
Sebuah apartemen di kawasan elit kota J itu tampak sunyi. Dalam sebuah ruangan gelap sebuah api tersulut diikuti oleh asap yang mengepul pelan, ******* nafas berat menandakan ada hal yang berbeda dari pemilik ruangan itu. Lalu puntung rokok yang masih menyala itu teremas dan padam.
Kenapa kenapa aku jadi seperti ini, batinnya.
Bayangan gelap itu kini terlihat nyata, saat sebuah cahaya menerobos masuk melalui celah-celah jendela. Meski jendela kaca besar itu tertutup gorden namun cahaya-cahaya itu masuk bisa menerobos masuk dan memberi penerangan.
Dan sosok itu masih mengenakan baju yang sama seperti di club tadi. Ruangan Itu tampak pengap dengan asap rokok yang masih terasa di udara.
Namun sosok itu masih terdiam, terduduk dengan ekspresi wajah yang tidak dapat dijelaskan.
Helaan nafas berat terdengar sekali lagi, ada yang salah dengan diriku, batinnya.
Sekali lagi bayangan sosok cantik itu terlintas di pikirannya ,lalu seakan nyata di depan matanya. Zafier mengerutkan keningnya mencoba berpikir rasional, namun lagi-lagi sebuah senyum lembut dengan suara dan ekspresi manja yang baru ia ingat berhasil menghancurkan segalanya rasionalitasnya.
Zafier tertidur di sudut lantai yang dingin, setelah lelah berperang dengan pikiran dan perasaannya sendiri.
Keeseokan paginya, Zafier terbangun dengan sendirinya. Kepalanya terasa berat akibat minuman semalam. Tapi hatinya sedikit merasa lebih baik, beban itu sedikit lebih ringan.
Sudah cukup rasanya semalaman itu ia melampiaskan semua perasaan dan persoalannya di club. Hari ini akan menjadi seseorang yang kembali fokus pada bisnis. Zafier bertekad melupakan semuanya. Ia sudah terbiasa selama ini bertahun-tahun hidup dengan kenangan Gwen. Maka menambah satu kenangan lagi bukanlah suatu hal yang sulit baginya. Zafier tersenyum lega.
Tidur beberapa saat cukup membuat Zafier bangun lebih fresh. Ia bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian lagi. Sebelumnya ia sudah memerintahkan kepada Ruben bahwa ia akan mengadakan rapat dengan para direktur eksekutif perusahaan terkait progress bisnis yang berjalan selama ini. Awalnya Zafier memang tidak terlalu serius menjalankan bisnis di negara kelahirannya ini. Ia lebih banyak fokus pada bisnisnya di tanah kelahiran sang mommy.
Hari ini Zafier akan menurunkan tim audit khusunya di Belanda, jika progress bisnisnya menguntungkan maka ia akan secara resmi mengembangkan bisnisnya di negara kelahirannya ini. Dan selama ia berada di negara ini, ia akan memantau semua proses bisnisnya di sini. Selanjutnya ia akan menempatkan orang kepercayaannya untuk mengelola bisnisnya di negara ini.
Detik selanjutnya Zafier sudah meraih kunci mobilnya, ia bergerak menuju private lift-nya, untuk turun ke parkiran mobilnya.
Beberapa saat kemudian L. Veneno Roadsternya sudah melaju membelah jalanan Kota J.
Pagi itu suasana sebuah bangunan kantor di kawasan strategis dan merupakan jantung bisnis kota J nampak sibuk. Bos besar mereka akan berkunjung.
Bangunan kantor dengan permukaan gedung yang berupa cermin itu terlihat sangat formal dan terlihat elegan dari luar. Di bagian dalamnya terlihat interior yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Seorang pria mengenakan setelan jas berwarna gelap sedang duduk di kursi utama rapat dengan menyilangkan kaki panjangnya. Ia terlihat sangat santai dan mengeluarkan Kharisma yang mengintimidasi semua peserta rapat di sana.
Wajahnya tampan dan memukau, namun tempat tegas dan berbahaya saat ini. Aura Zafier terlihat begitu menakutkan dan tidak bersahabat. Entah karena pikirannya yang masih terpengaruh oleh perpisahannya dengan Sheza, hingga moodnya saat ini sangat buruk. Bisa jadi, hal itu menyebabkan emosi Zafier cukup tinggi.
Hawa dingin terasa di seluruh ruang rapat. Rapat sudah berlangsung selama lebih dari 4 jam. Semua orang di ruangan itu masih duduk tegak, mereka tidak berani bermalas-malasan sedikitpun. Mereka bahkan tidak berani melihat kursi utama, mata tajam Zafier bisa membekukan tulang mereka.
"Kinerja pada Kuartal ini meningkat 30% tuan Zafier, ini semua datanya", direktur finansial yang baru saja selesai melapor itu menyeka keringat dingin dari dahinya, lalu bergerak hendak mundur.
"Apa aku sudah mengizinkan mu pergi", di kursi utama Zafier sedikit membuka bibir tipisnya. Hawa dingin yang tidak terlihat langsung menyelimuti seluruh ruangan rapat. Semua orang bahkan tidak berani bernafas.
