
Sejak awal meeting berjalan hingga berakhir, Arsen tidak mampu mengalihkan pandangannya dari satu sosok cantik di seberang itu, tanpa sadar ia mulai berjalan mendekatinya. Ken nyaris menahan nafas ketika ia menyaksikan bosnya berjalan mendekati Sheza. Namun tak urung pada akhirnya Ken tetap mengikuti sang bos. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan sang bos untuk setiap prilakunya. Ken tahu betul posisi Sheza dalam Safaraz Corp, termasuk posisi Sheza sebagai calon istri CEO sekaligus owner Safaraz Corp. Ia tidak ingin karena kelalaian sang bos, pada akhirnya menimbulkan permasalahan di kemudian hari.
Seolah menyadari ada seseorang di sampingnya, tiba-tiba saja Sheza menghentikan segala aktivitasnya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, kemudian menoleh ke arah samping, tepat ke arah Arsen yang tengah terpaku menatapnya. Netra hazel Sheza menatap pria yang berdiri tepat di sampingnya. Sepertinya Arsen tidak menyadari pergerakan Sheza itu, waktu seolah berhenti disekelilingnya.
Kedua netra itu saling bertatapan. Satu netra menatap penuh kekaguman, sementara netra yang lain memberikan tatapan asing, keningnya sedikit berkerut seolah mempertanyakan keberadaan Arsen yang begitu dekat di sampingnya.
Jujur, Sheza sedikit bingung karena meeting rasanya sudah selesai sedari tadi. Pembahasan sudah selesai, kesepakatan juga sudah didapatkan, jadi rasanya sudah tidak ada lagi urusan yang perlu dilakukan terkait kerjasama tadi.
Namun rasanya memang kurang sopan apabila Sheza mempertanyakan keberadaan sahabat sang bos di sampingnya secara frontal. Sheza berusaha sebisa mungkin bersikap sopan meski ia sendiri merasa kurang nyaman berada di dekat sahabat bosnya ini.
Sheza menarik nafasnya pelan seolah mencoba menetralisir perasaan kurang nyaman yang melingkupi dirinya. Ia berusaha tersenyum di tengah keterkejutannya. Sungguh di saat seperti ini, ia merasa butuh Karen. Sahabat sekaligus bodyguardnya yang cerewet.
"Apa ada yang bisa saya bantu tuan Arsen?", tanya Sheza penasaran, ia tersenyum ramah, meski sedikit memaksakan diri. Pertanyaan Sheza sedikit memecah kebekuan yang ada. Tapi lagi-lagi Arsen tidak merespon, ia hanya terdiam, masih dalam mode freeze. Sheza sedikit bingung melihat respon Arsen. Keningnya semakin berkerut
"Eh, apa tuan Arsen memiliki masalah dengan pendengarannya?", batin Sheza.
Iya mengalihkan pandangannya menatap Fabian, asisten sang bos yang saat ini menjadi pemandu Arsen. Namun tatapan Sheza hanya dibalas Fabian dengan mengangkat bahunya, seolah memberi kode bahwa ia sendiri juga tidak tahu kenapa sahabat bosnya itu mendekati Sheza tanpa memberi aba aba.
Sementara itu dalam pikiran Arsen. Ia terpana melihat wanita yang tengah menatapnya itu. Wanita itu memiringkan kepalanya dan mengembangkan senyumnya yang menawan. Netra berwarna hazel itu begitu tajam menghunus jantung Arsen, hingga jantungnya berdetak cepat. Oksigen serasa lenyap dari paru-parunya. Seketika wajah Arsen merona melihatnya. "Oh tuhan, cantik sekali wanita ini", batin Arsen dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Apakah tuan membutuhkan bantuan saya?", tanya Sheza kembali penuh selidik.
"Egh... Ehmm... Aku...", Arsen menjadi gugup seketika hingga tak mampu meneruskan perkataannya. Namun ia tak juga beranjak dari sana. Ia masih terkesima dengan senyuman wanita yang tengah menatapnya itu.
Karena tidak juga mendapatkan tanggapan apapun dari Arsen. Sheza kembali menunduk. Ia memutuskan mengabaikan saja perilaku Arsen itu, karena ia tidak mungkin juga emosi atau merespon kasar tindakan dari sahabat bosnya tersebut. Sheza kembali menatap satu persatu berkas yang ada di depannya. Ia kembali fokus pada pekerjaannya
Sementara itu Arsen masih bergulat mengendalikan hati dan emosinya agar sedikit lebih stabil.
