
Zafier masih betah menikmati kesendiriannya di ruang kerjanya, selepas kepergian semua orang. Tidak ada tanda-tanda seperti orang yang mabuk, meski sudah mengkonsumsi minuman beralkohol dengan jumlah yang cukup banyak.
Ia berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Ia memposisikan tubuhnya untuk duduk di kursi kebesarannya. Netranya kemudian terpaku pada sebuah pigura yang berada tepat di depannya. Tangan berotot itu terangkat ke atas meja, mengambil pigura foto yang menjadi pusat perhatiannya. Ia menatap foto yang ada di dalam pigura. Seorang gadis kecil cantik bermata hazel dengan rambut panjang bergelombang, yang terlihat akrab dengan potret dirinya saat masih kecil itu.
"Aku merindukanmu Gwen", bisiknya lirih, sambil menatap pigura itu sendu.
Bayangan Gwen kecil tiba-tiba ikut menyeruak masuk ke dalam pikirannya. Entah karena rasa bersalah tiba-tiba menderanya. Ia baru menyadari jika akhir-akhir ini hanya terfokus pada kehadiran Sheza, sehingga sedikit demi sedikit bayangan Gwen mulai memudar.
Apa sudah saatnya aku harus melupakanmu Gwen? Apa sudah saatnya aku harus hidup di dunia nyata melupakan bayangan demi bayangan masa kecilmu yang selama ini membebaniku?, Zafier bermonolog pada dirinya sendiri.
Ia mengelus pelan foto gadis kecil cantik itu dengan tetapan penuh kasih sayang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya. Ia kembali menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan, kedua netranya terpejam, sementara tangannya mendekap pigura foto itu erat di dadanya. Cukup lama Zafier terdiam. Bayangan demi bayangan masa lalu melintas satu persatu seperti tayangan video dokumenter di otaknya. Dan Zafier menikmati itu semua dalam kesunyian.
Tiba-tiba Zafier tersadar, ia menegakkan tubuhnya. Setelah semua bayangan yang berkecamuk di otaknya. Ia menarik nafas lelah, begitu menyadari jika semua bayangan itu hanya tinggal kenangan. Lelah rasanya memikirkan sesuatu yang tidak nyata, yang tidak mungkin digapai.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ia merasa tenggorokannya sangat kering. Ia menatap kembali figura foto itu sebelum meletakkannya di tempat semula. Setelah itu, perlahan Zafier bangkit dari kursi kebesarannya, berjalan keluar dari ruangan kerja menuju dapur yang terletak didekat halaman belakang.
...----------------...
Sementara itu....
Matahari sudah lama tenggelam di peraduan. Malam merambat naik. Sedari tadi Sheza sudah berada di kamar yang ia tempati sebelumnya. Ia nampak duduk di sofa kamar itu. Ia tenggelam dengan segala pikirannya. Entah kenapa Ia merasa begitu gelisah. Bayangan demi bayangan yang ia lihat pada saat ia tidak sadarkan diri kembali menghantuinya. Ia merasa tidak nyaman hanya berdiam diri saja di dalam kamar. Perlahan Sheza keluar dari kamar yang ditempatinya. Saat ini Karen tidak menemaninya, karena ia punya satu keperluan sedari sore. Karen memang sudah meminta izin, hingga Sheza tidak banyak bertanya apa keperluan Karen.
Sepeninggal Karen, Sheza merasa sangat jenuh, karena hanya berdiam diri di kamar saja. Ia beranjak dari sofa, setelah memperbaiki penampilannya yang sebelumnya sedikit berantakan, di depan meja rias. Ia terus berjalan keluar, menuju pintu ke taman belakang. Mungkin suasana taman di malam hari bisa sedikit menghilangkan kejenuhannya.
Taman dengan dekorasi luar biasa itu sangat luas. Di sudut kanan terdapat sebuah Gazebo yang cukup besar. Desain gazebo taman dengan panggung rendah dan tempat duduk bersantai tanpa kaki di taman, tidak hanya menarik namun juga nyaman dijadikan tempat relaksasi, sembari menikmati panorama taman mansion itu.