Direktur finansial terlihat sudah tidak sanggup berdiri, ia hampir berlutut di tempatnya saking takutnya. "Be-belum, tuan Javier", jawabnya gugup. Keringatnya semakin mengucur deras.
Zafier mengangkat kelopak matanya.
Tatapannya yang tajam menyapu seluruh ruangan seperti sebilah pisau tajam.
Kemudian Ruben memberikan data-data tambahan dari direktur finansial itu kepada Zafier. Zafier melakukan pengecekan terhadap data tersebut keringat direktur finansial itu semakin mengucur deras. Beberapa saat kemudian Zafier mengangkat salah satu tangannya, direktur finansial itu kembali ke kursinya, wajahnya terlihat lega.
Selesai rapat, Zafier berjalan menuju ke ruangannya. Ruben terlihat mengikutinya dari belakang.
"Ruben, mulai besok kau dampingi tim audit untuk mengaudit semua departemen. Pastikan semua sesuai prosedur", perintah Zafier.
"Baik tuan", jawab Ruben patuh.
Kemudian Zafier memasuki ruangannya. Sebuah ruangan kerja yang luas dengan desain interior mewah didominasi warna monochrome terlihat sangat elegan. Ruben sendiri memilih kembali ke ruangannya sendiri yang terletak di sebelah ruangan Zafier.
Kepala Zafier nampak tertunduk, ia dengan serius mempelajari laporan dan data dari setiap departemen yang masuk padanya.
Tiba-tiba ponsel Zafier berdering. Ia bergegas mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja tak jauh dari tempat ia duduk. Tulisan "daddy", terpampang di layar ponselnya.
Wajah Zafier terlihat seperti orang yang telah melakukan sebuah kesalahan. Ia merasa sangat bersalah. Ia ingat, kesibukannya membuat ia jarang sekali menghubungi sang daddy.
__ADS_1
Zafier, "Halo Daddy!".
Zaki "Bagaimana kabarmu Fier? ".
Zafier, "Aku baik-baik saja daddy. Bagaimana dengan daddy? maafkan aku karena belum sempat menghubungi daddy, aku masih di kota J, masih ada beberapa bisnis yang harus aku urus disini dad.
Zaki, "Daddy paham kesibukanmu. Saat ini daddy juga sedang di Singapura, ada beberapa urusan di sini, besok dadi akan ke kota J, kita bertemu di sana saja".
Zafier, "Baik dad, kutunggu daddy di sini. Maafkan aku daddy tidak menepati janjiku sendiri. Janjiku bahwa hanya seminggu di kota J malah terlewati".
Zaki, "Tidak apa-apa Fier, daddy memahami kesibukanmu. Silahkan selesaikan urusanmu di kota J, calon ibu sambungmu juga akan menunggu dengan sabar di kota P. Hari ini dari Singapura daddy akan ke kota P untuk menemui calon ibu sambungnya. Daddy akan menjelaskan bahwa kedatanganmu tertunda karena urusan bisnis mu dikota J".
Zafier, "Baik dad, terima kasih atas pengertiannya. Aku akan sesegera mungkin menyelesaikan urusan bisnisku disini, kemudian aku akan segera bertolak ke kota P. Maafkan aku dad, waktu daddy jadi banyak terbuang, aku yakin daddy sudah tidak sabar lagi menunggu waktu untuk menikahi calon Ibu sambungku. Aku cuma butuh bertemu satu kali saja dengannya dad, aku harus pastikan bahwa ia bukan wanita muda yang hanya gila harta daddy semata, aku harus pastikan bahwa dia akan mengurus daddy dengan jiwa dan raganya. Aku tidak mau nantinya ia akan menyia-nyiakan daddy. Aku harus pastikan bahwa ia tidak hanya menginginkan uang daddy, aku harus pastikan bahwa ia benar-benar wanita baik untuk daddy. Dengan begitu aku akan tenang kembali ke Belanda dan meninggalkan daddy dengannya".
Zaki terdiam, yang ia inginkan adalah Zafier tetap berada di sampingnya. Anak ini pada akhirnya tetap saja memilih pergi, Zaki sedikit kecewa.
Zaki, "Lalu bagaimana denganmu Fier?
Daddy juga ingin kamu menemukan seorang wanita untuk menemani hidupmu. Kamu harus ingat bahwa umurmu sudah tidak muda lagi, kamu harus segera mencari pendamping hidupmu, dan jangan bilang kalau kamu masih menunggu Gwenmu itu. Apa perlu aku mencarikannya untukmu? ".
Zafier terdiam, tapi kemudian dia tertawa untuk menutupi kegalauannya sendiri.
Zafier, "Hahaha.....daddy tidak perlu memikirkku. Meski aku tidak muda lagi tapi aku kan belum setua daddy, masih banyak wanita yang akan rela antri untuk mendapatkanku dad, jadi daddy tidak perlu mengkhawatirkanku".
Zaki, "Dasar kau ini! Baiklah Fier, selamat bekerja".
Zafier, "Oke daddy,.selamat bekerja juga".
Sambungan telepon pun terputus
Beberapa saat kemudian Zafier sudah kembali tenggelam dengan pekerjaannya, sibuk dengan berkas-berkas kantornya.
__ADS_1