My Little Gwen

My Little Gwen
Diam-diam memperhatikan


__ADS_3

Sheza menikmati sarapannya dengan tenang. Sepiring nasi goreng seafood dan teh panas menjadi pilihannya. Selesai menyantap sarapan, Sheza nampak gelisah. Sesekali ia menatap Zafier dengan tatapan rumit.


Semua tingkah Sheza tidak luput dari pengamatan Zafier. Keningnya berkerut. "Sepertinya ada yang ingin anda katakan Nona?", tanya Zafier.


"Hmm... Ya Tuan Muda Zafier. Saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda. Apakah anda ada waktu anda sebentar?", tanya Sheza begitu formal.


Zafier menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ia tidak suka dengan sikap formal Sheza, tapi ia juga bingung untuk mengatakan bagaimana seharusnya.


Zafier tidak segera menjawab pertanyaan Sheza, netranya malah menatap Sheza penuh arti. Tentu saja aku ada waktu. Jangankan hanya sebentar, kau ingin meminta waktuku seumur hidup pun akan aku berikan. Namun apa daya, kata-kata itu hanya mampu diucapkan Zafier di dalam hati saja.


"Tentu saja Nona. Saya menunggu Nona di ruang kerja, tapi sebelumnya saya akan melihat Daddy Zaki terlebih dahulu. Paman Adolf akan menjemput Nona nanti, begitu saya selesai", jawab Zafier.


"Baiklah Tuan Muda", ujar Sheza singkat.


Lagi-lagi sebuah suara menginterupsi.


"Dan selagi kau melihat Daddy Zaki, aku akan menemani Nona Sheza di sini", ujar dr. Niko bersemangat.


Dia mengabaikan tatapan Zafier yang mematikan.


Zafier memutar bola matanya malas mendengar ucapan dr. Niko. Tanpa aba-aba, ia langsung saja menarik kerah kemeja dr. Niko dengan cukup kuat, hingga tubuh dr. Niko terhuyung ke arahnya.


"Nona Sheza tidak membutuhkanmu di sini, tapi aku membutuhkanmu di sana", ujar Zafier dingin.


"Aiiish, kau memang bukan sahabat yang pengertian. Apa kau tidak bisa membiarkan sahabatmu ini sedikit bahagia?", tanya dr. Niko kesal. Namun meski begitu, ia tetap mengikuti langkah kaki Zafier menuju lift.


Sheza hanya menutup kepergian ke dua orang itu dengan bingung. Sejurus kemudian dia berjalan menuju taman belakang. Tapi kali ini Sheza tidak berniat lagi untuk duduk di ayunan seperti semalam. Ia sedikit trauma, tidak ingin lagi mengulangi kejadian semalam, meski ia sangat menyukai ayunan itu. Duduk berayun di sana membuat ia merasakan perasaan familiar sekaligus ketenangan dan kenyamanan.

__ADS_1


Sheza kali ini tertarik pada taman di sudut yang lain. Ia sempat melihat taman yang justru dipenuhi dengan pohon-pohon besar, penampakannya seperti


hutan, namun terlihat sangat terawat.


Karen sudah berdiri di samping Sheza. Mereka berjalan menuju taman yang diinginkan Sheza. Begitu mereka sampai di sana. Sheza sungguh sangat takjub. Tidak hanya serasa berada di sebuah hutan, taman itu juga mempunyai sungai buatan, rasanya sangat mengasyikkan berada di sana. Sambil menikmati keindahan taman itu, ia bisa bermain di air sungai yang jernih, sambil berjemur menikmati matahari pagi.


Ketika mereka berada di sana, Sheza melihat seorang pekerja laki-laki yang nampak fokus untuk membersihkan dan merawat taman itu. Ia pun berinisiatif untuk menghampiri.


"Hallo!", sapa Sheza ketika berada dalam jangkauan yang tepat untuk bertanya. Pemuda itu tampak terkejut, mendapati Sheza berada di sana. Apalagi Sheza bergeser semakin mendekatinya. Ia menggaruk belakang kepalanya kikuk.


"I-iya Nona" jawab lelaki itu sopan. Ia hanya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wanita cantik yang berada tepat di depannya.