Di sudut yang lain terdapat taman air dengan air mancur yang seolah-olah turun dari dinding. Kehadiran taman air selain menarik untuk dilihat, juga memberikan efek menyejukkan dan menenangkan pada mansion. Kehadiran taman air pada taman rumah memang dapat meningkatkan kelembaban udara di rumah sehingga lebih nyaman untuk dihuni.
__ADS_1
Taman ini memperlihatkan sejumlah tanaman tropis yang cantik dengan warna yang indah, unik dan langka. Benar-benar pemandangan memanjakan mata. Sheza tertegun di pintu itu. Ia merasa sedikit menyesal karena dulu ketika pertama kali tinggal di mansion ini, ia sama sekali tidak memperhatikan tampilan taman ini.
Setelah memperhatikan sekeliling taman, tiba-tiba netranya tertarik pada sebuah ayunan di bagian tengah taman. Sebuah ayunan yang nampak jelas dari pintu di mana ia berdiri. Sebuah ayunan besi antik berwarna putih dengan atap di atasnya. Entah kenapa ia merasa dejavu, situasi itu mengingatkannya pada situasi di dalam mimpi yang ia alami pada saat ia tidak sadar. Ayunan itu terasa sangat familiar baginya. Ayunan itu seingatnya memang persis sama dengan ayunan yang digunakan gadis kecil di dalam mimpinya itu. Yaaa ... gadis kecil yang bernama Gwen itu, yang entah kenapa semua ingatan tentang Gwen muncul begitu saja di dalam mimpinya itu. Padahal dirinya sendiri tidak pernah mengetahui, mendengar atau mengenal sosok gadis kecil yang bernama Gwen itu.
Padahal sebelumnya ayunan ini tidak begitu menarik perhatiannya, tidak ada yang istimewa dari ayunan ini. Tapi entah kenapa, setelah mengalami mimpi pada saat tidak sadar itu, ayunan ini memberikan rasa yang sangat familiar baginya. Sheza terus berjalan ke arah ayunan yang terpasang di tengah taman itu, seolah ada yang menuntunnya secara tak kasat mata untuk menuju ke sana.
Sheza berdiri tepat di depan ayunan. Netranya masih menatap lekat ayunan itu. Perlahan tangannya terjulur untuk menyentuh ayunan. Jari jemarinya menelusuri setiap lekukan ayunan itu. Merasakan dinginnya besi ayunan itu.
Ia menarik nafas panjang lalu memposisikan diri untuk duduk di ayunan itu.
Sheza mengambil ancang-ancang, kemudian mendorong ayunan itu pelan dengan ujung kakinya. Entah kenapa ia merasa sangat nyaman duduk di ayunan itu. Suasana taman yang lengang dengan angin yang berhembus, terasa begitu menenangkan. Ia menengadah ke atas. Netranya menatap bintang dan bulan yang terlihat terang saat ini. Langit sedang sangat cerah hingga bintang-bintang dan bulat terlihat seakan berlomba-lomba untuk menjadi yang paling terang.
Angin berhembus menerpa tubuh rapuhnya. Menggoyang rambut panjang bergelombang milik wanita itu yang dibiarkan tergerai lepas. Suara gemerisik akibat gesekan daun-daun di taman, membuat Sheza menyadari betapa sunyinya Malam ini.
__ADS_1
Sheza memejamkan kedua netra hazelnya. Kemudian ia pun larut dengan pikirannya sendiri. Ingatannya tentang mimpi-mimpinya pada saat ia tidak sadarkan diri, kembali menyeruak memenuhi kepalanya. Seolah saat ini dirinyalah yang menjadi Gwen yang duduk berayun di atas ayunan. Sheza begitu menikmati suasana saat itu. Ia merasa begitu nyaman di atas ayunan ini. Menciptakan satu perasaan familiar yang tidak dimengertinya. Seolah ini adalah suatu kebiasaan yang seringkali dilakukannya.