
Pertemuan Sheza dengan dokter yang bertanggung jawab atas kondisi Zaki, membawa ia berkenalan dengan seorang dokter muda.
"Oh ya, perkenalkan namaku Nicholas julianta. Nona bisa memanggilku Niko. Kebetulan aku adalah dokter yang diberi kepercayaan oleh Zafier untuk menjadi penanggung jawab di sini. Di sini juga terdapat dokter-dokter spesialis yang bertugas untuk kesembuhan Daddy Zaki", jelas dr. Niko dengan netra yang tak lepas dari wajah cantik didepannya.
Mendengar nama itu, Sheza ingat sesuatu. dokter yang menangani Daddy Zaki di rumah sakit bernama dr. Eka Julianta, apa dr. Niko ini anaknya?, pikir Sheza. Namun pertanyaan itu hanya disimpan di otaknya saja, ia sedang malas untuk meminta informasi langsung. Ia ingin lebih fokus untuk menanyakan kondisi Daddy Zaki saja.
"Karena anda adalah orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab bagi kondisi Daddy Zaki, aku ingin tahu bagaimana kondisi Daddy Zaki saat ini dokter?", lanjut Sheza bertanya, dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Ia nampak antusias menunggu jawaban sang dokter. Namun bukannya menjawab, dr. Niko melirik ke arah Zaki, kemudian ia menghela nafasnya dengan berat.
"Sebaiknya aku menjelaskannya di luar saja Nona Sheza. Aku tidak ingin mengganggu ketenangan Daddy Zaki di sini", ujar dr. Niko. Ia masih sibuk melakukan pemeriksaan dan pengecekan pada alat-alat medis yang terpasang pada tubuh Daddy Zaki.
Dr. Niko pun berjalan keluar dari ruangan Zaki. Sebelum keluar dari ruangan, ia berpamitan terlebih dahulu pada Zaki. Hal serupa juga dilakukan oleh Sheza. Ia berpamitan pada Zaki. Kemudian ia pun mengikuti dr. Niko keluar dari ruangan.
"Sebaiknya kita bicara di balkon lantai tiga ini saja Nona Sheza. Tapi izinkan aku untuk berpamitan pada rekan dokterku yang lain", ujar dr. Niko.
Tak berapa lama kemudian, dr. Niko keluar dari ruang dokter. "Maafkan aku karena nona harus menunggu", ujar dr. Niko penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa dokter", jawab Sheza datar.
Dr. Niko membuka pintu otomatis kemudian mempersilahkan Sheza untuk keluar terlebih dahulu. Ia kemudian mengikuti Sheza keluar. Setelahnya, Karen pun ikut keluar, sementara Adolf memilih untuk tetap berada di dalam ruang perawatan, untuk memastikan kondisi terkini dari tuan besarnya.
__ADS_1
Dr. Niko dan Sheza berjalan menuju balkon yang terdapat di lantai tiga ini, sementara Karen dengan setia mengikuti di belakangnya.
Begitu sampai di balkon, mereka duduk di sofa yang terdapat di sana. Mereka duduk berseberangan dipisahkan oleh sebuah meja, sementara Karen memilih duduk di pojok lain di balkon itu sambil mengawasi sang nona.
Dr. Niko menatap Karen sedikit tidak bersahabat dan Karen menyadari itu.
"Aku merasa seperti seorang yang akan berbuat jahat pada anda Nona Sheza. Bodyguard anda benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik untuk menjaga anda meski di mansion tuannya sendiri", ejek dr. Niko. Sudut matanya melirik ke arah Karen. Karen yang mendengar sindiran dr. Niko terlihat acuh tak acuh.
Anda pikir, aku tidak tau maksud anda dr. Niko. Aku wajib menjaga nonaku dari mahluk tak tau malu seperti anda. Dari pandangan anda saja, aku sudah tau seperti apa perasaan anda pada nonaku, Karen hanya mampu bermonolog pada dirinya sendiri. Dalam hati mati-matian menahan keinginan untuk mengatai pria tampan didepannya secara langsung.