Sementara itu Ken hanya bisa garuk-garuk kepala melihat tingkah bosnya. "Ya ampun bos, tingkahmu benar-benar konyol. rasanya ingin sekali mengambil videomu, kemudian menguploadnya di media sosial, videomu dijamin bakal viral Bos", ringis Ken dalam hati.
Setelah arsen mampu mengendalikan diri, ia pun menyapa Seza
"Ehmm...nona Arshaka.....?"
"Ya?", jawab Sheza. Suara itu mengalun begitu lembut sampai ke telinga aksen, lagi-lagi membuat wajah Arsen merona.
Sheza sedikit bingung menatap wajah Arsen yang memerah.
"Hmm....apakah anda sakit, tuan Arsen? Wajah anda terlihat memerah", tanya Sheza, ada nada khawatir dalam suaranya.
__ADS_1
Arsen sedikit malu mendapati Sheza mempertanyakan perubahan wajahnya yang tiba-tiba merona.
Arsen memegang dadanya seolah berusaha menetralkan jantungnya yang bergemuruh tidak karuan. Pertanyaan Sheza yang dianggapnya sebagai sebuah perhatian, telah memporak-porandakan hatinya. Setelah ia mampu mengendalikan jantungnya sendiri Arsen mulai sedikit santai membuka percakapan dengan Sheza.
Semua tingkah laku Arsen tidak luput dari perhatian Ken. Ia merasa benar-benar malu atas tingkah sang bos. Ia menutup wajahnya dengan tangan kanannya. Rasanya saat itu Ken ingin sekali menghilang dari ruangan itu.
Sementara Fabian yang ikut memperhatikan tingkah laku sahabat bosnya itu sedari tadi, nyaris tidak sanggup menahan tawanya. Ia yakin bahwa Arsen adalah tipikal seorang penakluk wanita. Ia pastilah sosok pengusaha muda yang biasanya dikelilingi oleh banyak wanita, serta selalu dikejar-kejar oleh wanita di manapun ia berada. Dan lihatlah sekarang, Arsen tampak seperti kebingungan menghadapi seorang Sheza.
Fabian sedikit menyunggingkan senyumannya, namun tidak terlalu tampak. Ia masih sangat menjaga sikapnya, ia masih sayang pekerjaannya. Kalau sampai ada laporan pada tuan Zafier tentang tingkahnya yang tidak sopan pada sang sahabat, maka bisa dipastikan mungkin ia tidak akan bisa melihat matahari besok pagi, seindah Pagi ini.
Arsen menetap Sheza lekat. "Apakah anda sibuk nona Arshaka? Apakah anda menyimpan data keuangan terkait proyek kerjasama ini? Jika diperkenankan. Saya ingin melihatnya setelah ini".
"Hmm, jika anda mau, saya akan memberikannya tuan", jawab Sheza. Entah kenapa suara Sheza terdengar begitu lembut dan merdu di telinga Arsen. Mendengarnya membuat Arsen ketagihan, seolah menjadi sebuah candu yang memabukkan.
"Jika anda tidak keberatan, saya ingin anda menjelaskannya sedikit nona Arshaka", pinta Arsen wajahnya nampak memelas penuh harap dan tetap merona.
Sheza menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Belum lima detik ia mencerna pertanyaan Arsen, berusaha merancang kata untuk memberikan penolakan yang halus, Fabian memotong.
"Maaf tuan Arsen, asisten anda sudah memiliki salinannya tuan", ujar Fabian yang seolah ikut merasakan rasa keberatan Sheza.
__ADS_1
Netra hazel Sheza kembali menatap Arsen curiga. Ia merasa sedikit aneh, karena semua data-data keuangan terkait proyek kerjasama ini memang telah diserahkan kepada asisten Arsen. Ia yakin Arsen bukanlah seorang pengusaha yang baru berbisnis. Sebagai seorang pengusaha yang sudah malang melintang dalam dunia bisnis, pastinya Arsen sudah mempelajari semua data-data itu. Ia tidak mungkin mau ikut dalam proyek kerjasama tanpa mempelajari proyek itu secara mendalam tentang untung dan ruginya. Seorang pebisnis tidak akan mau terlibat dalam sebuah proyek kerjasama yang tidak ada keuntungan sama sekali baginya.
"Tapi saya menginginkan penjelasan yang rinci langsung dari seorang Chief Financial Officer", tegas Arsen tidak mau dibantah. Suasana sedikit memanas.