk di sofa tepat di depan Arsen nampak mengedarkan pandangannya. Netranya menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu, mulai dari Arsen dan asistennya. Kemudian netranya menatap Karen, ia sedikit senang karena Karen telah menyelesaikan misinya dan bisa mendampinginya hari ini.
Ia merasa hari ini ruangannya begitu penuh. Keinginan Arsen untuk berada di ruangannya cukup aneh menurut Sheza. Ia sendiri tidak mengerti kenapa sahabat bosnya ini bertingkah aneh dari kemarin tepatnya, sejak bosnya tidak bisa hadir di perusahaan beberapa hari ini. Meski belum begitu memahami situasi yang tengah terjadi dengan semua keanehan sahabat bosnya ini, Sheza tetap memenuhi keinginan sahabat sang bos untuk memberikan data-data keuangan terkait proyek kerjasama serta memberikan penjelasan khusus bagi sahabat bosnya itu.
Setelah memastikan bahwa Karen telah menyerahkan semua berkas yang dibutuhkan Arsen, Sheza kembali memulai pembicaraan. "Baiklah tuan Arsen, sesuai dengan permintaan dari anda kemarin, saya sudah mengumpulkan semua berkas-berkas terkait data-data proyek kerjasama antara Safaraz Corp dengan perusahaan anda. Silakan anda pelajari dahulu, selanjutnya saya akan menjelaskan untuk data-data yang ingin anda tanyakan".
Ketika Sheza berbicara panjang lebar, Arsen nampak fokus menatap wanita cantik yang berada di depannya itu. Namun fokus utamanya bukanlah pada isi yang dibicarakan saja tapi lebih pada mengamati sosok cantik itu secara langsung. Arsen nampak begitu menikmati pemandangan di depannya. Selama Sheza berbicara, kedua matanya menatap lekat tak berkedip pada sosok cantik di depannya. Seolah takut jika ia berkedip maka sosok di depannya akan menghilang begitu saja. Sangat jelas terlihat di kedua netra hitam Arsen ada rona berbinar penuh puja.
Tingkah Arsen tidak luput dari pengamatan asistennya sendiri. Sementara Karen yang memperhatikan tingkah Arsen, nampak mengerikan dahinya. Ia kurang menyukai cara sahabat bosnya itu menatap sang nona. Rasanya ia ingin sekali mencongkel kedua mata pria itu.
__ADS_1
Ken sendiri dibuat malu oleh ulah bosnya. Ia bisa melihat tatapan tajam dari wanita yang diperkirakan adalah asisten sekaligus bodyguard nona Arshaka. Ken hanya mampu menutup wajahnya dengan tangannya, bingung harus berbuat apa. Yang bisa ia lakukan hanya diam saja di samping Arsen.
"Bagaimana tuan Arsen? Silakan anda pelajari dahulu berkas-berkas ini". Sheza kembali mengulang pertanyaannya. Karena sedari tadi, Arsen sama sekali tidak peduli dengan berkas-berkas yang telah diberikan Karen padanya. Arsen malah sibuk menatap dirinya.
Arsen kemudian tersadar. Ia bergegas meraih berkas-berkas tadi, membolak-baliknya tak jelas.
Sheza benar-benar merasa gemas melihat tingkah pria di depannya. Jika ia tidak mengingat bahwa pria tampan yang berada di depannya ini adalah sahabat bosnya, ia pasti sudah mengusirnya sedari tadi. Sheza menghela nafas untuk kesekian kalinya. Rona kekesalan mulai menghias wajah cantiknya.
Setelah menunggu beberapa waktu tanpa penjelasan apapun dari Arsen, akhirnya Sheza kembali angkat bicara.
"Maaf tuan, anda bisa membawa berkas-berkas ini terlebih dahulu untuk mempelajarinya. Setelah itu anda bisa menanyakan kepada saya, hal-hal yang anda kurang paham dari proyek kerjasama ini", suara Sheza mulai terdengar tidak sabar.
Ken yang melihat kondisi tersebut berusaha menyadarkan sang bos. "Maaf bos, sebaiknya kita bawa saja berkas-berkas ini, untuk kita pelajari dulu", ujar Ken. ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sedang berusaha menyadarkan sang bos dari tindakan yang lebih memalukan lagi. rasanya kan ingin sekali menghilang dari ruangan ini. Ia tak habis pikir kenapa bosnya terlihat begitu... B..o..d..o..h!
Ken tau betul bahwa berkas-berkas terkait proyek kerja sama itu telah mereka pelajari jauh hari, bahkan sebelum Arsen memutuskan untuk ikut terlibat dalam proyek kerjasama ini.
Arsen mengalihkan tatapannya pada sang asisten. Tatapan itu sedikit mengintimidasi Ken. Ken terdiam, ia merinding. Ia paham apa arti tatapan bosnya itu.
Tatapan Arsen semakin menajam saat ekor matanya melirik ke Ken. Tatapannya berubah lembut bahkan bibirnya menipis membentuk senyuman lebar, ketika ia menatap Sheza.
__ADS_1
"Maafkan saya yang sedikit kurang fokus nona Arshaka. Saya akan mempelajarinya di sini saja bersama asisten saya. Saya harap saya tidak mengganggu kegiatan nona Arshaka hari ini", ujarnya lembut.
Mendengar ucapan sang bos, Ken nyaris tersedak ludahnya sendiri.
Helaan nafas pelan keluar dari mulut Sheza. Ia berusaha menarik kedua sudut bibirnya dengan paksa. Hasilnya senyuman Sheza lebih mirip seperti orang yang sedang meringis.
Ya Tuhan harus bagaimana lagi caraku untuk mengusir orang-orang ini, masa iya aku harus memanggil security, keluh Sheza dalam hati.
Rasa kesal Sheza semakin menumpuk. Jangan kan harus menunggu arsen berlama-lama di ruangannya, kehadiran Arsen di awal tadi saja sudah sangat membuatnya tidak nyaman.
Namun Sheza tidak punya pilihan lain, ia tidak mungkin mengusir sahabat bosnya itu, ia harus profesional.
"Hmm...terserah anda saja tuan", jawab Sheza,tidak ada lagi senyum ramah di wajahnya,
Sementara Karen mulai memahami situasi tidak nyaman dari sang nona. Ia nampak sibuk dengan ponselnya. Karen sedang menghubungi Carlos. Ia menanyakan keberadaan Carlos dan tuan Zafier saat ini.
Karen tahu bahwa satu-satunya orang yang dapat mengendalikan keadaan ini hanyalah tuan Zafier.
Carlos yang mendapatkan laporan dari Sheza sangat kesal. Bisa-bisanya tuan Arsen memanfaatkan situasi ketika tuan Zafier tidak berada di perusahaan dengan mengganggu Sheza. Rahang Carlos mengetat, tangannya terkepal erat emosi menguasainya.
__ADS_1
Semua perubahan tingkah laku dan ekspresi Carlos itu tidak lepas dari pengamatan Zafier. Ia memang sudah melihat dari tadi Carlos nampak sibuk dengan ponselnya. Kening Zafier berkerut. Ada apa dengan Charles?, batinnya.