
Sang mentari telah tenggelam di peraduannya dengan damai. Malam mulai bergulir pasti. Gelap mulai menyelubungi. Entah kenapa malam ini, tak satupun bintang nampak menghiasi langit.
Jauh di pelosok sana. Di sebuah lokasi di tengah hutan yang berjarak puluhan kilometer dari pemukiman terdekat di perbatasan kota, terdapat sebuah bangunan yang sangat besar seperti gudang.
Orang tidak akan menyangka jauh di tengah hutan yang tidak tersentuh manusia seperti itu akan ada tempat seperti ini. Lingkungan di sana tampak sudah berkamuflase seperti sebuah lahan pertanian beserta pabrik besar dengan lokasi yang sangat luas nyaris puluhan hektar, di sekelilingnya dibangun tembok dan pagar yang sangat tinggi. Area dalam jangkauan beberapa kilometer sebelum lokasi selalu disterilkan oleh para pengawal di sana. Tidak sembarang dapat melintas apalagi masuk ke dalam.
Para pekerja di lokasi itu memang tampak seperti pekerja-pekerja biasa, tapi mereka sebenarnya adalah pengawal-pengawal terlatih dengan ketahanan dan kemampuan luar biasa. Tempat ini memang sekaligus dijadikan semacam. markas dan camp pelatihan. Tempat ini sejatinya dibangun Zaki sejak ia muda dulu. Zafier memang beberapa kali menginjakkan kaki ke lokasi ini bersama Zaki. Orang-orang di sini memang mengenal dua tuan, yakni Zaki dan Zafier.
Jauh di ruang bawah tanah bangunan itu terdapat lorong-lorong panjang dan ruangan besar yang terdiri dari banyak kamar. Di setiap dinding ada lemari-lemari besar yang sepintas menyerupai dinding biasa, di dalamnya terdapat berbagai senjata dan alat penyiksaan. Sementara di bagian yang lain terdapat ruangan seperti rumah sakit lengkap dengan berbagai peralatan medis, di bagian yang lain terdapat tempat seperti kebun binatang. Di sana terdapat beberapa kandang binatang berisi binatang buas dan penangkaran buaya. Di bagian atas bangunan terdapat landasan helikopter dan jet pribadi.
Begitu sampai di markas, Zafier bergegas turun dari helikopter yang membawanya. Di belakangnya James dan Carlos mengikutinya. Zafier menarik nafasnya pelan, rasanya sudah lama sekali ia tidak ke sini. Akhirnya tiba juga saatnya, ia harus memasuki markas yang sudah sangat lama tidak pernah ia kunjungi lagi.
Kedatangan Zafier disambut oleh Juan. Mereka saling berpelukan.
"Selamat datang tuan muda, sudah sangat lama sekali tuan muda tidak pernah berkunjung ke sini", sapa Juan senang. Ia, Carlos dan Zafier dulunya cukup akrab, karena umur mereka yang tidak terlalu berbeda jauh. Meski Juan dan Carlos selalu menganggap Zafier adalah tuan mereka, namun bagi Zafier, mereka berdua sudah seperti saudara sendiri.
Selanjutnya Juan memandu Zafier menuju ujung tangga. Zafier dan yang lainnya ikut turun bersama Juan menuju lantai bawah. Mereka lalu masuk ke dalam sebuah ruangan pengap yang hanya diterangi oleh lampu-lampu kecil saja. Udara terasa sesak dan dingin, debu menyambut di ujung pernapasan hingga lorong sepanjang sepuluh meter itu terlihat. Zafier melirik setiap sisi lorong itu dan berakhir duduk di sebuah sofa empuk yang telah disiapkan. Kepalanya mengangguk hingga Juan menekan sebuah tombol remote di tangannya, dan akhirnya lorong itu terlihat dengan jelas, sangat terang hingga menyilaukan mata lalu wajah asing yang tengah ditahan dalam lorong terlihat.
__ADS_1
Sejumlah pria dengan balutan pakaian serba hitam berjaga di sana. Salah seorang dari mereka membuka tahanan dan menyeret seorang pria muda yang terlihat kacau dengan tubuh penuh luka bahkan wajah si pria itu nyaris tidak bisa dikenali lagi.
Ia melempar pria itu hingga tersungkur di bawah kaki Zafier. Zafier menatap orang itu dengan kedua mata elangnya yang tajam. Siku kirinya bertumpu di ujung sofa sembari menyangga pipinya sedangkan tangan kanannya diletakkan di pinggir sofa dengan jari-jari yang bergerak mengetuk-ngetuk sofa.
