My Little Gwen

My Little Gwen
Ingin bertemu Zaki (1)


__ADS_3

Setelah bangun dari tidurnya pagi itu Sheza harus mengalami serangkaian pemeriksaan oleh Oleta. Sheza hanya bisa pasrah walaupun ia merasa dirinya baik-baik saja. Meski tekanan darah, nadi dan detak jantungnya sudah mulai stabil dan normal, namun ia tetap saja diharuskan beristirahat. Sejak tadi Sheza hanya membolak-balikkan tubuhnya saja di atas kasur. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya. Sebenarnya ia merasa sangat bosan tapi ia diharuskan tetap beristirahat saja di atas tempat tidur, apalagi dari tadi Karen mengawasinya.


Aaarrgh...aku sangat bosan, batin Sheza.


Sheza beranjak dari ranjang, ia bergegas turun dari atas ranjang namun Karen yang duduk di sofa langsung berdiri dan menghampirinya.


"Nona mau ke mana? atau nona menginginkan sesuatu? Biar aku saja yang mengambilkannya untuk nona. Nona cukup istirahat saja di ranjang", bujuk Karen.


Sheza menatap Karen malas. Ia heran kenapa Karen menjadi membosankan seperti ini.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan jika aku ingin ke kamar kecil?, ujar Sheza balik bertanya dengan kesal.


"Sepertinya nona sudah sembuh karena sifat nona sudah kembali ke pengaturan awal, jutek", ujar Karen tersenyum menyebalkan. Ia tidak menanggapi pertanyaan Sheza.


Akhirnya Karen hanya menatap Sheza yang berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Selepas menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Sheza berjalan menuju balkon diiringi oleh tatapan waspada dari Karen.


Sheza terus berjalan sampai di balkon sementara Karen mengikutinya dari jarak dekat.


"Karen, aku merasa sudah pulih kembali dan kau tahu, aku merasa sangat bosan harus berada di atas ranjang saja. Aku ingin mengunjungi daddy Zaki. Aku ingin melihat kondisinya saat ini", pinta Sheza.


Karen terdiam, ia tidak tahu harus bicara apa. Melarang sang nona yang keras kepala hanya akan membuat ia dimusuhi oleh sang nona.

__ADS_1


"Apa kau tahu dimana daddy Zaki dirawat? Aku ingin ke sana. Aku harap kau bisa mengantarkanku. Dan satu hal lagi Karen! Aku tidak mau menerima penolakan", ujar Sheza, yang lebih kepada sebuah perintah pada Karen.


Karen menghela nafas berat, "Tapi nona... ", ucapannya terjeda, ia ragu, netranya menatap Sheza dengan tatapan memohon. Ia tidak berani menentang perintah Zafier, tapi di satu sisi, ia sangat memahami kondisi Sheza dan ia sendiri juga melihat Sheza dalam keadaan yang sudah lebih baik.


"Aku tidak akan kemana-mana Karen. Aku hanya ingin mengunjungi daddy Zaki. Bukankah kamar perawatannya berada dalam lingkungan mansion ini juga", lanjut Sheza.


Karen hanya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap netra hazel milik Sheza.


Sebenarnya Sheza ingin marah menerima penolakan Karen, tapi ia sendiri memahami bahwa Karen hanya menjalankan tugasnya yang diberikan oleh tuan muda Zafier.


Otak Karen kembali dipaksa berpikir. Daripada harus menghadapi kemarahan sang nona, Karen memutuskan meminta izin pada Zafier melalui Carlos.


Setelah tanya jawab yang cukup melelahkan, akhirnya izin didapatkan juga. Karen sangat senang. Ia segera memberi kabar pada sang nona.


"Kita akan menunggu kedatangan paman Adolf terlebih dahulu nona. Ia akan mengantarkan kita ke kamar tuan besar Zaki, karena tidak semua orang bisa memasuki kamar tuan besar Zaki, ada kunci pengamanan khusus untuk menuju ke sana nona", jelas Karen.


"Hmm, baiklah", jawab Sheza pendek. Sambil berlalu menuju Walk in closet untuk mengganti pakaiannya yang sudah disediakan di sana. Awalnya Sheza cukup heran, bagaimana mungkin hanya tidur satu malam di kamar ini dan pakaian untuknya telah tersedia di sana tapi ya sudahlah, bukankah itu hal yang mudah saja terjadi di mansion ini atas kekuasaan sang tuan muda.


