
Keasyikan Sheza bercerita dengan Carlos dan Karen, membuat ia hampir saja lupa waktu. Sejenak Sheza melirik jam yang melingkar di tangannya yang putih. Seketika Sheza terkejut, kemudian ia berdiri dengan tergesa-gesa. Wajahnya tampak sedikit panik. Karen dan Carlos yang melihatnya jadi ikut panik pula. Apalagi Carlos. Wajahnya tampak jauh lebih panik daripada wajah Sheza. Ia sangat kuatir terjadi sesuatu pada Sheza. Sheza menatap Carlos dan Karin bergantian, ia mencoba tersenyum untuk menenangkan mereka berdua.
"It's oke Carlos, Karen....aku hanya merasa kita terlalu lama di sini. Aku sedikit khawatir tentang kondisi daddy Zaki", ujar Sheza lembut.
Mereka bertiga kemudian berjalan dengan tergesa-gesa di lorong rumah sakit, menuju ke ruangan di mana Zaki dirawat.
Dari jauh Sheza memperhatikan seseorang yang berada tepat di depan ruangan rawat daddy Zaki. Entah kenapa, ia merasa tampilan orang itu begitu familiar buatnya. Meski jarak cukup jauh, tapi Sheza bisa mengamati fisik pria tersebut. Seorang pria dengan tubuh tinggi besar. Bertubuh atletis.
Sepertinya pria itu juga tengah menatap ke arah mereka bertiga.
Semakin lama jarak Sheza dengan pria itu pun semakin dekat. Entah kenapa Sheza merasa sedikit sulit bernafas ketika jarak mereka terkikis dengan cepat. Sampai kemudian pria itu berada dalam jangkauan mata Sheza. Iya merasa udara semakin menghimpit jantungnya. Perasaannya bergejolak cepat. Ketampanan dan sorot mata tajam pria itu, pria yang sangat dikenalnya, begitu menembus jantung. Meremukkan setiap ingatan dan kenangan yang menyakitkan.
Pria itu sendiri menatap Sheza yang berada di depannya dengan seksama. Ia menatap bola mata nya yang terlihat dingin itu sangat jernih dan dalam sepertinya ia akan tenggelam jika menatapnya lebih lama.
Tatapan Sheza yang tak berubah, terpaku pada bola mata Zafier, seakan tersihir. Ada riak Kerinduan di dalam matanya,
Hanya sapaan nama yang keluar dari mulut masing-masing, itupun terdengar lebih sebagai sebuah gumaman yang tidak terlalu jelas dan kemudian....hening.
__ADS_1
Dan tanpa sepatah kata pun dan tanpa berpamitan, pria itu berbalik membelakangi Sheza dan kemudian berjalan kembali ke ruangan di mana daddy Zaki dirawat.
Sheza tersentak, ia sedikit merasa kesal karena kejadian ini tiba-tiba mengingatkannya kepada momen saat itu, di mana tanpa pesan ataupun kata-kata perpisahan, mereka kemudian berpisah begitu saja. Tidak ada kabar apapun saat keberangkatannya kembali ke kota P, setelah kedekatan mereka selama beberapa hari di klinik kota J.
Namun lagi-lagi Sheza hanya bisa menghela nafasnya. Matanya menatap pria itu tanpa berkedip, memandang pria pemilik punggung bertubuh atletis itu berjalan tepat di depannya, sampai sosok pria itu menghilang di balik pintu ruang rawat daddy Zaki. Tanpa penjelasan apapun dari Zafier. Sheza tertegun. Tanpa penjelasan apapun dari Zafier, ia tahu apa posisi dan makna keberadaan Zafier di sana.
Sheza terdiam sejenak, ia termenung tiba-tiba saja ia sadar di mana posisi dirinya sesungguhnya. Ia tidak mungkin ikut masuk ke dalam ruang rawat daddy Zaki, meski ia masih mengkhawatirkannya, karena ada seseorang yang lebih berhak untuk berada di sana, pikir Sheza. Ada perasaan sedih menyergapnya. Ia tidak bisa lagi merawat daddy Zaki yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri. Tanpa bisa ia cegah, matanya berkaca-kaca, dan bulir bening menetes tanpa bisa ia cegah di sudut mata hazelnya.
