My Little Gwen

My Little Gwen
Satu kesempatan


__ADS_3

Pagi pun menjelang. Matahari masih belum mau menampakkan sinarnya. Suasana masih gelap di luar sana.


Stefano terbangun oleh dering jam weker yang memekakkan telinga. Pagi ini ia bangun dengan penuh semangat. Ia masih ingat kalau kemarin sang ayah telah berjanji untuk memberikan ia satu kesempatan. Ia bertekad untuk memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ia akan mengambil simpati sang ayah agar sang ayah mau memaafkannya dan melupakan semua kesalahan yang telah ia lakukan. Ia tahu, ayahnya paling peduli terhadap perusahaan karena perusahaan adalah hasil pencapaiannya.


Stefano bergegas bangun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi, ia berjalan menuju wardrobe. Ia memilih setelan jas terbaik yang ia punya. Ia ingin tampil memukau kali ini, agar semua orang terhipnotis pada penampilannya, dan melupakan skandal yang pernah ia buat.


Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar Stefano. Ia tidak bergeming, ia tau itu bukan sang ibu. Karena kalau sang ibu, pasti ia sudah langsung menerobos kamar tanpa perlu mengetuk pintu. Ia masih sibuk dengan aktivitasnya, tak ada niat sedikitpun untuk membuka pintu kamar. Selang beberapa saat kemudian, ia mendengar seseorang berbicara, "Ma-maaf tuan, anda sudah ditunggu oleh nyonya di ruang makan".


"Baik, katakan pada ibu, aku akan segera turun", ujar Stefano dari dalam kamarnya.


Setelah merasa bahwa penampilannya cukup baik, Stevano bergegas turun menuju ruang makan. Di sana ia melihat ibunya sedang menata meja makan dibantu oleh para asisten rumah tangga.


Ratih, sang ibu tersenyum padanya, Stefano pun bergegas mendekati sang Ibu dan mencium pipinya. "Halo ibu!", ujarnya penuh semangat.


Ratih menatap Stefano dengan bahagia, syukurlah anaknya telah kembali ceria. Tidak ada yang lebih ia syukuri daripada itu, melihat anaknya terpuruk sungguh menyakitkan buatnya.

__ADS_1


"Ayo kita makan nak", ajak Ratih pada Stefano. "Kamu mau sarapan nasi goreng atau roti?", tanya Ratih lagi.


"Aku mau roti saja, dengan selai kacang bu", jawab Stefano. Ratih bergegas mengambil sepotong roti kemudian mengoleskan selai kacang di atasnya. Ia juga menuangkan segelas kopi kesukaan sang anak.


"Terima kasih Bu", ujar Stefano. "Ibu memang yang terbaik", lanjutnya lagi. Ratih tersenyum menanggapi.


Selesai sarapan, Stefano kemudian beranjak berdiru dan berjalan keluar.


"Kamu akan ke kantor dengan sopir, Stefano", ujar sang ibu. Stefano terkejut, keningnya berkerut kemudian menatap Ratih seolah meminta penjelasan.


"Ibu tidak menginginkan kejadian serupa kembali terulang, kamu harus tetap dalam pengawasan ibu", ujar Ratih dengan tegas. Stefano menghela nafas, kesal, namun ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Apa yang diucapkan Ratih adalah sesuatu yang mutlak dilakukan. Stefano tidak punya pilihan.


"Semoga semua lancar ya nak", doa sang ibu.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, Stefano tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya akibat keputusan sang ibu. Jalanan yang masih sepi karena Stefano berangkat sangat pagi sekali, menyebabkan mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai di kantor.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian kendaraan yang membawa Stefano telah memasuki halaman parkir perusahaan sang ayah. Ia bergegas turun begitu sampai di depan pintu masuk. Security perusahaan nampak membukukan badannya begitu Stefano melewati pintu masuk. Beberapa karyawan perempuan nampak terpana menatap Stefano. Beberapa karyawan yang lain nampak sibuk membicarakan sesuatu dengan bergerombol. Stefano tidak mau ambil pusing, ia terus berjalan menuju lift, ia bermaksud menuju ruangan sang ayah.