Setelah berganti pakaian Sheza dan Karen menunggu di sofa yang ada di dalam kamar itu. Tak berapa lama kemudian intercom berdering, sebuah panggilan dari Adolf yang menyatakan bahwa ia sudah berada di depan pintu kamar yang ditempati. Perlahan Karen membuka pintu diikuti oleh Sheza di belakangnya. Adolf membungkukkan tubuhnya pada Sheza. Kemudian mereka pun berjalan beriringan menapaki lantai mansion menuju ke arah lift.


Mereka sampai di depan pintu lift. Begitu pintu lift terbuka, Adolf mempersilahkan Sheza untuk masuk. Mereka masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke kamar Zaki yang terletak di lantai tiga mansion.


Lift kemudian berhenti di lantai yang mereka inginkan. Setelah pintu lift terbuka mereka melangkah keluar berjalan perlahan menuju ruangan di mana Zaki dirawat .

__ADS_1


Langkah Sheza memelan saat sudah tiba di depan kamar tujuan.


Sheza berhenti tepat di depan pintu kamar itu. Ia menatap pintu kamar itu dengan berbagai pikiran. Ia menarik nafasnya kemudian menghembuskannya dengan perlahan, berusaha menenangkan diri.


Karen yang sudah sedari tadi mengikutinya, ikut berhenti di belakangnya. Ia sedikit aneh dengan tingkah sang nona. Saat mereka masih berada di bawah tadi, sang nona begitu menggebu-gebu ingin menemui tuan besar Zaki, tapi begitu mereka berada di depan pintu kamar tuan Zaki, nona Sheza seperti kehilangan semangatnya.


"Ada apa nona?", tanya Karen penasaran. Sheza berbalik dan menatap Karen.


"Aku harus menguatkan diri untuk bertemu dengan daddy Zaki, Karen. Aku tidak ingin tampak bersedih di depan daddy Zaki", jawab Sheza berusaha menguatkan diri.


Sheza kembali menarik nafasnya, mulutnya nampak komat-kamit seolah membaca mantra untuk menguatkan diri.


Perlahan Adolf menekan semacam kode pada kunci pintu otomatis yang terdapat di dinding sebelum memasuki kamar. Pintu otomatis terbuka. Adolf tidak langsung masuk, ia menunggu Sheza masuk terlebih dahulu.


Sheza kembali menarik nafasnya pelan, kemudian ia memantapkan diri untuk melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu untuk menemui seseorang yang sangat dirindukan.


Dan, disinilah ia berada. Sebuah kamar mewah dan sangat besar. Ruangan itu nyaris seperti sebuah klinik. Terdapat beberapa ruangan bersekat. Ada ruangan dokter dan perawat, ruang peralatan medis dan ruang obat-obatan.


Ruang dimana Zaki dirawat telah disulap menjadi layaknya Ruang ICU (intensive care unit) di rumah sakit, yakni ruangan khusus yang disediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat. Ruangan ini dilengkapi dengan peralatan medis khusus yang digunakan untuk menunjang proses pengobatan dan pemulihan Zaki Safaraz.


Kamar itu dilengkapi dengan berbagai peralatan seperti Monitor yang digunakan untuk memonitor kinerja organ tubuh, seperti detak jantung, kadar oksigen dalam darah, atau tekanan darah. Terdapat juga Ventilator untuk membantu pernapasan. Alat ini nampak terpasang pada Zaki. Peralatan Defibrilator yakni alat kejut jantung yang digunakan untuk memulihkan detak jantung normal jika tiba-tiba detak jantung berhenti, juga bisa ditemukan di ruangan itu. Masih banyak peralatan medis lainnya di sana.


Infus yang berfungsi untuk memasukkan cairan, nutrisi, serta obat-obatan melalui pembuluh darah vena.Seluruh kebutuhan Zaki selama mengalami koma, seperti kebutuhan nutrisi,cairan, dan obat diberikan lewat selang infus. kehidupan Zaki ditopang dengan alat-alat medis untuk mengetahui denyut jantung, oksigen dll.

__ADS_1


Seluruh kebutuhan Zaki selama mengalami koma, seperti kebutuhan nutrisi, cairan, dan obat diberikan lewat selang infus yang terpasang di tubuhnya. Kehidupan Zaki ditopang dengan alat-alat medis itu, guna membantu dalam proses menstabilkan kondisinya.


__ADS_2