My Little Gwen

My Little Gwen
Hanya Padamu Nona


__ADS_3

Suasana resto hotel semakin siang semakin ramai. Hiruk pikuk suara terdengar. Orang-orang lalu lalang, ada yang sudah selesai sarapan dan bergegas keluar resto, ada yang baru masuk resto dan hendak sarapan.


Sementara itu di satu sudut tampak seorang wanita dan pria tengah duduk berdua di satu meja. Jika dilihat dari jauh, benar-benar seperti sepasang kekasih ideal yang tengah memadu cinta.


Namun jika dilihat dari dekat, akan terdengar suara mereka yang tengah berdebat. Satu sama lain sama-sama saling menyindir.


"Mari nona silahkan makan, anda tidak akan gemuk meski makan banyak, karena anda kan masih dalam masa pertumbuhan, tolong maafkan ucapanku kemarin yang mengatakan kalau tubuh anda berat", ujar Zafiermenasehati, diiringi dengan senyuman smirk.


Mata Sheza mendelik. Rasanya ingin menenggelamkan pria ini di kolam yang ada di taman resto ini. Namun Sheza menyadari bahwa ia sebisa mungkin harus menahan emosi dan menunjukkan muka datar saja, karena sepertinya pria ini agak aneh, dia suka sekali melihat dirinya marah. Semua ucapan pria ini sangat provokatif dan menguras emosinya


"Terima kasih untuk nasehatnya tuan, sungguh nasehat yang amat sangat bermanfaat. Hanya saja saya juga mengingatkan tuan untuk jangan makan terlalu banyak di umur setua tuan", jawab Sheza dengan wajah dibuat sedatar mungkin.


"Uhuk... uhuk", Zafier tersedak, kata-kata tua terngiang-ngiang di telinganya. Tapi bukannya marah, Zafier malah tersenyum begitu manis.


"Tua-tua begini dijamin tenagaku masih kuat nona, dan itu semua justru karena aku makan banyak. Kalau nona tidak percaya aku kuat atau tidak, nona bisa mencobanya", ujar Zafier masih dengan senyuman penuh.


Sheza kembali tersedak mendengar ucapan Zafier, wajahnya memerah. Ia memelototi Zafier, kehabisan kata-kata. Zafier sendiri malah sangat menikmatinya. Ia menatap Sheza, memiringkan kepalanya dan mengembangkan senyumnya yang menawan. Mata hitam itu begitu tajam menghunus jantung Sheza hingga berdetak cepat, oksigen serasa lenyap dari paru-parunya.


Ooh sialan....tampan sekali pria ini, batin Sheza tanpa sadar.


Sementara Zafier tidak bisa lepas dari mata itu. Mata itu seperti memiliki kekuatan magis yang menghipnotis di tengah pusaran mata berwarna hazel itu. "Gwen... ", tanpa sadar Zafier bergumam. Wajahnya sendu. Ada gurat kerinduan di sana.


Sheza tersadar, ia melihat perubahan wajah Zafier sesaat, sepertinya ia juga mendengar Zafier mengucapkan sesuatu. Ia mengalihkan tatapannya dari mata hitam Zafier yang tajam, ia mencoba menetralkan detak jantungnya.

__ADS_1


"Hmm ya.... anda mengucapkan sesuatu?", tanya Sheza menajamkan telinganya.


Zafier tersadar, ia telah menggumamkan nama Gwen. Wajah sendunya segera berubah, ia kembali memasang wajah usil.


"Hmm ya, matamu indah sekali nona", jawab Zafier menatap dalam mata Sheza. Selintas terdengar gombal hingga menyebabkan rona merah di wajah Sheza. Tapi sebenarnya itu tulus keluar dari lubuk hati Zafier.


"Aku selalu penasaran dengan warna matamu nona, apakah anda memakai softlens? ", tanya Zafier to the point.


Perasaan tersanjung Sheza langsung terhempas begitu mendengar pertanyaan terakhir Zafier. Ia menatap Zafier kesal, mulutmu pria ini sangat tajam, kapan ia bisa untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang melukai hati orang lain, batin Sheza.


"Haish, kata-kata anda selalu saja mampu menyakiti hati orang lain, tuan", keluh Sheza, ia tidak menjawab pertanyaan Zafier.


Zafier terdiam. Ia memang tidak pernah bisa berkata lembut pada wanita, kebiasaannya yang tidak suka didekati wanita, menyebabkan ia begitu defensif terhadap wanita manapun, kecuali keluarga dekatnya.


