My Little Gwen

My Little Gwen
Saingan bertambah


__ADS_3

Zafier terus memperhatikan Arsen yang tiba-tiba bertingkah aneh di depannya. Ekspresinya juga tidak kalah aneh. Mulutnya menganga lebar, matanya melotot, sementara tangannya menunjuk-nunjuk tepat ke arahnya. Persis seperti orang yang sedang melihat hantu. Zafier bingung ada apa dengan dirinya, kenapa Arsen menunjuk ke arahnya dengan ekspresi seperti itu.


Zafier menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Arsen. Tapi Arsen tidak meresponnya. Arsen masih dengan ekspresi aneh itu.


Suara Arsen tercekat setelah mengatakan 'dia'. Zafier berusaha menyadarkan Arsen.


"Arsen, kau kenapa? Kau seperti orang yang melihat hantu saja", ujar Zafier cemas. Ia kembali menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Arsen. Lagi-lagi Arsen tidak merespon.


"Dia....dia...!!", mulut Arsen kembali terkunci. Namun ekpresinya masih shock.


Zafier kesal, ingin sekali rasanya menyiramkan minuman dingin ke kepala Arsen, agar ia segera sadar. Tapi Zafier berusaha sebisa mungkin menahan keinginannya itu.


Zafier seolah tersadar, saat Arsen menunjuk ke arahnya dengan ekspresi seperti itu, Arsen bukan menunjuk dirinya tapi sesuatu di belakangnya. Bergegas Zafier kemudian melihat ke arah belakangnya, tepat ke arah tangan Arsen menunjuk tadi. Ia merasa sangat penasaran dengan apa yang barusan dilihat Arsen.


Seketika ia juga terkejut, ia melihat sosok yang tidak asing lagi baginya. "Shezan", gumamnya sangat pelan. Apa yang dimaksud Arsen tadi itu adalah Shezan, batin Zafier. Ada apa dengan Shezan, kenapa Arsen sampai seperti orang kesurupan itu melihatnya. Perasaan Zafier tiba-tiba mulai tidak enak.


Akhirnya perlahan Arsen mulai bisa mengendalikan dirinya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Zafier masih memperhatikan tingkah Arsen.


Setelah Zafier merasa Arsen sudah bisa mengendalikan diri dengan baik, dan sudah bersikap normal kembali, Zafier bertanya. "Bagaimana perasaanmu arsen? Apakah kau sudah bisa mengendalikan diri? Apa kau sudah tenang sekarang? ".


Arsen menatap Zavier, tiba-tiba ia menyadari tingkahnya tadi, ia jadi merasa agak canggung. Tapi ia tetap menjawab pertanyaan Zafier dengan anggukan kepala.


"Aku sangat khawatir melihat tingkahmu tadi Arsen, aku kira kau kesurupan karena melihat hantu", senyum mengejek nampak di wajah tampan Zafier.

__ADS_1


Arsen bertambah malu mendengar kata-kata Zafier.


"Sudahlah, kau jangan mengulang-ulang perkataan tadi, aku sungguh malu mengingat tingkahku yang memalukan tadi", ujar Arsen, ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, ia hanya ingin menghilangkan kecanggungannya saja.


"Sebenarnya ada apa Arsen? Apa yang terjadi padamu tadi? Bisa kau jelaskan siapa yang kau tunjuk-tunjuk tadi", tanya Zafier benar-benar dibuat penasaran dengan tingkah aneh Arsen tadi.


Arsen menarik nafasnya kembali, mencoba menenangkan diri. "Coba kau lihat ke belakangmu, kau lihat wanita cantik itu", tunjuk Arsen ekspresinya agak gugup.


Sejurus kemudian Zafier kembali menoleh ke arah belakangnya. Ia menatap sosok yang tadi sudah ia lihat sebelumnya. Ia agak cemas. "Hmm... apa maksudmu wanita yang sedang duduk sendirian itu?", tanya Zafier minta penjelasan.



Arsen menunduk, seolah sedang berpikir. "Iya", jawabnya pendek.


