
Dari kursinya Sheza memperhatikan Karen yang tengah menerima panggilan telepon dari Carlos. Setelah panggilan telepon dari Carlos berakhir, Karen menatapnya.
"Nona, tuan Zafier menunggu anda setengah jam lagi di private park kantor. Demikian pesan dari Carlos", ujar Karen.
Tidak ada jawaban dari Sheza. Sheza hanya terdiam menatap Karen. Meski masih kesal dengan Carlos, Sheza harus profesional melaksanakan tugas yang diperintahkan kepadanya. Sheza pun bersiap-siap, karena tiga puluh menit lagi ia akan pergi mengikuti bosnya.
"Karen, coba kau kontak Carlos, katakan padanya bahwa aku akan pergi dengan kendaraanku sendiri bersamamu", perintah Sheza.
"Baik nona", jawab Karen patuh.
Sesuai rencana awal, tiga puluh menit kemudian, iring-iringan mobil Zafier dan mobil Sheza telah melaju di jalanan kota P.
Mereka menuju ke sebuah hotel ternama di kota P. Di sana terdapat ruangan meeting dimana mereka akan mengadakan pertemuan. SFZ Hotel merupakan hotel berbintang paling mewah di kota P. SFZ Hotel merupakan salah satu hotel yang dikelola oleh Safaraz Corporation atau Safaraz Grup.
Begitu mereka sampai di pintu masuk hotel, manager hotel tampak bergegas menghampiri Zafier secara langsung. Ia kemudian memandu Zafier menuju ruang meeting. Ketika memasuki lobby hotel, Zafier berjabatan tangan dengan seseorang yang telah menunggunya di sana. Kemudian mereka berjalan bersama menuju ruang meeting. Sementara Sheza dan Karen mengikuti dari belakang. Zafier memasuki sebuah ruang meeting yang mewah. Diikuti Carlos dan Sheza. Karen sendiri memilih menunggu di lobby seperti biasanya.
Begitu memasuki ruang meeting, Zafier mengedarkan pandangannya. Matanya menatap dingin dengan ekspresi datar ke semua orang yang
telah menunggu kedatangannya di sana. Beberapa orang yang merupakan perwakilan dari beberapa perusahaan yang akan mereka lakukan investasi sekaligus dilibatkan dalam sebuah proyek besar yang akan mereka biayai.
__ADS_1
Begitu rombongan Zafier masuk semua mata tersita perhatiannya kepada sosok cantik di belakang Zafier. Mata penuh kekaguman sekaligus terpesona menatap sosok cantik yang tak lain adalah Sheza. Mata-mata yang begitu mendamba. Sheza sendiri nampak biasa saja bahkan terkesan acuh tak acuh. Namun semua itu tidak lepas dari perhatian Zafier. Mata orang-orang itu seperti kelaparan, seakan ingin menelan Sheza bulat-bulat.
Wajah Zafier seketika menggelap dengan sorot mata yang tajam. Rahangnya mengeras dengan guratan urat nadi yang nampak menonjol. Ekspresi dinginnya tak berubah hanya ada kilatan emosi tersendiri di matanya. Ekspresinya seolah mampu membekukan ruangan. Ia mengepalkan tangannya, kesal dan geram berpadu di dadanya, terasa seperti ribuan jarum yang menghujamnya, terasa sakit hingga terasa berat saat hendak mengambil nafas.
Ada perasaan aneh yang menelusup di hatinya, yang ia sendiri tidak mengerti. Perasaan kesal, perasaan marah, rasanya ingin sekali menarik Sheza ke dalam pelukannya, menyembunyikan Sheza dari pandangan semua orang. Agar orang-orang itu tidak bisa lagi menatap wajah Sheza semau mereka.
Entah kenapa, saat ini Zafier menyesali keputusannya untuk membawa Sheza ikut serta dalam meeting kali ini.
Pada awalnya, ia hanya ingin melihat kinerja dan kemampuan wanita ini dalam menilai setiap perusahaan yang akan mereka lakukan investasi. Sheza adalah calon ibu sambungnya, calon istri ayahnya yang memang diharapkan dapat melanjutkan perusahaan sang ayah. Untuk itu Zafier harus memastikan bahwa Sheza memiliki kecerdasan serta mampu menganalisa perusahaan yang masuk serta menilai perusahaan mana saja yang memiliki prospek yang bagus bagi perkembangan proyek-proyek mereka ke depan. Zafier berharap bahwa pilihan ayahnya tidak salah, agar ia lebih tenang meninggalkan sang ayah. Sementara ia sendiri akan bisa fokus mengembangkan perusahaannya sendiri di Belanda.
