
Setelah mendapatkan perawatan karena luka yang dideritanya, akhirnya Sheza sadar. Wajah yang pertama dilihatnya adalah wajah Zafier.
Awalnya Sheza cukup terkejut. Tapi setelah ia mengumpulkan semua kepingan memori terakhirnya sebelum ia tidak sadarkan diri, ia akhirnya ingat siapa Zafier.
Sheza mengucapkan terima kasih atas pertolongan Zafier padanya.
Tiba-tiba Sheza ingat pada Karen, ia sangat kuatir pada kondisi Karen.
"Maaf tuan, apakah anda mengetahui kondisi temanku? ", tanya Sheza nampak khawatir. Ia menatap Zafier memohon informasi.
Wajah Zafier langsung berubah mendengar pertanyaan Sheza. Zafier langsung ingat kejadian demi kejadian yang menimpa Sheza hingga terluka.
Zafier tidak menjawab pertanyaan Sheza, ia hanya menatap Sheza dengan tatapan dingin dan acuh.
Di saat ia terluka, yang ada di pikirannya adalah bodyguardnya yang tidak becus itu, batin Zafier.
"Untuk apa kamu memikirkan pengawalmu yang tidak becus itu? ", tanya Zafier dingin.
Sheza tercekat. Ia bingung harus menjawab apa. Bagaimana ia tau kakau Karen adalah pengawalku, ujar Sheza pada dirinya sendiri.
Sheza terdiam. Ia tidak ingin berdebat dengan pria ini. Ia bukan orang yang tidak tau berterima kasih. Pria ini telah menyelamatkannya, padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal.
"Kamu tidak marah, aku bilang pengawalmu tidak becus menjagamu? ", tanya Zafier. Mata hitamnya yang tajam dan dingin, menatap Sheza dengan pandangan mengintimidasi. Sheza menatap balik mata hitam itu, ia seolah membeku.
__ADS_1
Sheza menghembuskan nafasnya dengan kasar. Meski kesal dengan sikap Zafier, dia mencoba bersabar, karena ia menghargai Zafier yang telah menyelamatkan hidupnya. Ia berhutang nyawa pada Zafier.
"Itu hak anda tuan, tapi ia hanya temanku bukan pengawal, karena itu ia tidak begitu ahli dan bukan merupakan tanggung jawabnya untuk menjagaku", jawab Sheza lembut, ia kembali tersenyum. Netra hazelnya menatap lembut mata dingin Zafier.
Zafier terdiam. Ia tidak begitu peduli pada jawaban Sheza, ia hanya peduli pada tatapan netra hazel itu. Zafier terpaku pada mata indah itu. Sejenak ia menyentuh dadanya dan mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
Zafier menghembuskan nafasnya perlahan-laham, ia berusaha untuk menetralkan debaran jantungnya sendiri.
Setelah ia berhasil menguasai dirinya, ia pun berteriak cukup keras ke arah pintu, "Heh, kau yang sedang menguping di balik pintu, segera masuk, nona ini mencari mu".
Karen yang memang sedang menguping dibalik pintu merasa terkejut bukan main mendengar teriakan Zafier. Wajah Karen sontak memerah karena ketahuan menguping di balik pintu. Meski Karen merasa takut pada tekanan suara Zafier yang cukup membuat bulu kuduk merinding, namun Karen tetap masuk juga dengan takut-takut
Sheza mengernyitkan dahinya. Ia bisa melihat kecemasan di wajah seorang Karen. Biasanya teman sekaligus bodyguard yang ditugaskan untuk menjaganya itu, berwajah datar atau terkadang berwajah acuh tapi sekarang ia nampak sedikit takut dan cemas.
Karen hanya menunduk ketika memasuki ruangan di mana Sheza dirawat. Ia sama sekali tidak berani untuk menatap Zafier.
Aura mengintimidasi Zafier sangat menakutkan setiap orang, hingga membuat seluruh ruangan menjadi membeku.
Begitu Karen mendekati tempat tidur Sheza, Zafier beranjak keluar ruangan. Karen langsung merasa lega. Jika saja ia tidak kuatir kalau Zafier belum pergi jauh atau Zafier sewaktu-waktu bisa mendengar suara Karen, ia pasti sudah berteriak kegirangan.