Stefano akhirnya sampai di depan ruangan sekretaris sang ayah, Sofia. Sofia yang saat itu sedang sibuk dengan beberapa dokumen segera menengadahkan wajahnya ketika ia merasakan kehadiran seseorang tepat di depannya. Seketika ia terpesona dengan penampilan Stefano, tapi kemudian segera tersadar. "Ma-maaf tuan muda saya nyaris tidak mengenali anda, anda nampak berbeda kali ini. Tuan Surya sudah menunggu anda di dalam", ujar Sofia.


"Oke terima kasih Sofia", Stefano berusaha bersikap normal walaupun hati kecilnya sangat ingin menggoda Sofia, tapi dia tidak ingin menimbulkan masalah baru.


Sofia berdiri dari kursinya kemudian berjalan menuju ruangan Surya, memandu Stefano. Setelah mengetuj pintu ruangan Surya, Sofia membuka pintu perlahan.


"Tuan Surya, tuan Stefano sudah datang", kemudian Sofiq mempersilahkan Stefano untuk masu. Selanjutnya Sofia meninggalkan ayah dan anak itu berdua di dalam ruangan.


Stefano masuk dengan kaku, masih ada sedikit ketakutan di dalam dirinya. Apalagi wajah sang ayah terkesan masih belum bersahabat. Wajah yang biasanya ramah itu kelihatan masih datar dan dingin tanpa ekspresi.


Meski Surya belum mempersilahkannya duduk. Stefano telah memilih untuk duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan meja kerja Surya. Surya hanya memperhatikan tingkah laku sang anak. Kemudian Surya menarik nafas berat dan menghembuskannya perlahan, sebisa mungkin ia berusaha mengatur emosinya. Surya berpikir bahwa ia harus menguji sang anak untuk menilai seberapa besar kesungguhannya untuk berubah.


Surya menegakkan tubuhnya mencoba mencari posisi yang lebih nyaman di kursinya kemudian ia melipat kedua tangannya di dada, pandangan matanya tajam tertuju ke arah Stefano. Stefano hanya menunduk, ia belum berani menatap langsung mata sang ayah.

__ADS_1


"Apa kau tahu seberapa besar daya dan usaha yang harus aku lakukan untuk membuat perusahaan ini tetap stabil pasca skandal yang kau buat? Apa kau tahu berapa banyak perusahaan yang kemudian memutus kerjasama dan investasinya ke perusahaan ini akibat skandal yang kau buat? Bahkan sebuah perusahaan berskala internasional yang sudah setuju untuk berinvestasi pada perusahaan kita, tiba-tiba memutuskan hubungan secara sepihak karena skandal yang kau buat itu.


Kemarin aku sudah berjanji untuk memberikan satu kesempatan kepadamu agar kau bisa membuktikan bahwa kau bersungguh-sungguh akan berubah kedepannya. Kau tahu salah satu cabang kita di kota P sudah dirintis sejak beberapa tahun yang lalu, tapi perusahaan di sana hanya stagnan saja tidak ada progres yang berarti. Beberapa waktu yang lalu perusahaan kita mengajukan sebuah proposal pada perusahaan besar yang telah berskala internasional yakni Safaraz Group. Perusahaan ini berawal dari sebuah perusahaan biasa di kota P yang kemudian berkembang menjadi sebuah perusahaan besar berskala internasional, berkembang pesat di banyak kota bahkan mulai merambah sampai ke luar negeri. Akhirnya Safaraz Group memindahkan kantor pusatnya dari kota P ke kota J ini. Aku memang mengajukan proposal pada kantor pusatnya di kota J. Tapi sepertinya mereka belum berkenan memberikan investasi dan kerjasama dari kantor pusat. Mereka memberikan kita sebuah proyek kerjasama dengan perusahaan Safaraz Group yang berada di kota P, sepertinya mereka ingin menguji dan melihat kemampuan perusahaan kita dari kerjasama dengan perusahaan kota P terlebih dahulu. Untuk itu kau aku serahkan tanggung jawab untuk mengelola proyek kerjasama di kota P", Surya mengakhiri penjelasannya. Menatap sang anak, menunggu jawaban Stefano. Ia tidak punya pilihan selain mengorbankan kerjasama penting ini untuk menguji kesungguhan Stefano.


__ADS_2