Zafier dan temannya tadi, yang tak lain adalah Arsen, nampak duduk di kursi utama. Sheza sendiri duduk di bagian sayap kanan, yang tidak begitu jauh dari Zafier. Carlos nampak berdiri di samping Zafier.
Zafier nampak membisikan sesuatu pada Carlos. Carlos mengangguk, kemudian ia berjalan mendekati Sheza
Sheza menatap Carlos, keningnya sedikit berkerut. Sejenak Sheza menatap Zafier, tapi Zafier sendiri tampak sibuk berbicara dengan temannya. Akhirnya mata Sheza pada kursi kosong d8 sebelah Zafier. Meski bingung, tapi tak urung ia mengikuti arahan Carlos tadi.
Sheza kemudian berdiri dan berjalan mengikuti Carlos, menuju kursi di mana Zafier duduk. Carlos menarik kursi di samping Zafier dan mempersilahkan Sheza untuk duduk.
"Terima kasih Carl", ujar Sheza lembut.
__ADS_1
Carlos sedikit tersipu, panggilan yang sudah lama tidak didengarnya. Cuma Sheza yang memanggilnya seperti itu.
Zafier sedikit merasa terganggu dengan kelembutan dan keintiman Sheza ketika mengucapkan terima kasih kepada Carlos, atau lebih tepatnya seperti cemburu kepada Carlos, padahal Sheza hanya mengucapkan kata-kata terima kasih karena Carlos telah membantunya.
Pandangan Zafier nampak tajam menatap Carlos. Carlos sedikit meringis ketika matanya beradu pandang dengan tatapan tajam Zafier. Ia merasakan suasana tiba-tiba menjadi mencekam.
Arsen yang duduk di sisi kiri Zafier tiba-tiba menoleh, ia menatap wanita yang duduk di sisi kanan Zafier, yang tak lain adalah Sheza. Seketika matanya melotot tajam, mulutnya nyaris menganga, seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, tapi sedetik kemudian, ia dengan cepat mengendalikan dirinya. Karena saat ini ia sedang berada di tengah meeting.
Sementara itu jauh di seberang tempat duduk mereka, dari kelompok perwakilan perusahaan yang saat itu hadir, diantara sekian mata yang menatap terpesona pada Sheza, ada satu mata lagi yang memiliki respon sama dengan Arsen ketika melihat Sheza. Ia menatap terpesona sekaligus tidak percaya melihat Sheza. Wanita yang selama ini dicarinya dengan susah payah saat ini berada tepat di depannya. Rasanya saat ini ingin sekali ia menarik wanita itu dan meminta penjelasan ke mana saja selama ini ia pergi. Tapi ia menyadari posisinya saat ini. Wanita itu duduk di depan pria yang merupakan CEO dari perusahaan yang akan melakukan investasi pada perusahaannya. Ia tidak ingin merusak kepercayaan ayahnya. Ia harus profesional. Ia tidak ingin tingkahnya dapat mengakibatkan proyek yang diinginkan oleh ayahnya ini gagal begitu saja.
Rapat pun kemudian dimulai dengan perkenalan, dilanjutkan penjelasan tentang proyek kerjasama yang akan dilakukan. Masing-masing perusahaan yang memasukkan proposal akan diseleksi. Perusahaan yang memenuhi syarat, dan lolos seleksi akan dilibatkan dalam sebuah proyek. Tapi sebelumnya masing-masing perusahaan diberikan kesempatan untuk memaparkan semenarik mungkin tentang keunggulan perusahaan mereka serta isi ringkas dari proposal mereka masing-masing.
Perhatian Zafier langsung fokus ketika sampai pada giliran seseorang menjelaskan tentang proposal dari perusahaannya.
Zafier merasa bahwa wajah laki-laki itu sangat tidak asing baginya. Ia berusaha mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan laki-laki ini.
Zafier tidak lagi memperhatikan paparan pria itu tentang perusahaan dan proposalnya. Ia malah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
Zavier: Carlos, siapa pria ini?
__ADS_1
Charles: Izin tuan, ia adalah Stefano Darmawangsa, putra dari Surya Darmawangsa, presiden direktur dari PT. Darma Wangsa Utama.
Zafier terdiam, aura permusuhan langsung menguar.