"Bagaimana keadaan nona, maafkan aku yang tidak bisa menjaga nona dengan baik. Betul kata tuan Zafier tadi, aku memang seorang pengawal yang tidak becus. Sekali lagi aku mohon...maafkan aku nona, aku siap menerima apapun hukuman yang akan diberikan oleh tuan Zaki", ujar Karen. Ia menatap Sheza penuh penyesalan.
"Sudahlah Karen semua itu bukan salahmu, aku tau kau juga sedang dalam kesulitan waktu itu, aku tau kau sudah berusaha,tapi memang itu cukup sulit. Selain badan mereka yang sangat besar, jumlah mereka juga banyak. Sudahlah tidak usah kau pikirkan lagi, yang penting sekarang kau di sini baik-baik saja, aku juga baik-baik saja, aku bersyukur ada tuan tadi yang menyelamatkanku", kata Sheza berusaha menghibur Karen
__ADS_1
"Oh ya, sepertinya kau sudah tahu nama pria tadi? ", tanya Sheza pada Karen.
Karen terkejut, ia menyadari kecerobohannya yang tanpa sadar menyebut nama Zafier padahal sebelumnya mereka belum pernah berkenalan.
Ia memutar otaknya untuk mencari alasan kenapa ia bisa tahu nama Zafier. Zafier sendiri juga pasti akan curiga apabila ia bisa tahu nama Zafier padahal mereka saja belum pernah berkenalan secara resmi.
"Kalau aku tidak salah namanya Zafier, nona, tapi sebaiknya nona menanyakan saja langsung kepada orangnya. Tadi selintas kudengar ada yang memanggil namanya. Aku tidak tau pasti namanya dan nama keluarganya", terang Karen berusaha menutupi kecerobohannya.
Untungnya Sheza tidak curiga, ia juga dia juga tidak bertanya lebih jauh pada Karen.
"Hm....ya sudahlah nanti aku tanyakan saja langsung padanya", ujar Karen pendek.
"Oh iya Karen, kenapa ketika aku bangun tadi aku tidak melihatmu. Aku hanya hanya melihat tuan itu di dekat tempat tidurku. Apakah kamu tidak peduli padaku, hingga kau biarkan aku berdua saja dengan tuan itu tadi?, Sheza bertanya matanya menuntut penjelasan pada Karen.
"Maafkan aku, nona, bukannya aku tidak mau menemani nona, tapi tuan itu semenjak nona dibawa ke rumah sakit, selama perawatan sampai akhirnya nona sadar kembali, ia sama sekali tidak beranjak dari sisi nona. Terus terang aku sangat takut dengan aura tuan itu yang sedikit dingin dan menakutkan. ltulah mengapa aku menghindarinya nona, aku mohon nona mengerti", ujar Karen memelas.
"Semoga itu bukan alasanmu saja Karen, ujar Sheza curiga. "Ya sudahlah aku percaya padamu".
Sementara itu di luar ruangan, Zafier sedang menerima panggilan dari ponselnya. Sebuah panggilan tanpa nama, dan hanya berupa deretan angka-angka saja di layar ponselnya tapi sepertinya Zafier tahu betul siapa yang sedang menghubunginya.
"Halo tuan ini aku Juan, aku sudah berhasil mengintrogasi para penyerang itu", ujar Juan dengan nada senang.
"Lanjutkan", ujar Javier dingin.
__ADS_1
"Baik tuan, enam orang penjahat itu disuruh oleh seseorang yang bernama Stefano Darmawangsa, mereka diperintahkan dengan imbalan uang untuk menculik menyiksa dan melakukan tindakan pemerkosaan dan kemudian membuang Nona itu", papar Juan menjelaskan.
Zafier menggertakkan giginya menahan amarah, tiba-tiba saja Zafier ingat dengan insiden yang terjadi di hotel kemarin. Lagipula bukankah seharusnya Stefano Darmawangsa itu marah padaku, kenapa ia melampiaskannya pada nona tadi, aku rasa motifnya, hanya satu yaitu ingin menikmati tubuh wanita itu semata, dasar penjahat kelamin Zafier terlihat marah, auranya semakin dingin dan mencekam membuat suasana di sekitarnya menjadi membeku.