Sheza yang sedang merasa bosan ingin menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan si pekerja. "Siapa namamu?", tanya Sheza ramah, dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Netra hazel nya nampak antusias menatap si pekerja.


Si pekerja cukup terkejut mendapati Nona muda nya begitu ramah. Tanpa sadar ia menengadah menatap wanita cantik yang sedang berbicara itu. Bertepatan dengan senyum Sheza yang menghiasi bibirnya. Senyum itu sungguh mempesona. Si pekerja benar-benar terhanyut menatapnya Bukannya menjawab, ia malah mematung menatap sang nona, nyaris tanpa berkedip.


"Hei kau tidak apa-apa? Kenapa kau mematung seperti itu?", tanya Sheza bingung, keningnya sedikit berkerut mendapati ekspresi si pekerja.


Sangat jelas terlihat di kedua netra hitam pekerja itu, ada binar penuh puja. Dan itu sangat disadari oleh Karen, dari pertama mereka beradu tatapan, Karen dapat melihat tatapan itu dengan sangat jelas.


"Ah tidak, jangan ada korban lain lagi", desah Karen pelan tapi itu terdengar cukup jelas di telinga Sheza.


"Eh, apa maksudmu Karen?", tanya Sheza penasaran.


"Korban apa?*, lanjut Sheza lagi.


"Apalagi jika bukan korban kecantikan Nona", jawab Karen polos. Sheza kontan mendelik mendengarnya. Matanya melotot tajam ke arah Karen. Karen menunduk, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Jangan bicara omong kosong Karen!", hardik Sheza kesal.


"Ma-maafkan aku Nona!", ujar Karen penuh penyesalan.


Si pekerja tiba-tiba saja tersadar, mendengar perdebatan dua orang di depannya, dengan wajah merona. Perhatian Sheza teralihkan ke si pekerja tadi.


"Eh, kenapa wajahmu merah?", tanya Sheza lagi polos.


Si pekerja yang berkulit putih semakin merona melihat sang Nona malah menatapnya lekat-lekat.


"Ma-maaf Nona saya harus menyelesaikan pekerjaan di sebelah sana", ujar si pekerja dengan sopan, selanjutnya langsung kabur karena merasa malu kedapatan terpesona dengan sang Nona.


Sheza tidak menyadari apa yang ia lakukan tadi tampak seperti interaksi yang akrab antara ia dan pekerja. Hal itu mendapatkan tatapan kesal dari seseorang di balik dinding taman itu.


Sheza sendiri nampak kecewa selepas kepergian si pekerja. Padahal ia ingin berbincang-bincang dengan pekerja tadi. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, takjub melihat bagaimana mungkin sebuah hutan dan sungai bisa dibuat di lingkungan ini.


Karen tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi menyebalkan. Sheza yang merasa kesal mencipratkan air sungai buatan itu ke wajah Karen, ia nampak gelagapan. Dan senyum Sheza pun merekah, merasa ia telah berhasil membalaskan sakit hatinya akibat ledekan Karen.


"Waaaa Nona, stop, please stop, aku jadi basah", teriak Karen. Sementara Sheza belum berhenti dengan balas dendamnya.


"Siapa suruh kau tertawa dengan sangat menyebalkan seperti itu", hardik Sheza melotot. Wajahnya tampak sangat menggemaskan oleh seseorang yang terus memperhatikannya dari balik dinding taman. Ia begitu terpesona dengan senyum puas dan tawa Sheza saat menjahili Karen. Senyum dan tawa yang tidak pernah tampak di bibir tipis itu, selama ia mengenal Sheza.


Hmm... senyum itu membuat ia semakin mempesona, batin orang itu.


Ya, seseorang itu adalah Zafier. Taman di mana Sheza berada adalah taman yang bisa dilihat secara langsung dari ruang kerja Zafier.


Dinding itu adalah jendela kaca lebar. Kaca itu bekerja seperti cermin satu arah di mana orang yang berada di ruangan kerja Zafier akan bisa melihat dengan bebas pemandangan taman di luar sana, sementara orang di luar tidak akan bisa melihat ke dalam ruangan Zafier. Orang di taman tidak akan menyadari bahwa dinding itu sebenarnya adalah kaca yang menampilkan gambaran dari satu sisi bagian dalam saja.

__ADS_1


__ADS_2