My Little Gwen

My Little Gwen
Kecantikan sempurna


__ADS_3

Matahari mulai merangkak naik. Meski jam masih menunjukkan pukul 10, tapi panasnya mulai terasa membakar kulit.


Pada pagi menjelang siang itu, Ruben tampak sudah menjejakkan kaki di salah satu mall terbesar di kota J. Mall yang terkenal menjual barang-barang branded. Ia berhenti pada salah satu butik ternama di sana.


Ketika ia hendak masuk ke dalam butik, sang manager butik tergopoh-gopoh menyambutnya. Seorang laki-laki berbadan tambun, dengan gaya lemah gemulai, Ivano begitu ia dipanggil.


"Halo Ruben sudah lama sekali rasanya kau tidak berkunjung ke sini, bagaimana kabar bosmu, tuan Zafier yang tampan itu?", tanya Ivano dengan penuh minat. Matanya berbinar indah ketika menyebut nama Zafier. Ivano berjalan genit sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.


Ruben mengernyitkan keningnya, ia menatap Ivano heran.


"Kau terlalu lebay Ivano, bukannya beberapa hari yang lalu aku baru saja kesini memesan pakaian bosku", tanya Ruben aneh.


"Ih....kau jangan menatapku seperti itu Ruben, jantungku jadi berdebar kencang", ujar Ivano malu-malu dengan suara genitnya. Ia memegang dadanya seolah-olah ia ingin menenangkan jantungnya, selanjutnya ia tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Mata Ruben mendelik malas, ia sedang berusaha menahan diri untuk tidak melempar sepatunya ke kepala Ivano.


Selanjutnya Ruben berlalu melewati Ivano. Ruben merasa malas untuk melayani Ivano karena melayani Ivano sama saja dengan membuang waktunya yang sangat berharga.


Ia bergegas pergi ke dalam butik menuju seorang pelayan wanita yang biasa melayani semua pesanan bosnya. Ivano berteriak pada pelayannya itu, "Risa, kau layani tuan itu sebaik-baiknya".


"Baik tuan", jawab Risa patuh. Wanita itu tersenyum manis pada Ruben.


"Melihat senyummu, moodku kembali membaik daripada saat menghadapi beruang kutub tadi Risa", ujar Ruben balas tersenyum pada Risa.


"Hai Ruben.....aku bisa mendengar apa yang kamu katakan dari sini", ujar Ivano kesal dengan suara bass khas laki-lakinya.


Ruben tersedak, tawa nya pecah sementara Ivano nampak cemberut disudut butik.

__ADS_1


Ruben nampak menyerahkan sebuah catatan kebutuhan yang ingin dibelinya pada Risa.


Selanjutnya Ruben mengambil tempat di sudut butik yang lain, di sana terdapat sofa yang memang disediakan untuk para pengunjung butik.


Tak berapa lama kemudian Risa kembali dengan membawa bungkusan bungkusan yang cukup banyak, semua berisi kebutuhan yang ada dalam catatan yang diberikan Ruben tadi. Ruben pun berlalu keluar butik sementara sang sopir mengangkat semua barang-barang yang diberikan Risa tadi.


"Sampai jumpa kembali Ruben, sampaikan salamku pada tuan Zafier yang tampan, sampaikan juga pesanku padanya, tolong lain kali dia saja yang langsung datang ke butikku. Aku sudah muak melihat wajah asistennya", teriak Ivano dengan suara kemayu dan dibuat seimut mungkin, Ruben nampak acuh, dia sama sekali tidak merespon ucapan Ivano.


"Apa kau pikir aku sendiri mau melihat tampang mu, kalau bisa aku akan minta tuan Zafier agar ia meminta owner butikmu supaya kau diganti saja", gumam Ruben sambil berlalu pergi.


Wajah Ivano langsung cemberut, ia mencibir pada Ruben.


Sesaat Ruben berpikir, saat ia ditugaskan oleh Zafier untuk membeli segala kebutuhan wanita, sebenarnya Ruben sudah sangat penasaran siapa wanita yang telah membuat bosnya begitu peduli, sampai sang bos mau turun tangan langsung memerintahkannya membeli segala kebutuhan wanita. Tapi Ruben tidak berani banyak bertanya selain hanya mengikuti seluruh instruksi bosnya.


Tiba-tiba ponsel Ruben berdering, ia bergegas mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Nama Tuan Zafier tertera di layar ponselnya.