Sesaat kemudian Sheza pun beranjak pergi. Meski hati kecilnya mengatakan sesuatu tentang pria itu, namun Sheza merasa belum begitu yakin jika ia tidak mendengar langsung dari mulut orang lain tentang posisi pria itu di sini.
Mata Sheza menatap ke sekelilingnya. Ia berusaha mencari sosok dua orang yang paling ingin ia temui saat itu juga. Tidak berapa jauh dari posisinya berdiri, ia melihat beberapa orang yang tengah berkelompok. Diantara orang-orang itu ia melihat keberadaan Carlos dan Karen.
Sheza bergegas berjalan menuju kelompok orang-orang itu, sepertinya mereka adalah para pengawal yang memang ditempatkan paman Ganial untuk menjaga daddy Zaki selama berada rumah sakit ini.
Begitu Sheza mendekati kelompok orang-orang itu. Sheza bisa melihat wajah-wajah takjub yang menatapnya. Mereka memang tidak pernah melihat wajah Sheza dari dekat. Karena tugas pengawalan memang diserahkan khusus pada Karen. Karen memang mempunyai beladiri jauh di atas mereka. Namun kemampuannya masih berada jauh di bawah Carlos. Para pengawal itu begitu terpesona menatap ke arahnya, nyaris tak berkedip. Sheza sedikit bingung namun demikian ia berusaha tersenyum menyapa orang-orang itu. Tapi tiba-tiba saja orang-orang itu menundukkan wajahnya. Seiring dengan tatapan tajam dari Carlos. Mata mereka tidak lagi berani menatap wajah sheza secara langsung, sesekali mereka masih mencuri pandang pada Sheza.
Satu persatu orang itu kemudian mulai membubarkan diri. Masing-masing dari mereka berjalan menuju arah yang berbeda.
__ADS_1
Hingga saat ini hanya tersisa Carlos dan Karen di lorong itu. Semua tingkah laku Carlos tidak luput dari perhatian Karen. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya ampun bos, lama-lama matamu bisa keluar kalau kamu melotot terus seperti itu", ujar Karen sambil berbisik. Carlos tidak menjawab hanya matanya yang melirik sadis pada Karen. Karen menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang putih ke arah Carlos. Carlos merasa kesal bukan main melihat tingkah Karen. Rasanya ia ingin sekali merontokkan seluruh gigi-gigi Karen saat itu juga.
Merasakan tanda-tanda bahwa bosnya itu akan segera mengamuk, Karen bergegas mendekat ke arah Sheza, berusaha mencari perlindungan.
"Nona ayo duduk di sini", ujar Karen seraya menarik lembut tangan Sheza. Shesa pun mengikuti Karen dengan pasrah.
Sheza kemudian duduk di kursi tunggu yang berada di lorong rumah sakit itu. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi itu. Kemudian ia menengadah, wajahnya menatap Carlos yang berada tepat di depannya.
Carlos sedikit salah tingkah ketika matanya bertemu dengan Sheza, ia merasa seperti tertangkap basah karena kedapatan tengah memperhatikan Sheza. Wajah Carlos bersemu merah namun kondisi malam yang gelap menyebabkan wajahnya tidak terlalu jelas kelihatan oleh Sheza. Carlos bergegas memalingkan matanya ke arah lain.
Sheza kembali menghembuskan nafasnya dengan berat, "Carlos, ada satu hal yang ingin aku tanyakan pada mu", ulang Sheza, kali ini ia menatap Carlos serius.
Begitu namanya dipanggil, refleks Carlos beralih kembali menatap wajah Sheza. Namun Charles bukannya menjawab pertanyaan Sheza, namun fokusnya kembali hilang. Carlos yang ditatap sheza
malah kembali salah tingkah, jantung Carlos berdegup kencang. Perlahan Charles menyentuh dadanya seolah berusaha menenangkan jantungnya yang bergejolak di sana.
__ADS_1