Sheza tidak menanggapi keluhan dr. Niko. Karena sejujurnya ia justru merasa lebih nyaman dengan keberadaan Karen bersamanya. Ia tau betul seperti apa pria di depannya. Tanpa malu-malu pria ini menunjukkan ketertarikan padanya. Entah kenapa Sheza merasa tidak nyaman berdekatan dengan pria ini. Apakah memang sudah sifatnya yang seperti itu, apa ia seorang player, berbagai pertanyaan memenuh otak Sheza. Ia memasang mode waspada.
"Bukankah anda berjanji akan menjelaskan bagaimana kondisi Daddy Zaki saat ini dr. Niko?", tanya Sheza mengabaikan ucapan dr. Niko sebelumnya.
Dan itu sangat disadari oleh Sheza, dari pertama mereka beradu tatapan, Sheza dapat melihat tatapan itu dengan sangat jelas.
Sheza yang merasa tidak nyaman mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tatapannya berubah datar dan sangat dingin.
Hah, apa pesonaku saat ini sudah mulai meredup. Wanita ini benar-benar tidak terbius dengan pesonaku rupanya. Ia sangat datar dan acuh, batin dr. Niko.
__ADS_1
"Maafkan aku nona, aku malah terpesona pada mata hazel anda", ujar dr. Niko tersenyum salah tingkah. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Sheza tidak menanggapi ucapan dr. Niko yang terkesan seperti rayuan.
"Kembali ke topik semula dokter!", ujar Sheza tegas, kembali mengabaikan ucapan dr. Niko yang melenceng dari topik yang ingin ia dengar.
"Baiklah Nona. Anda tidak suka basa basi ternyata", dr. Nico tersenyum kikuk, menyadari ketegasan wanita di depannya. Tapi entah kenapa hal itu justru mematik ketertarikannya.
Wanita cantik di depannya ini sangat berbeda, alih-alih berusaha menarik perhatiannya, ia malah terkesan galak. Selama ini wanita yang ditemuinya adalah wanita penuh drama yang selalu berusaha untuk menarik perhatiannya.
Yaaa, wanita mana yang tidak akan tertarik pada dirinya, selain berotak encer yang dibuktikan oleh profesinya yang seorang dokter spesialis, wajahnya pun tampan, sekaligus sudah mapan.
Dr. Niko boleh memasang wajah serius, karena kali ini penjelasannya terkait dengan kondisi Daddy Zaki, laki-laki yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri. Dr. Niko kembali menarik nafas berat. "Saat ini Daddy Zaki dalam kondisi tidak sadar.
Secara medis kondisi daddy Zaki berada pada fase vegetative state. Mereka yang hidupnya tidak sadar penuh dan tidak bisa memberikan respons cukup pada lingkungannya. Namun orang tersebut masih dapat menyadari apa yang terjadi di sekitarnya meskipun tidak dapat memberi respons baik dalam bentuk komunikasi maupun gerakan tubuh. Daddy Zaki tidak dapat merespon suara ataupun rasa nyeri. Kondisi ini terjadi karena menurunnya aktivitas di dalam otak sebagai akibat dari cedera yang dialaminya", jelas dr. Niko.
"Kapan daddy bisa pulih kembali?", tanya Sheza kembali.
"Saat ini kami tidak bisa menentukan kapan daddy Zaki akan sembuh. Kami hanya bisa mengupayakan perawatan dan pengobatan terbaik bagi Daddy Zaki.
Saat ini seluruh kebutuhan Daddy Zaki selama mengalami koma, seperti kebutuhan nutrisi,cairan, dan obat diberikan lewat selang infus. Kehidupan Daddy Zaki harus ditopang dengan alat-alat medis untuk mengetahui denyut jantung, oksigen dll.
__ADS_1
Hal ini nantinya akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi daddy Zaki dan juga penilaian klinis oleh dokter. Tim dokter akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi yang ketat selama dua puluh empat jam full, sehingga jika terjadi perbaikan pada pasien baik dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang serta pasien telah mampu bernapas sendiri secara spontan, maka satu persatu peralatan akan dilepas.
"A-apakah Daddy Zaki bisa sembuh kembali?", tanya Sheza lirih, suaranya nyaris bergetar menahan emosi kesedihan.