My Little Gwen

My Little Gwen
Mimpi yang terasa sangat nyata


__ADS_3

"Ayaaaaah! Ibuuuuuu!", sebuah teriakan menggema memenuhi kamar. Sheza tersentak bangun dengan tubuh bermandikan keringat, nafasnya tersengal seolah dia telah berlari sejauh sepuluh km. Dia memandang berkeliling dengan panik, seolah ingatan dan tubuhnya masih berada di dalam mimpi.


Beberapa saat kemudian Sheza baru benar-benar tersadar dengan apa yang terjadi pada dirinya. Rupanya apa yang baru saja dialaminya hanya sebuah mimpi. Mimpi yang terasa sangat nyata, seolah-olah ia mengalami sendiri peristiwa di dalam mimpinya itu. Semua ketegangan dan ketakutan itu begitu nyata, tubuhnya masih terasa gemetar.


Setelah mampu mengendalikan diri, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Satu tangannya memijat dahi. Ia merasa kepalanya sedikit pusing karena terbangun secara tiba-tiba.


Sheza kembali memperhatikan kondisi di sekitarnya. Selimut yang tadi malam melekat erat di tubuh Sheza, pagi ini sudah teronggok tak berbentuk di sudut tempat tidur.


Rupanya pagi telah menjelang. Sinar matahari yang menyilaukan masuk melalui celah-celah jendela kamar yang tidak tertutup oleh tirai. Sheza menyilangkan kedua tangannya di depan mata untuk menghalangi sinar matahari yang terasa begitu menyilaukan.


Sheza tidak segera bangun dari ranjang. Ia memposisikan tubuhnya dengan menaruh bantal di belakang punggungnya, sehingga kepalanya menjadi lebih tinggi sekarang.


Ia termenung. Bayangan mimpi itu kembali melintas di otaknya.


Sheza merasa berada dalam sebuah mobil bersama sopir dan kedua orangtuanya. Sayangnya ia tidak melihat atau mengingat wajah orang-orang itu. Mereka tengah berada di jalanan yang sepi. Ia tidak tahu dimana ia berada saat ini. Mobil yang membawa mereka melaju di jalanan yang diapit tebing terjal di sebelah kanan, sementara di bagian kiri jalan itu terdapat jurang yang cukup dalam.


Awalnya mobil yang membawa Sheza berjalan stabil melewati jalur sebelah kiri yang berbatasan dengan jurang.


Namun tiba-tiba sebuah truk bergerak cepat dari arah depan. Sepertinya truk itu kelebihan muatan, karena mulai berjalan tidak stabil. Awalnya truk itu berjalan kencang di jalur sebelah kanan. Tapi perlahan truk itu berjalan tidak seimbang.

__ADS_1


Sedikit demi sedikit truk itu mulai kehilangan kendali. Truk mulai berubah jalur mengambil jalan lawan di sebelah kiri. Bersamaan dengan itu mobil yang membawa Sheza melaju ke lokasi tersebut.


Ia hanya bisa melihat ketika truk yang kelebihan muatan itu mengambil semua jalan yang ada di jalur sebelah kiri. Truk besar itu tepat berada di jalan yang sama dengan mobil yang membawa Sheza. Kedua kendaraan yang jauh berbeda ukuran itu tengah berhadap-hadapan, dengan kecepatan tinggi.


Entah kenapa Sheza merasa ada yang aneh. Mobil yang dikendarai tidak segera menekan rem. Padahal ia pasti sudah melihat truk yang berjalan tidak terkendali ke arah mereka dari jarak yang cukup jauh sebelumnya. Kenapa sopirnya tidak segera menginjak rem? Apa rem mobilnya blong?, pikir Sheza. Jarak semakin terkikis antara mobil dan truk. Setelah nyaris bertabrakan, mobil itu memilih membanting stir ke arah kiri untuk menghindari tabrakan dengan truk besar itu. Karena di jalur kanan saat itu juga melaju truk besar lainnya.


Mobil yang membawa Sheza menabrak pembatas jalan sebelah kiri. Kuatnya tekanan dari mobil itu membuat pembatas jalan tidak mampu menahan mobil. Pembatas jalan terlepas dan tanpa bisa dihindari mobil itu meluncur dengan cepat ke dalam jurang yang dalam. Sheza kembali tersentak. Ketegangan dan ketakutan itu kembali terasa, saat ia ingat tubuhnya bersama orang tua, sopir dan kendaraan yang membawa mereka meluncur ke dalam jurang yang begitu dalam.


Sheza menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia kembali berusaha mengendalikan rasa takut dan tegang yang masih saja ia rasakan, meski saat itu ia hanya mengingat kembali mimpi yang ia alami.


