My Little Gwen

My Little Gwen
Apakah itu dia....?


__ADS_3

Setelah satu jam penerbangan, akhirnya Sheza sampai di kota J. Begitu turun dari pesawat, Sheza sangat bersemangat mengemasi barang-barangnya dari bagasi bandara. Karen yang berusaha membantu ditolaknya mentah-mentah. Dia bersikukuh menarik sendiri semua kopernya, Karen merasa keberadaan dirinya disamping Sheza benar-benar tidak ada gunanya.


Begitu keluar dari bandara, Sheza dikejutkan dengan sebuah mobil Cadillac Escalade ESV yang telah menanti mereka. Sheza sungguh takjub melihat mobil mewah tersebut. Mobil berhenti tepat didepan mereka. Kemudian dua orang laki-laki berpostur tinggi besar dan berotot keluar dari mobil tersebut. Mereka menunduk hormat pada Sheza, dibalas Sheza dengan senyuman, selanjutnya mereka sibuk mengangkat tas-tas Sheza dan membukakan pintu mobil untuk Sheza. Sheza pun bergegas menarik tangan Karen agar bergegas menaiki kendaraan tersebut.


Mobil melaju meninggalkan bandara. Sekitar 20 menit perjalanan, mobil memasuki sebuah hotel mewah di kota J. Sheza berpikir dari tadi tidak satu orangpun dari dirinya dan Karen yang membuka mulut, tapi si sopir sudah tau akan membawa mereka kemana. Sungguh semua sudah diatur sedemikian rupa oleh paman Ganial.


Begitu mobil berhenti di depan pintu masuk hotel, Sheza bergegas keluar dari mobil menuju lobby hotel. Di pintu masuk hotel porter sudah menyambutnya ramah, dan pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Sheza adalah, "Bisakah kau tunjukkan dimana toiletnya?", pertanyaan itu berhasil membuat Karen nyaris pingsan.


Sheza berjalan santai menuju lokasi yang ditunjukkan porter tadi. Begitu sampai di depan pintu toilet, seseorang menabraknya dengan cukup keras. Sheza menoleh, matanya bertemu dengan mata seorang laki-laki dengan postur tinggi besar yang berdiri tepat di depannya, dia terus saja menatap Sheza tak berkedip seolah ingin memakannya hidup-hidup.


Sheza sedikit emosi karena lelaki itu seolah tidak segera menyadari kesalahannya. Bukannya meminta maaf atas kesalahannya, ia malah menatap Sheza sangat lama.


Sheza yang kesal langsung saja menegur orang itu dengan emosi. Setelah itu menumpahkan semua kekesalannua dengan bahasa yang dipaksakan sehalus mungkin, ia bergegas masuk ke toilet masih dengan mode mengomel.

__ADS_1


Tak berapa lama Sheza keluar dari toilet hotel, wajahnya masih kesal karena insiden tadi. Di lobby ia melihat Karen sudah duduk manis di sana menunggunya.


"Bagaimana Karen? apa sudah beres urusan check in hotel nya", tanya Sheza sambil duduk di samping Karen.


"Beres nona, tenang saja, barang-barang kita juga sudan diantar ke kamar. Aku cuma bisa pesan Presidential Suite buat kita, tadinya aku ingin pesan penthouse, supaya pemandangannya lebih indah, tapi ternyata sudah ada yang menyewa. ", jawab Karen dengan nada kecewa.


"Ya sudah, biar saja Karen, Presidential Suite juga sudah sangat bagus", hibur Sheza.


"Oiya nona, ternyata tuan Seif sudah tau nona datang, tuan sudah mengatur pertemuan nona di salah satu resto di kota ini. Apa nona ingin istirahat terlebih dahulu? ", tanya Karen.


"Iish kenapa kau tidak bilang dari tadi, ayo kita langsung pergi saja, tapi sebelumnya aku ganti pakaian dulu", ujar Sheza agak kesal.


" Ayo Karen, aku sudah sangat rindu pada kak Seif", ajak Sheza menarik Karen keluar. "Eh... tapi kita pergi dengan siapa Karen? ", tanya Sheza, seketika sadar.

__ADS_1


"Tenang nona para supir tadi juga menginap di hotel ini, mereka memang sengaja berjaga-jaga di sini 24 jam full untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Mereka juga orang-orang yang besar di kota ini, jadi paham betul seluk beluk dan jalanan di kota ini, jadi kemanapun nona pergi, dijamin bisa sampai lebih cepat dan bebas macet", terang Karen.


Mereka kembali menaiki mobil yang menjemput mereka dari bandara tadi. Tepat seperti ucapan Karen tadi, Sheza dibawa melewati jalan-jalan kecil, benar-benar jalanan bebas macet.


Alhasil hanya dalam 20 menit, mereka sudah sampai di resto tujuan mereka. Sheza bergegas turun sambil menarik tangan Karen, tapi Karen menolak dengan halus.


"Nona pasti ingin punya waktu privasi berdua tuan Seif, karena sudah cukup lama nona tidak bertemu dengannya, aku tidak ingin mengganggu nona", ujar Karen lagi sambil tersenyum. Sheza menatap Karen seolah berterima kasih atas pengertiannya.


Sheza memasuki resto mewah itu dengan sangat bersemangat karena membayangkan akan bertemu dengan sang kakak setelah sekian lama. Kedatangan Sheza disambut porter resto, Sheza diantar menuju meja yang sudah direservasi atas nama dirinya. Ternyata belum ada tanda-tanda kehadiran sang kakak di sana, dengan sabar Sheza duduk dan menunggu di sana .


Sembari menunggu, Sheza nampak sibuk dengan ponselnya, hingga ia tidak menyadari ada sepasang mata tajam menatapnya dengan tatapan penuh arti.


Setelah menatap cukup lama, seolah memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar Sheza, pemilik sepasang mata tajam itupun berlalu memasuki sebuah ruangan VIP di resto itu.

__ADS_1


__ADS_2