Arsen terdiam, tidak melanjutkan kata-katanya. Entah mengapa wajahnya terlihat lebih tenang, ia mulai mengenang masa lalunya. Perlahan-lahan adegan demi adegan pertemuan pertamanya dengan seorang wanita yang merupakan pegawai di cabang perusahaannya di kota P melintas di benaknya. Satu wajah yang tidak pernah bisa dilupakannya sejak saat itu. Wanita yang sudah dicarinya kemana-mana keberadaannya tapi seperti hilang ditelan bumi


Namun itu hanya berlangsung tidak lebih dari satu detik, arsen kemudian tersenyum tipis dan berkata, "Kau ingat dengan wanita yang pernah kuceritakan pada waktu itu, Zafier", Arsen menarik nafas dalam, sebuah perasaan aneh mulai merayapinya.


"Kau ingat wanita yang mampu membuatku terpesona, wanita yang mampu mengalihkan duniaku, wanita yang mampu membuat jantungku berdebar sangat kencang. Wanita yang terlambat aku sadari telah memenuhi setiap sudut di di dalam hatiku, tapi kemudian menghilang seolah ditelan bumi? Kau ingat ceritaku kan Zafier? Dan kau tau Zafier, sekarang wanita itu sedang duduk di sana", papar Arsen menunjuk ke arah wanita itu dengan sangat bersemangat. Matanya berbinar penuh gairah.


Bagai petir di siang bolong, Zafier sontak terdiam mendengar pengakuan Arsen. Ia masih mengumpulkan kesadarannya untuk mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Arsen, ia takut pendengarannya yang salah menangkap makna dari kata-kata itu.


Sejenak Zafier terdiam, pendengarannya tidak salah. Wanita yang dimaksud Arsen adalah Shezan. Ia tidak tahu harus berbicara apa, ia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana. Zafier memegang keningnya, kemudian ia bergumam pelan aish...bertambah satu lagi saingan ku.

__ADS_1


Sementara itu arsen sendiri tidak memperhatikan perubahan ekspresi pada wajah Zafier. Matanya fokus memandang wanita yang berada di belakang Zafier.


"Kau tahu Zafier, saat ini rasanya aku ingin sekali mendekat ke sana, memeluk wanita itu erat, aku sangat merindukannya. Aku tidak akan melepaskannya lagi", Arsen berbicara tanpa berkedip sama sekali, sangat fokus, ia seolah takut jika ia berkedip, wanita itu akan menghilang kembali.


Arsen tiba-tiba berdiri dari kursinya, matanya masih fokus menatap wanita itu, ia nampak seperti robot.


Zafier tersentak kaget. Ia pun berdiri menyadarkan Arsen. "Hei Arsen, ayo sadarlah".


Arsen seolah tidak menaggapinya. Zafier melambaikan tangannya berkali-kali di depan wajah Arsen. Arsen tersadar kembali.


"Sabar Arsen", Zafier berusaha menenangkan Arsen. Ia ingat betul bagaimana sifat Shezan setelah berinteraksi beberapa kali dengannya. Jika arsen melakukan apa yang diucapkannya tadi, bisa-bisa wanita itu akan marah dan mengamuk. Lagipula rasanya Zafier sangat tidak rela membiarkan Arsen memeluk wanita itu meskipun Arsen adalah sahabatnya sendiri.


Zafier berusaha menahan Arsen dengan berbagai cara. Tapi Arsen tetap pada pendiriannya.


"Tidak zavier aku harus berusaha segera menjadikan ia milikku. Kalau perlu seperti saranmu waktu itu, aku akan memaksanya", ujar Arsen bersikukuh.


Zavier terkejut, baru kali ini ia merasa menyesal telah memberi saran kepada seseorang.


"Kau tidak berpikir, bagaimana kalau wanita itu marah kau perlakukan seperti apa yang kau katakan tadi, jangankan menyukaimu, ia pasti akan sangat membencimu dan kau akan semakin sulit untuk mendapatkannya. Tidak semua hal bisa dilakukan dengan paksaan Arsen", Zafier mencoba menasehari.


Di saat mereka berdua berdebat, tiba-tiba saja datang seorang pria mendekati wanita itu. Wanita itu langsung memeluk si pria dengan erat. Si pria pun membalas pelukan si wanita, ia mengelus lembut punggung si wanita.


Seketika Arsen dan Zafier melongo, kemudian saling berpandangan, aura di ruangan itu menjadi dingin seketika.

__ADS_1


__ADS_2