
Pembicaraan antara Sheza dan dr. Niko masih berjalan serius, sementara Karen hanya mengamati interaksi sang Nona dari jauh.
"A-apakah Daddy Zaki bisa sembuh kembali?", tanya Sheza lirih, suaranya nyaris bergetar menahan kesedihan.
"Tim Dokter tidak bisa mengambil prediksi pada hidup seseorang, Nona. Tugas kami hanya satu, yakni memberikan perawatan dan pengobatan terbaik pada daddy. Semuanya dikembalikan kepada sang pasien. Namun dari beberapa kasus yang terjadi bisa ditarik kesimpulan, ada orang yang mengalami kondisi ini dapat berujung pada kesembuhan total tanpa ada keluhan yang mengganggu. Sedangkan sebagian lainnya, berujung pada kematian atau tetap hidup namun tidak dapat melakukan aktivitas ringan seperti membuka mata atau berkomunikasi dengan orang lain. Tingkat kesadaran orang yang mengalami kondisi ini sangat bergantung pada bagian otak yang masih berfungsi.
Hal ini dapat mengalami perubahan sesuai dengan kondisi orang tersebut", ujar dr. Niko menjelaskan dengan sabar.
Bulir airmata tanpa sadar mengalir di sudut netra indah Sheza.
Dr. Niko menatap iba, rasanya ingin sekali menarik wanita cantik ini ke dalam pelukannya untuk memberi kekuatan agar ia merasa lebih baik. Ia terlihat terus saja menatap wanita cantik dihadapannya secara terang-terangan, tanpa ragu atau malu.
Dan tanpa sadar ucapan spontan keluar dari bibir tipisnya, "Apa anda butuh pelukan nona?".
Mendengar ucapan dr. Niko, Sheza seketika menoleh dengan mata memicing. Apa dia sedang tidak salah dengar?. Dr. Niko tidak menyadari kalau saat ini kedua netra tajam Sheza tengah menatapnya penuh perhitungan.
Tiba-tiba terdengar suara bariton yang begitu dalam dan berat, memutus netra Sheza yang tengah menatap dr. Niko kesal.
Ketiga orang yang tengah berada di balkon itu serempak menoleh ke sumber suara. Dr. Niko cukup terkejut saat melihat Zafier yang telah berdiri di belakangnya.
Tangan pria itu terlihat mengetat, salah satu tangannya mengepal erat, telinganya memerah. Zafier merasa terbakar saat mendengar pertanyaan spontan dr. Niko yang menyapa telinganya. Berani-beraninya Niko menggoda Sheza.
Zafier menatap dr. Niko dengan netra yang begitu datar dan sulit terbaca.
__ADS_1
"Sepertinya saat ini kau sangat santai Niko?", kalimat sindiran bernada dingin itu keluar masih dengan berhiaskan ekspresi datar.
Padahal sebelumnya, ketika keluar dari lift dan menyaksikan Sheza tengah bersama seorang pria yang membelakanginya di balkon, ia mengepalkan tangan dengan erat, ia menggigit bibir bawahnya dengan keras.
Zafier masih melirik tajam ke arah dr. Niko seolah akan menelannya hidup-hidup dengan gigi yang terkatup. Zafier bertekad harus membuat perhitungan dengan pria menyebalkan bernama Niko, yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Dr. Niko tersenyum miring. Netra abu Zafier masih menatap tajam pada dr. Niko. Ia menuggu jawabannya dengan sangat tenang.
Wajah dr. Niko yang tadinya begitu tenang, sekarang berubah menjadi sangat gugup. Ia terlihat mulai memucat dan keringat dingin mulai mengalir. Ia terlihat bergetar, bibirnya seolah sedang membaca mantra, dia mengiba di dalam hati.
Ya Tuhan, kenapa mahluk satu ini datang begitu cepat. Apa para penjahat itu sudah selesai dihabisinya semua, batin dr. Niko.
"Wah, k-kau sudah datang rupanya. Ayolah bergabung dengan kami di sini. Tadi kami bertemu di ruangan Daddy Zaki, Nona Sheza hanya ingin mengetahui kondisi Daddy Zaki saat ini, jadi dari pada pembicaraan kami akan mengusik ketenangan Daddy Zaki di dalam kamar perawatannya, maka aku menyarankan untuk membicarakannya di balkon ini", jelas dr. Niko, ia menelan salivanya dengan susah payah.