Tiba-tiba saja Sheza ingat bahwa mimpi yang sama juga ia alami pada saat ia tidak sadarkan diri, hanya saja dalam mimpinya kali ini ia adalah orang yang menjadi korban dan berada di dalam kendaraan itu, sementara pada mimpi sebelumnya ia hanyalah orang yang menyaksikan kendaraan itu masuk jurang.


Banyak orang yang menganggap jika mimpi dapat membantu proses daya ingat dan pembelajaran di otak. Bahkan ada yang percaya bahwa mimpi adalah merupakan simbolisasi dari peristiwa tertentu yang kita alami.


Apa itu adalah bagian dari ingatanku sebelumnya? , tanya Sheza pada dirinya sendiri. Namun lagi-lagi dirinya tidak bisa menjawab ya atau tidak, karena sampai saat ini memori yang hilang itu belum juga kembali. Ia hanya bisa menerka-nerka.


Namun ia ingat jika otaknya dipenuhi oleh berbagai bayangan dan mimpi itu, hingga ia sendiri merasa lelah frustasi dan kemudian tertidur karena kelelahan berpikir. Apa karena aku terlalu banyak berpikir sebelum tidur sehingga mengalami mimpi itu?, lagi-lagi Sheza bermonolog.


"Aaaarggh ... Persetan dengan semua mimpi dan bayangan itu. Demi Tuhan, aku tidak mau memikirkannya lagi, aku lelah, Sheza menghardik ingatannya sendiri.

__ADS_1


Sheza menarik nafas dalam, berusaha kembali mengontrol emosinya dan mulai berpikir normal.


Netranya kemudian teralihkan ke meja nakas. Ia melihat ponselnya tergeletak di sana. Sheza mengambil ponsel di atas nakas yang berada di samping ranjangnya. Ia hendak mengecek apakah ada panggilan atau pesan terbaru untukmu. Namun sebelum ia membuka kunci ponsel, netranya terpaku pada tampilan awal ponsel yang terdapat tanggal dan hari.


Ia jadi ingat, ini adalah hari ketiga ia berada di mansion ini. Ia merasa fisiknya sudah lebih kuat. Untuk itu ia memutuskan akan kembali ke apartemen yang ditempati sebelumnya. Ia lelah tinggal di mansion ini. Tiap kali berada di mansion ini berbagai bayangan dan mimpi-mimpi aneh selalu saja menghantuinya. Ia benar-benar lelah.


Sheza bangun dari ranjangnya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tekadnya sudah bulat, ia ingin kembali ke apartemennya.


Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar mandi, berjalan menuju walk in closet, dan memilih pakaian yang akan dikenakannya. Sheza memilih pakaian santai miliknya, sebuah setelan celana panjang berwarna krem dengan sweater oversize berwarna senada.


Sheza lalu menatap pakaian yang berada di walk in closet itu, ia menghela nafas lelah. Bisa-bisanya pria itu membeli pakaian sebanyak ini untuk dirinya, seolah-olah ia akan tinggal sangat lama di dalam mansion ini. Tapi sayang, semua pakaian yang ada di sini bukanlah style-nya. Semua pakaian itu berbentuk dress dan gaun, benar-benar pakaian yang merepotkan. Itulah kenapa ia meminta Karen membawakan pakaian dari apartemennya.


Pintu kamar dimana Sheza terbuka. Tanpa melihat sudah tahu siapa yang memasuki kamar ini, Siapa lagi yang berani memasuki kamar di mana ia tidur jika bukan Karen. Sheza keluar dari walk in closet.


Begitu keluar, ia langsung disambut pertanyaan dari Karen. "Bagaimana kabar Nona Hari ini? Apakah Nona sudah sehat? Mari kita sarapan! Nona sudah ditunggu di meja makan", ajak Karen bersemangat. Ia senang melihat kondisi sang nona yang sudah jauh lebih baik.


Netra hazel Sheza menatap Karen datar. "Hmm ya, aku akan ke sana. Sekalian saja aku ingin pamit untuk kembali ke apartemen", ujar Sheza.


Ucapan Sheza cukup membuat Karen terkejut. Tapi Karen segera menguasai diri, ekspresinya kembali santai. Ia sedikit ragu dan tidak yakin kalau tuan mudanya akan membiarkan sang nona kembali ke apartemen, mengingat saat ini situasi sangat berbahaya. Musuh keluarga Safaraz tengah mengincar mereka. Tapi ia tahu diri, kalau ia tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskan itu semua kepada sang nona, biarlah itu menjadi urusan tuan mudanya.

__ADS_1


Sheza berjalan menuju meja rias. Menyisir dan mengikat tinggi rambutnya. Kemudian memoles tipis bedak dan lip gloss di bibirnya yang memang berwarna pink alami. meski berdandan ala kadarnya, namun pesona dan kecantikan sang nona tidak hilang sama sekali. Setelah merasa cukup rapi. Sheza keluar dari kamar, diikuti karen di belakangnya.


__ADS_2