My Little Gwen

My Little Gwen
Apa tuan telah jatuh cinta?


__ADS_3

Ruben masih dalam pandangan terpesona pada sosok di atas brankar itu. Hingga ia tidak menyadari satu pandangan begitu dingin dan tajam yang tertuju pada dirinya. Pandangan yang sangat ingin menghabisinya saat itu juga


Ruben masih berkutat dengan pikirannya sendiri.


Ya Tuhan...dia begitu sempurna seperti tokoh cantik yang keluar dari dalam lukisan. Saat bibir tipisnya tersenyum manis itu seakan menarik para lebah untuk mendekati sang bunga yang mekar. Sebuah kecantikan yang nyata. Gadis yang benar-benar sempurna. Benar-benar menarik hanya dengan lirikan matanya dan senyumnya, batin Ruben.


Tetapi tunggu dulu.....kenapa rasanya wajah ini sangat familiar, rasanya pernah bertemu dengan nona ini, Ruben semakin intens memperhatikan wanita itu.


Zafier benar-benar emosi memperhatikan semua gerak gerik Ruben. Ia melotot sebal pada Zafier. Seketika rahangnya mengeras dengan guratan urat nadi yang nampak menonjol, ekspresi dingin nya tak berubah hanya ada kilatan emosi tersendiri di matanya. Wajahnya menggelap dengan sorot mata yang tajam.


Zafier terbatuk keras, ia sengaja melakukannya untuk memperingatkan Ruben. Berani-beraninya sang asisten mengagumi Sheza-nya. Apa ia sudah bosan hidup, batin Zafier.


Zafier sangat kesal, ia tidak bisa memarahi Ruben saat itu juga karena ia harus menjaga image nya di depan Sheza.


Ruben tersentak mendengar batuk Zafier. "Tuan ada apa dengan? Apakah tuan sedang sakit, mari kita langsung ke dokter! Kita saat ini sedang berada di klinik atau tuan ingin ke dokter pribadi tuan. Aku akan segera menghubunginya", ujar Ruben dengan nada sangat khawatir.


Zafier mengutuk ketidakpekaan Ruben, rasanya saat ini ia ingin sekali menyeret Ruben ke kamar mandi, kemudian ia ingin sekali menyiram kepala Ruben dengan air dingin. Supaya Ruben sadar.


Zafier menatap Ruben dingin tanpa ekspresi, tatapan matanya setajam pisau, tapi yang ditatap malah cengengesan tidak jelas. Benar-benar menguras emosi.


Zafier sama sekali tidak menjawab pertanyaan Ruben, ia mendekati Sheza.


Ada makanan dan pakaian yang bisa anda kenakan di dalam bungkusan-bungkusan itu nona Arshaka, aku yakin anda pasti sudah bosan makanan klinik ini", ujar Zafier dengan lembut, sorot matanya pun penuh dengan ekspresi memuja, ia tersenyum pada Sheza.


"Silahkan beristirahat", ujar Zafier sembari melangkahkan kaki menuju pintu keluar.


"Terima kasih tuan Chastelein", ujar Sheza lembut.


"Hm...ya nona Arshaka ", Jawab Zafier pendek menutupi kegugupannya, kemudian ia terdiam, mengatur kesibukan jantungnya yang tak terkendali.

__ADS_1


Tatapan Zafier yang tak bisa beralih, terpaku pada bola mata hazel Sheza, ia seakan tersihir.


Semua tindakan Zafier tidak lepas dari perhatian Ruben. Ia menggosok kedua matanya, seolah di depan matanya adalah adegan yang penuh dengan halusinasi.


Detik berikutnya Zafier berlalu pergi. Sebelum Zafier mencapai pintu keluar, Ruben yang sedang termangu dipintu bergegas masuk ke dalam ruangan untuk berpamitan dengan Sheza. Tapi belum sempat berjalan mendekati Sheza, tepat ketika berpapasan dengan Zafier, krah leher bagian belakangnya ditarik paksa oleh sang bos. Matanya menatap Ruben begitu dingin dan mematikan, raut wajahnya begitu tidak bersahabat pada Ruben. Ruben terkejut dengan perubahan raut wajah yang sangat tiba-tiba itu. Ia bergidik dan terdiam. Ia tidak berani mengeluarkan suara apalagi untuk berkomentar, ia hanya mengikuti langkah kaki sang bos menuju keluar ruangan.


Mereka berjalan beriringan dengan langkah cepat menuju parkiran klinik, Ruben membukakan pintu untuk sang bos. Zafier menatapnya kesal kemudian bergegas memasuki mobilnya


"Ruben, gajimu bulan ini aku potong 50 persen", ujar Zafier dingin. Seketika suhu dalam kendaraan mendadak membeku.