Semua keadaan itu tidak luput dari pengamatan seseorang di pojok sana yang tak lain adalah Karen. Karen nampak menahan diri dengan susah payah, agar tidak tertawa dengan keras melihat ekspresi dan penderitaan dokter tampan itu, rasakan oleh mu dokter gadungan, umpatnya senang dalam hati.
Kemudian kedua netra abu miliknya beralih menatap Sheza. Iris obsidiannya menatap Sheza lekat dan disaat yang sama Sheza juga sedang menatap ke arahnya. Jantung Sheza menegang. Sejenak ia tertegun dan larut saat bertatapan dengan netra abu itu.
Meski mereka duduk dengan berjarak, namun posisi ini entah mengapa membuat degup jantung Sheza berpacu lebih kencang.
Netra abu Zafier menatap Sheza tajam sekaligus lembut di waktu bersamaan. Sementara Sheza mengerjap beberapa kali tapi untuk pertama kali ia sadar bawa tatapan Zafier tidak sedingin biasanya. Ia sedikit salah tingkah.
Zafier kembali menarik tipis sudut bibirnya nyaris tidak terlihat. Zafier diam-diam tersenyum, ketika ingat peristiwa semalam. Ia masih bisa merasakan pinggang sempit Sheza, saat ia memeluknya malam itu.
__ADS_1
Zafier menarik nafas dalam, berusaha menenangkan jantungnya yang juga berdegup dengan kencang.
Ia mengutuk dirinya sendiri. Entah kenapa ia memilih duduk di sofa panjang yang sama dengan Sheza.
"Bagaimana keadaanmu Nona Sheza?, sepertinya Nona terlihat sudah lebih baik daripada kemarin", tanya Zafier lembut.
"Ia Tuan Muda Zafier, aku merasa sudah lebih baik..Terima kasih Tuan Muda", jawab Sheza, berusaha rileks.
"Terima kasih untuk apa Nona?", tanya Zafier dengan tatapan dalam yang sulit diartikan.
"Terima kasih karena sudah mengizinkan saya mengotori kamar pribadi Tuan Muda dan untuk mengizinkan saya diperiksa oleh dokter keluarga tuan muda", jawab Sheza tenang, setelah mampu menetralkan degup jantungnya.
Pria di depan mereka hanya bisa menahan kesal karena keberadaannya seolah tidak dianggap oleh kedua orang di depannya.
"Ehm... Apa Nona Sheza masih ingin mengetahui kondisi Daddy Zaki?", tanya dr. Niko memecah suasana. Ia sedikit kesal karena merasa diabaikan.
Dr. Niko berhasil kali ini, perhatian Sheza kembali beralih padanya.
Zafier sedikit kesal, namun ia tidak ingin tampak seperti seorang pria yang cemburu pada kekasihnya. Ia kembali menguasai dirinya. Ingat Zafier , Sheza itu calon istri ayahmu, batinnya lagi menguatkan.
Dr. Niko kembali menjeda kalimatnya sebentar kemudian melanjutkan.
"Kebetulan kamu juga pada di sini Zafier. Informasi ini untukmu juga. Sebenarnya ada beberapa metode yang bisa aku berikan pada mu Zafier dan Nona Sheza, untuk membantu agar Dedi dapat sadar dari koma", ujar dr. Niko.
__ADS_1
Zafier dan Sheza menatap dr. Niko serius.
Dr. Niko melanjutkan, "Secara medis, selama Daddy Zaki dalam kondisi koma tentu akan mendapat perawatan khusus untuk mempercepat proses pemulihan dan kembali sadar. Namun, rangsangan dari luar seperti suara dan sentuhan bisa membantu pemulihan pasien koma. Sebuah studi dalam US National Library of Medicine, menemukan bahwa mendengar suara yang akrab dapat membantu memulihkan kesadaran pasien koma. Seseorang yang sedang mengalami kondisi ini akan lebih cepat merespons percakapan tersebut. Para ahli percaya mendengarkan suara orang yang dikenal melatih sirkuit di otak yang bertanggung jawab atas ingatan jangka panjang. Stimulasi itu membantu memicu secercah kesadaran pertama".