Zafier tersenyum. Baru kali ini ia bertemu wanita yang acuh menghadapinya. Selama ini semua wanita yang berinteraksi dengannya akan bersikap menggoda, manja atau melakukan berbagai hal untuk menarik perhatiannya. Tapi wajah cemberut wanita ini mengingatkannya pada wajah merajuk seseorang.


"Hmm...meski berwajah cemberut, anda tetap cantik nona, apalagi kalau anda tersenyum", ujar Zafier kembali tersenyum usil. Sheza diam saja, tidak menanggapi ucapan Zafier. Walau rona merah masih menghias wajahnya.


Ruben yang mengawasi bosnya dari tadi bahkan sibuk mengucek matanya karena tidak bisa mempercayai apa yang terlihat di depan matanya, bosnya yang dingin, tersenyum berkali-kali pada wanita itu. Sungguh suatu keajaiban. Bosnya yang selalu menghindari wanita, kali ini malah menggoda wanita yang justru bersikap acuh padanya. Apa perlu didaftarkan ke Guinness World Record pikir Ruben.


Please bos, kondisikan tingkahmu, seorang bos dingin sepertimu malah bertekuk lutut di hadapan seorang wanita, Ruben hanya bisa meringis dalam hati


Sementara itu di sudut resto yang lain, sepasang mata juga sedang mengamati Sheza dan Zafier. Sepasang mata milik Karen. Ia harus melaporkan semua adegan dan perkembangan yang terjadi pada sang bos melalui Ganial.

__ADS_1


Karen bergegas berdiri ketika ia melihat Sheza berdiri dengan tergesa-gesa. Ia harus segera muncul jika tidak ingin dicurigai Sheza.


Tapi Karen tidak jadi melangkah mendekati Sheza ketika ia melihat tuan Zafier masih menahan Sheza.


"Nona, anda mau kemana?", tanya Zafier agak terkejut melihat Sheza berdiri tiba-tiba.


"Apa saya harus melapor kepada anda jika ingin pergi?", tanya Sheza, ia mengerutkan keningnya.


"Pasti, karena anda kan kekasihku", jawab Zafier datar dengan nada agak keras, alhasil beberapa orang melirik mereka. Mereka mungkin mengira Sheza dan Zafier adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Sheza merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian.


Tiba-tiba Zafier berdiri dan berjalan mendekati Sheza, semakin dekat ia berjalan menuju Sheza, Sheza malah terpaku, kakinya seolah membatu, tidak bisa bergerak. Sejurus kemudian ia membisikkan sesuatu tepat ditelinga Sheza, Sheza bisa merasakan nafas hangat Zafier menyapu telinganya, seiring dengan suara bisikannya, daun telinga Sheza sontak memerah, detak jantungnya kembali kacau.


"Kalau anda tidak mau menjadi pusat perhatian di sini saat ini, maka tetaplah duduk menemaniku", bisik Zafier. Senyuman smirk melengkung di bibir tipisnya.


Sheza terperangah mendengar bisikan yang lebih mengarah pada ancaman.


Karen yang memperhatikan situasi dari jauh, merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Sheza, wajah Sheza langsung berubah ketika tuan Zafier berbisik di telinga Sheza. Ingin rasanya Karen melindungi nonanya itu dari tuan Zafier, tapi Karen bingung harus bagaimana, karena tuan Zafier anak tuan Zaki. Karen terpaksa diam saja menyaksikan semuanya. Maafkan aku nona, ujar Karen pasrah.


Sementara Sheza yang menerima ancaman dari Zafier hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan Zafier. Sheza kembali duduk, ia menatap Zafier dingin, wajahnya kesal. Zafier yang ditatap seperti itu malah tersenyum, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Sheza menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Apa anda selalu memaksa seperti ini tuan? Apa semua wanita selalu anda akui sebagai kekasih?", tanya Sheza kesal. Pria dengan aura yang sangat mendominasi di depannya ini benar-benar bermuka tebal. Bisa-bisanya ia tersenyum seperti itu setelah apa yang terjadi. Kalau bukan karena berada di tempat yang ramai, Sheza pasti lebih memilih untuk tidak mengikuti keinginan pria ini, ia akan melawan pria di depannya, meskipun harus secara fisik. Tangan Sheza mengepal.


Zafier menatap mata hazel Sheza. "Hanya padamu nona Shezan Shaziya Arshaka", jawab Zafier pendek, kali ini tanpa senyuman, ia menatap Sheza dengan serius. Sheza melongo, ia terkejut mendengar pria itu menyebut nama lengkapnya.

__ADS_1


__ADS_2