
Arsen masih hanyut dengan kesedihannya. Sementara Zafier mencoba menghibur sahabatnya itu.
"Sudahlah Arsen, yang terpenting saat ini adalah kesembuhan papimu. Tetap berikan dokter dan pengobatan terbaik untuk papimu agar kesehatannya pulih. Jika kondisinya membaik dan ia dapat sadar kembali, kita bisa menanyakan semuanya secara lebih detail. Setelah itu baru kita cari saudara sepupumu itu", hibur Zafier lagi mencoba menenangkan dan memberikan solusi.
"Pasti Zafier, aku memang selalu mencari dokter dengan pengobatan terbaik untuk papi", ujar Arsen yakin.
"Kau yakin tidak mengetahui sedikitpun info tentang saudara sepupumu itu. Di daerah mana ia menghilang, nama panggilan atau nama keluarganya, atau kapan kejadiannya", tanya Zafier, keningnya berkerut memikirkan sesuatu. "Kau tau Arsen... kisah yang kauceritakan agak mirip dengan kisah Gwenku... ", tukas Zafier, tapi kemudian Zafier tidak lagi melanjutkan ceritanya. Emosi mulai menyelimuti dirinya. Ia tidak mau berandai-andai kalau orang yang dimaksud Arsen adalah Gwennya. Ia tidak akan mampu membayangkan akan seperti apa emosi dan kemarahannya, kalau orang yang menjahati Gwen, orang yang menghancurkan kehidupan dan masa depan Gwen adalah keluarga sahabatnya sendiri. Zafier berusaha membuang jauh-jauh pikirannya itu. "Hmm....lagipula wilayah kejadiannya berbeda, batin Zafier, berusaha menghibur diri.
Mendengar ucapan Zafier yang terhenti, Arsen menatap Zafier sejenak. Tidak ada satupun kaya keluar dari mulutnya. Sebagai sahabat sejak masih sama-sama kuliah, Arsen memang sudah pernah mendengar cerita Zafier tentang Gwennya, tentang bagaimana perasaan Zafier yang mendalam terhadap Gwen.
"Hari semakin larut Arsen, harus kembali ke hotel, besok aku ada jadwal meeting dengan beberapa rekan bisnisku", Zafier mencoba mengalihkan pembicaraannya. Ia tidak ingin Arsen tertekan karena ucapannya tadu.
"Sebaiknya kau menginap di mansionku saja Zafier", pinta Arsen. Zafier terdiam, ia sedang memikirkan cara untuk menolak.
"Mungkin lain kali saja Arsen. Malam ini aku ada meeting internal dengan timku untuk menghadapi meeting besok. Kebetulan mereka baru sampai tadi siang dari Amsterdam", ujar Zafier.
"Baiklah Zafier, aku mengerti kesibukanmu. Tapi sebaiknya kau makan malam dulu di sini. Oiya apa kau tidak ada jadwal bertemu daddymu di kota J ini, aku juga ingin menyapa daddymu, sudaj lama rasanya aku tidak bertemu daddymu", tukas Arsen.
Zafier menatap Arsen dan tersenyum tipis, sambil berkata, "Jangankan kau Arsen, aku saja yang anaknya nyaris hampir 6 tahun tidak bertemu muka".
Setelah makan malam di mansion Arsen. Zafier pun kembali ke hotelnya. Meeting internal dengan timnya untuk membahas pertemuan besok hanya dilakukannya di ruang resto VVIP hotel dimana ia menginap. Selanjutnya Zafier kembali ke kamar hotelnya.
Di kamarnya, Zafier membuka galeri ponselnya. Satu persatu ia scroll foto yang ada di galeri. Seperti biasanya, foto Gwen masih menjadi foto favoritnya.
__ADS_1
Foto kecil Gwen yang lucu, hingga saat Gwen mulai tumbuh remaja. Semuanya tersimpan dengan rapi di galeri foto Zafier.
Di saat tengah asyik tenggelam dengan kenangan-kenangannya bersama Gwen. Ponsel Zafier berdering. "Daddy call", demikian yang tertulis di layar ponselnya, bergegas Zafier menekan tombol panggilan.
Zafier, "Malam daddy", sapa Zafier.
Zaki, "Malam Fier, apa kau masih di kota J?, berapa. lama kau di sana Fier? ", tanya Zaki.
