My Little Gwen

My Little Gwen
Rencana


__ADS_3

Meeting Zafier berakhir. Sepeninggal rekan bisnisnya yang berasal dari negara matahari terbit, tuan Yoshihide, Zafier mulai memikirkan strategi selanjutnya.


Ia tahu musuh mulai bergerak, karena mereka telah berani menargetkan Sheza secara terang-terangan saat ini.


"Carlos, bagaimana kondisi nona Sheza?", tanya Zafier dengan ekspresi dibuat sedatar mungkin. Zafier benar-benar berusaha keras menyembunyikan ekspresinya.


Carlos sedikit tertegun, ia nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan Zafier. Ia berusaha memastikan kalau telinganya tidak salah dengar. Dahinya mengernyit. Ia merasa sedikit aneh, sejak kapan tuan mudanya yang acuh dan dingin ini peduli pada orang lain, apalagi seorang wanita. Eh, tapi tunggu dulu, bukannya tadi pagi kepedulian itu sudah terbangun, batinnya.


"Kenapa kau malah diam dan tidak menjawab pertanyaanku Carlos? ", tanya Zafier masih dengan ekspresi datar. Ia merasa sedikit aneh dengan diamnya Carlos.


Carlos terkejut. "Ma-maaf tuan. Saya hanya merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan tuan. Saya sudah menghubungi Karen tuan. Mereka tidak akan pergi tanpa kita, mereka akan menunggu kita, tuan", jawab Carlos berusaha tenang.


"Kenapa harus terkejut Carlos? Bukankah hal yang lumrah kalau aku mengkhawatirkan calon istri ayahku?" Zafier balik bertanya dengan nada dingin. Tatapannya tajam, penuh aura mengintimidasi, Carlos merasa sesak. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap netra abu-abu sang tuan muda.


Pembicaraan Zafier dan Carlos terus berlanjut. Mereka membicarakan rencana demi rencana yang akan mereka lakukan untuk menyelamatkan Sheza dari incaran para musuh saat ini.


Tiba-tiba Zafier tertegun, ia seperti memikirkan sesuatu. Ia ingat akan keselamatan sang daddy di rumah sakit. Ia kemudian memutuskan untuk melakukan koordinasi dengan pihak rumah sakit dimana sang daddy di rawat, agar perawatan sang daddy dapat dipindahkan ke mansionnya saja.


Zafier memanggil Fabian yang memang berada di ruangan meeting yang sama dengannya. Ia meminta ponselnya yang berada pada sang asisten, Fabian. Fabian menyerahkan ponsel itu pada Zafier dengan hormat, ia sedikit membungkukkan tubuhnya.


Zafier menekan satu nomor di ponselnya, tak berapa lama ponsel terhubung. Sebuah suara terdengar di seberang sana.


"Selamat siang tuan muda Zafier!", sapa Ganial hormat begitu ponsel terhubung.

__ADS_1


"Paman saat ini musuh sudah mulai nekat menyerang dan menampakkan diri. Aku ingin Paman berkoordinasi lebih lanjut dengan dokter yang saat ini merawat daddy di rumah sakit. Paman harus pastikan bahwa kondisi daddy sudah aman untuk bisa dipindahkan ke mansion kita. Aku ingin paman mengurus kepindahan daddy ke mansion. Aku juga ingin paman mengkondisikan mansion layaknya ruang perawatan daddy beserta dokter-dokter yang berkompeten di bidangnya demi untuk kesembuhan daddy. Aku tidak mau risiko yang akan terjadi jika daddy masih tetap dirawat di rumah sakit ini", terang Zafier panjang lebar.


"Siap tuan! ", ujar Ganial singkat. Ia tahu ucapan sang tuan muda adalah suatu perintah yang harus dipatuhi dan dilaksanakannya. Yaa... Ganial menyadari bahwa saat ini tuan Zaki Safaraz sedang dalam keadaan koma. Oleh sebab itu Zafier lah yang memegang kendali untuk semua urusan.


Sementara itu yang terjadi pada Karen...


Perhatian Karen seketika teralihkan ketika tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, menandakan sebuah pesan baru masuk. Karen bergegas meraih ponsel yang berada di dalam kantong celananya. Sebuah pesan dari Carlos.


Rentetan pesan terus masuk satu persatu ke dalam ponselnya. Karen nampak serius. Untung saja Sheza nampak asik menikmati hidangan yang tersaji di depannya. Ia tidak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan Karen.