Ruben "Halo tuan"


Ruben terdiam, ia menepuk dahinya pelan. Baru sepuluh menit yang lalu, si bos meneleponnya untuk mencarikan semua kebutuhan wanita dan sekarang dia bertanya aku dimana, batin Zafier.


Zafier "Kenapa kau diam Ruben"


Ruben "Sa-saya masih di butik tuan membeli semua kebutuhan yang tuan perintahkan tadi".


Zafier terdiam, ia seolah baru ingat apa yang sudah diperintahkannya kepada Ruben.


Zafier "Oh iya Ruben, lanjutkan, jika kau sudah selesai segera jemput aku. Jangan lupa bawa semua barang yang telah dibeli ke klinik di pinggiran kota, aku akan share lokasinya".

__ADS_1


Ruben terkejut begitu mendengar Zafier menyebut klinik.


Ruben "Tuan...Ada apa tuan? Apa yang terjadi pada tuan? Apa sesuatu telah menimpa tuan?",


Zafier, "Aku baik-baik saja cukup ikuti saja instruksi ku, tidak usah banyak bertanya".


Ruben terdiam, ia menyadari kesalahannya karena terlalu banyak bertanya.


Sepuluh menit kemudian Ruben telah menyelesaikan semua urusannya termasuk membeli berbagai makanan sesuai pesanan sang bos.


Selanjutnya Ia dan sang sopir melaju ke lokasi yang telah dishare Zafier.


Sepanjang perjalanan Ruben terus berpikir, selama ia mengikuti sang bos mulai dari Belanda hingga kemudian ditugaskan mengelola bisnis sang bos di kota J, ia tau betul reaksi sang bos terhadap wanita.


Sosok tampan yang terlihat dingin dengan ekspresi datar yang dominan. Meski begitu, hal itu membuat citranya sangat dikagumi dia bahkan digambarkan sebagai patung dewa tampan. Ruben tau betul berapa banyak wanita yang mencoba mendekati sang bos. Namun sang bos selalu menampakkan respon penolakan. Sang bos biasanya acuh bahkan terkesan tidak suka didekati wanita.


Dan sekarang semua tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Sungguh ruben sangat penasaran, bagaimana dan seperti apa sosok wanita yang telah berhasil menundukkan hati bosnya itu.


Semoga ia sepadan, ujar Ruben pada dirinya sendiri.


Selang beberapa waktu akhirnya Ruben sampai pada lokasi yang telah di share oleh Zafier. Bergegas ia turun dan kemudian memerintahkan sang sopir untuk membawa semua perlengkapan yang telah dibelinya tadi. Di pintu rumah sakit kehadiran Ruben sudah disambut oleh Zafier. Sekilas ia memperhatikan wajah sang bos, wajahnya masih tampan seperti biasanya, yang berbeda adalah matanya yang berbinar dan kelihatan tidak lagi terkesan dingin dan tidak bersahabat.


Tanpa banyak suara Zafier melangkah ke dalam klinik, Ruben sendiri juga tidak berani untuk banyak bersuara. Ia hanya mengikuti setiap langkah kaki sang bos, namun matanya penuh dengan rasa ingin tahu, penasaran dengan sosok wanita yang telah berhasil menaklukkan hati sang bos.


Akhirnya Ruben yang mengikuti langkah kaki sang bos sampai di depan sebuah pintu kamar perawatan. Perlahan Zafier kemudian membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati, Zafier melangkahkan kaki ke dalam ruangan tersebut.


Sang sopir pun mulai masuk membawa semua barang-barang, kemudian bergegas memindahkan satu persatu barang yang dibawanya ke atas sofa yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Ruben termangu di depan pintu, sejenak tatapannya mengarah pada seorang wanita sedang dalam posisi duduk di atas brankar.


Dengan santai wanita itu mengikat rambut panjangnya asal, tersenyum pada orang-orang yang baru masuk ke dalam kamarnya. Ruben benar-benar terpana melihat wanita itu. Kulit putih halus itu, binar mata hazel yang memikat, bibir ranum yang menggoda, dia adalah kecantikan nyata seperti batu giok yang sangat mahal tanpa alami dan sangat memikat hati, sungguh kecantikan yang sempurna. Untuk kesekian kalinya keheningan mendominasi ruangan itu.


__ADS_2