Zafier, "Ada beberapa jadwal pertemuan dengan rekan bisnisku dad. Paling tidak satu minggu ini aku masih harus berada di sini dad, setelah itu akan diurus anak buahku di sini. Ada apa daddy? Jangan bilang kalau kau merindukanku", tawa Zafier.
Zaki terdiam, dalam hati ia bergumam sendu, 'Tidak bolehkah aku merindukanmu nak'.
Zafier tidak mendengar suara apapun dari seberang ponselnya. Keningnya berkerut.
Zaki, " Ya, aku baik-baik saja. Aku pikir tadinya kau melupakan janjimu ke kota P, dan kembali ke Amsterdam", Zaki tertawa.
Zaki, "Hahaha, mana mungkin daddy. Aku harus pastikan dulu calon istri daddy adalah seorang wanita baik-baik, aku tidak mau ia meracuni daddy karena menginginkan harta daddy nantinya. Aku hanya punya daddy saja di dunia ini. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa daddy".
Zaki terdiam, kata-kata Zafier barusan laksana air dingin yang menyiramnya di tengah kegersangan gurun pasir. Zaki terharu, senyum bahagia terlukis indah di bibirnya.
Zaki, "Terima kasih nak".
Zafier, "Terima kasih untuk apa daddy? ", tanya Zafier bingung.
__ADS_1
Zaki, " Terima kasih untuk sudah mengkhawatirkanku nak".
Zafier terdiam.
Setelah pembicaraan beberapa saat. Percakapan via ponsel dengan sang daddy pun berakhir.
Zaki sendiri lanjut menghubungi Ganial.
Zaki, "Oke Ganial, sesuai prediksimu, paling cepat satu minggu lagi ia di kota J, lakukan semua seperti rencanamu, jika terkendala atau gagal, lakukan rencana cadangan, jangan sampai gagal. Dan ingat, tetap awasi dan lindungi putraku, serta Sheza".
Ganial, " Siap tuan".
Percakapanpun berakhir.
...----------------...
Sementara itu di kamarnya, Sheza nampak asyik mempersiapkan semua perlengkapannya, karena esok adalah jadwal keberangkatannya ke kota J. Semua kecurigaannya terhadap sesuatu yang disembunyikan Karen siang tadi, sudah dilupakannya begitu saja. Ia benar-benar tidak sabar bertemu dengan Seif, kakaknya, sehingga yang ada di pikirannya saat ini hanya Seif dan Seif saja.
Keesokan harinya, Sheza sudah bangun pagi-pagi sekali. Setelah sarapan dengan Karen, mereka menuju bandara diantar salah seorang sopir pribadi Zaki. Mereka akan menaiki pesawat pagi di kelas bisnis seperti yang sudah diatur Karen.
"Kenapa harus kelas bisnis Karen?, kita bisa pesan tiket kelas ekonomi saja, aku gak enak sama daddy Zaki, sudah banyak merepotkannya", tanya Sheza.
"Tidak apa-apa nona, tadinya tuan malah ingin pakai jet pribadinya, cuma paman Ganial bilang nanti nona malah lebih tidak nyaman, karena belum terbiasa", jawab Karen lagi. Mata Sheza langsung takjub ketika mendengar Karen menyebut jet pribadi.
"Ya ampun Karen, sekaya apa sih daddy Zaki sampai punya jet pribadi", Sheza masih merasa takjub. Karen cuma tersenyum mendengar ucapan Sheza.
__ADS_1
"Kaya sekali nona, makanya aku suka bingung kalau lihat kelakuan tuan muda Zafier. Daddynya sekaya itu, kalaupun ia cuma ongkang-ongkang kaki menikmati kekayaan daddynya sendiri, bisa dipastikan kekayaan daddynya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Terus buat apa coba? ia capek-capek merintis perusahaannya sendiri dari nol. Kadang aku suka kasihan pada tuan Zaki, ia sangat merindukan anak satu-satunya itu. Tapi anaknya yang keras kepala itu tidak juga mengerti", Karen berkata dengan emosi.
Sheza menatap Karen, prihatin terhadap daddy Zaki. Dalam hatinya Sheza bertekad akan mengeluarkan segala kemampuannya untuk dapat membantu daddy Zaki agar lebih dekat dengan anaknya, agar anaknya yang keras kepala itu bisa mengetahui betapa ayahnya begitu merindukannya.