Karen tampak masih terus memperhatikan layar ponselnya. Ia membaca dan mempelajari satu persatu pesan yang dikirimkan oleh Carlos. Pesan itu berisi instruksi-instruksi yang harus dilakukannya, setelah keluar dari hotel.


Rupanya Zafier ingin semua berjalan tetap seperti semula. Ia ingin menjebak para penguntit Sheza. Rencana yang mereka jalankan ini tetap akan melibatkan Sheza di dalamnya. Sebenarnya Karen sedikit khawatir akan keselamatan sang nona. Namun Kare sendiri yakin bahwa tuan mudanya pasti sudah memperhitungkan semuanya dengan matang. Rencana itu tidak mungkin akan membahayakan sang nona, karena selama ini orang-orang mereka tidak pernah gagal dalam mengeksekusi rencana-rencana mereka.


Ia sedikit khawatir kalau nonanya nanti mengajak pulang. Ia harus mempersiapkan alasan agar nonanya mau bertahan sementara di resto ini sampai meeting sang tuan muda selesai.


"Aaa, aku kekenyangan sekali Karen, dan sekarang mataku mengantuk", keluh Sheza sambil memegang perutnya. Punggungnya bersandar nyaman pada sandaran kursi.


Karen menatap Sheza. Sebuah ide terlintas di otaknya.


"Bagaimana kalau nona tidur saja di sini dulu, aku akan mengambil satu kamar untuk nona", ujar Karen beranjak dari kursinya. Ia bermaksud menuju ke resepsionis untuk melakukan reservasi kamar.


Sheza terkejut, dan bergegas menarik Karen untuk kembali duduk. Netra hazelnya melotot, tapi bukannya menakutkan, wajah Sheza menjadi lucu menurut Karen.

__ADS_1


"Iih, kau ini apa-apaan sih, buat apa juga aku tidur di hotel ini", sungutnya. Wajahnya kembali cemberut.


Sejurus kemudian Sheza menyambung kembali ucapannya, "Kan gak enak kalau tidur di hotel sendirian", keluhnya sendu.


Karen menganga, ia menatap tidak berkedip pada sosok cantik di depannya. Sosok cantik didepannya nampak membasahi bibir dengan cara seksi dan menantang, lalu kembali mengulum bibir dan tersenyum jahil. Karen memijat pelipisnya frustasi.


Tiba-tiba ponsel Karen kembali berbunyi. Ia bergegas mengeluarkan ponselnya dari saku. Pesan dari Carlos.


Carlos: Karen meeting tuan muda telah selesai, kita bertemu di parkiran. Tunggu kami di sana!


Karen: Ok bos!


Karen memperhatikan Sheza yang juga tengah menatap jam yang melingkar di tangannya. Sheza nampak mulai gelisah


"Karen, ternyata sudah hampir dua jam kita berada di sini. Ayo kita kembali ke kantor", ujarnya panik.


"Baik nona", ujar Karen patuh. Ia lega karena waktunya bersamaan dengan selesainya meeting tuan muda. Kalau tidak, aku pasti bingung mencari alasan yang pas untuk menahan nona Sheza di sini lebih lama, batin Karen. Ia menghela nafas lega.


Sesuai rencana yang sudah diinformasikan Carlos, Karen memang sengaja bergegas keluar dari hotel tanpa menunggu Sheza. Meski awalnya ia khawatir meninggalkan Sheza sendirian namun carlos memastikan bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkan kondisi nonanya itu karena Tuan muda Zafier akan mengawasi sang nona di lobby hotel.


Begitu Karen melangkahkan kaki keluar dari pintu hotel, Carlos langsung menariknya. Karen terkejut, reflek ia melakukan perlawanan karena berpikir ia sedang di serang orang lain. Begitu menyadari siapa yang menariknya, karen menahan serangannya


"Maaf Bos, aku pikir ada orang lain yang hendak menyerangku, ujar Karen cengengesan. Carlos tidak merespon, ia hanya diam dan bergegas menarik Karen untuk mengikutinya.

__ADS_1


"Tenang bos, aku pasti mengikutimu. Kalau bos menarik-narikku seperti ini bisa-bisa orang salah sangka. mereka bisa mengira bahwa bos adalah orang yang bermaksud menculikku", ujar Karen lagi. Ia sedikit kesel karena Carlos menariknya dengan cukup kuat. Carlos hanya memutar matanya malas mendengar ucapan Karen. Ia kemudian melepaskan Karen, kemudian berjalan sendiri sementara Karen mengikutinya dari belakang.


__ADS_2