Ruben terkejut mulutnya menganga, ia seolah tidak percaya dengan pendengarannya. Ya Tuhan salahku apa, tanya Ruben dalam hati, benar-benar di dalam hati saja.


Ruben tidak berani berkomentar pada bosnya, ia hanya diam diikuti tatapan iba dari sang sopir yang duduk di sebelahnya.


Tapi Zavier tahu betul apa yang ada di dalam hati Ruben, "Kau sedang mengutukku Ruben", hardiknya.


"Saya mana berani tuan", jawab Ruben gugup.


"Aku tidak suka caramu memandang nona tadi", pertanyaannya dijawab sendiri oleh Zafier.


Seketika Ruben melongo, ia meringis, apa sejelas itu keluhnya tanpa suara. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah, sementara sang supir di sebelahnya menahan tawa sekaligus iba pada Ruben.


Ruben terdiam, pikirannya menerawang, kembali berusaha mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan wanita itu.


Tiba-tiba Ruben mengingat sesuatu. Ya Tuhan bagaimana mungkin aku melupakan wanita yang telah menyihir Tuan Zafier waktu di hotel itu, batin Zafier baru tersadar. Bukankah dia Nona Shezan Shaziya Arshaka. Bisa-bisanya aku melupakan satu-satunya wanita pujaan tuan Zavier dan aku terpesona oleh kecantikannya. Ya Tuhan betapa bodohnya aku, batin Ruben. Ia memukul keningnya dengan pelan atas kecerobohannya yang tidak termaafkan itu.


"Tuan bolehkah saya bertanya?", ucap Ruben.


Zafier tidak menjawab, ia hanya menatap Ruben curiga, dan masih dengan aura dinginnya.

__ADS_1


Namun tanpa menunggu jawaban Zafier, Ruben berkata dengan polos "Aku baru menyadari kalau nona tadi adalah Nona Shezan. Apa tuan telah jatuh cinta pada nona Shezan?".


Usai mengatakan itu, Ruben mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana mungkin pertanyaan semacam itu keluar begitu saja dari mulutnya. Mendengar itu kilatan mata Zafier berpindah cepat melirik Ruben yang tertunduk. Ia mencerna kata-kata Ruben dalam diam dan dan hal itu sungguh tidak masuk akal untuknya.


Dia tersenyum dingin dan berkata, "Ruben kau bisa memilih kau mau turun di sini dan berjalan pulang atau sisa gajimu aku kurangi setengahnya lagi".


Ruben terdiam namun kemudian Ia tetap melanjutkan ucapannya ini, "Benar tuan hanya saja mungkin tuan belum menyadarinya".


Ruben terlihat sangat yakin dengan ucapannya, seolah-olah saat ini tuannya sedang tidak menyadari perasaannya sendiri. Ia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh tuannya.


"Aku tidak...", jawab Zafier terputus.


"Cemburu? aku? apakah kau masih waras menanyakan hal itu padaku? ", ada kilatan senyum merendahkan pada jejak wajah dan bibir Zafier.


Dia menatap Ruben sekilas dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Mendengar penolakan tuannya Ruben tak terkejut, dia berusaha tenang wajahnya berseri indah layaknya ia tengah jatuh cinta, dia masih tersenyum menggoda dan lagi-lagi menyuarakan apa yang dipikirkannya.


"Lalu kenapa tuan cemburu pada saya? pada saya saja tuan bisa begitu marah, saya tidak bisa membayangkan apabila orang lain yang melakukannya?", keluh Ruben lagi.


"Aku tidak cemburu padamu, aku hanya tidak suka kau menatapnya seperti tadi", sanggah Zafier kembali.


Ruben tidak melanjutkan kata-katanya, selain wajahnya yang kian berseri. Dia bahagia bos dinginnya menemukan cinta.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu", Zafier melirik Ruben dengan ekor matanya. Melihat senyum Ruben perasaannya menjadi sedikit tidak nyaman. Ia merasa bawahannya itu menatapnya dengan mata prihatin.


"Apakah ada sesuatu yang lucu? ", tanya Zafier dingin tanpa ekspresi.


Ruben menggeleng cepat dia tidak ingin bosnya itu merasa curiga. "Tidak tuan, tidak, hanya saja saya merasa tuan telah benar-benar jatuh cinta pada nona Sheza!". Mata Ruben benar-benar berbinar ketika mengatakannya, dia sangat yakin pada kata-katanya.


Zafier menatapnya dengan pandangan mengintimidasi, "Kalau kau masih mengatakan hal itu lagi, aku kan menurunkan mu sekarang juga", ancam Zafier.

__ADS_1


Mata Ruben berkedut, ia menelan ludahnya, panik.


__ADS_2