"Lepaskan", suara teriakan itu keras tetapi bagaimanapun juga suara itu tidak akan terdengar dari luar, karena ruangan lorong ini kedap suara.
Zafier menoleh ke sisi kanan, dia menatap seorang pria yang sedang memberontak. Meneliti dan mengingat kejadian yang telah menimpa sang daddy beberapa waktu lalu. Perasaannya menjadi sangat dingin. Ia melihat pria itu dengan sebelah matanya, melirik Juan dan dalam satu anggukan Juan menyeret pria itu hingga duduk berlutut di hadapan Zafier.
"Kau yang bernama Alvin?", tanya Zafier dingin. Alvin tampak menatap Zafier nyalang, seluruh tubuhnya diikat dan dia diperlakukan seperti anjing tahanan. Ia merasa tidak berdaya tapi perasaan benci secara bersamaan terpancar jelas dari sorot matanya.
Satu mata Zafier memicing dia tidak tersenyum hanya menatap datar. "Menculikmu? Kau pikir dirimu sangat berharga karena orang ku membawamu?
Alvin bungkam sesaat, "Lalu apa?".
"Eksekusi", jawab Zafier ringan.
"Apa maksudmu?", tanya Alvin. Ia memiliki firasat buruk dengan kata-kata Zafier.
__ADS_1
Zafier tidak menjawab dia memilih mengangguk dan menutup matanya sesaat, lalu teriakan dari sisi lain terdengar. Hal ini membuat Alvin menoleh dan terbelalak itu adalah saudara-saudaranya. Mereka tengah mencoba berteriak meminta pengampunan dari hewan putih yang mulai mendekat.
Seekor harimau putih. Spesies langka harimau Bengal, yang ditemukan di Nepal. Gen pigmen yang menyebabkan bulu putih tersebut. Variasi gen yang dibawa harimau putih mencegah produksi pigmen merah dan kuning yang jika bergabung akan menghasilkan bulu oranye. Namun, pigmen tersebut tidak menghambat pigmen hitam sehingga mereka tetap punya belang hitam.
Klein, begitu Zafier menamainya dulu. Saat itu harimau putih ini masih kecil dan sering bermain dengan Zafier di mansionnya. Gwen dulu begitu menyayangi Klein. Klein pun sangat patuh pada Gwen. Sebelum akhirnya Klein menghuni markas. Klein, adalah sebuah nama yang berbanding terbalik dengan wujud asli binatang ini. Klein, bahasa Belanda yang berarti imut.
"Kau...", teriak Alvin. Alvin mencoba berlari menghampiri namun sebuah tali rantai di lehernya dan seluruh tubuhnya menekannya hingga ke bawah dia tersungkur dengan mata panas yang berlinang air mata menyaksikan satu persatu saudaranya meregang nyawa dengan teriakan penuh kepiluan. Satu persatu dari mereka dibunuh oleh hewan putih besar itu. Ia terlihat sangat kelaparan, namun anehnya hewan tersebut tak memakan sedikitpun dari daging mangsanya hewan itu hanya mengoyak menghancurkan tubuh mangsanya hingga tercerai berai.
"Hentikan, hentikan, hentikan", teriak Alvin.
Zafier tetap diam dan tidak mengindahkan teriakan Alvin. Ia menikmati setiap tontonan yang tengah terjadi. Klein hewan peliharaannya baru saja mengoyak mangsanya. Meskipun waktu yang dibutuhkan klein untuk memangsa para korbannya sangat cepat, namun ia bisa melihat bahwa orang-orang itu telah tewas dengan kondisi yang sangat mengerikan.
Saat klein telah selesai dengan tugasnya, tatapan matanya masih penuh dengan keinginan memangsa. Hewan ini berjalan mendekati Zafier dengan melirik Alvin yang terpukul.
Juan mendekat membersihkan darah di sekitar mulut Klein dan kuku-kuku runcingnya. Juan terlihat sangat teliti seakan Klein bukanlah masalah atau ancaman. Klein juga merasa tidak terganggu, hewan ini malah terlihat sangat nyaman saat Juan membersihkannya.
Alvin berbalik dan merangkak dengan penuh dendam tangannya mengepal erat tatapannya menghujam Zafier penuh dengan amarah. "Kenapa kau lakukan ini padaku", teriaknya histeris.
__ADS_1