My Little Gwen

My Little Gwen
Kenapa harus di kamar ini


__ADS_3

Sepeninggal Karen, Sheza berusaha mencerna petikan peristiwa demi peristiwa yang ia alami tadi. Ia masih kebingungan dengan semuanya. Ingatan ingatan tetang peristiwa yang dialaminya tadi berputar-putar di kepalanya. Menyadari kondisinya yang telah sadar saat ini. Sheza merasa peristiwa-peristiwa tadi hanyalah mimpi belaka.


Bisa jadi ia memimpikan dua anak kecil yang ada dalam pigura foto di kamar Zafier karena saat ini ia sedang berada di dalam kamar tersebut.


Yaaa ... Setelah mengamati sudut demi sudut di kamar ini, Sheza yakin kalau saat ini ia sedang berada di dalam kamar tuan muda Zafier. Netranya menatap tajam pigura foto yang masih terletak di sebelah ranjang, tepat di atas nakas. Dua wajah anak kecil yang ada di dalam pigura itu adalah wajah anak-anak yang ia temui di dalam mimpinya.


Sebenarnya ada tanda tanya besar di dalam benak Sheza. Kenapa kedua anak itu hadir begitu saja di dalam mimpinya tadi. Siapa mereka berdua?


Yang lebih membuat Sheza berpikir keras juga adalah kenapa ia harus berada di dalam ruangan ini. Siapa yang membawanya ke dalam ruangan ini dan apa maksudnya?


Sheza tahu betul bahwa di dalam mansion ini terdapat kamar yang amat sangat banyak. Kenapa juga ia harus dibawa ke dalam kamar inu


Memikirkan hal itu membuat kepala Sheza semakin sakit, kedua tangannya kembali memegang kepalanya sedikit memijatnya untuk dapat mengurangi rasa sakit yang mendera.


Lamunan Sheza dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang memasuki kamar itu secara tergesa-gesa. Reflek Sheza mengalihkan netranya ke arah pintu, bertepatan dengan masuknya Karen yang menarik paksa tangan seorang wanita setengah baya.


Wanita itu mengenakan seragam berwarna putih seperti seragam seorang perawat. Kening Sheza sedikit berkerut. Ia sama sekali belum pernah bertemu dengan wanita ini selama ia menetap di mansion ini dulunya.


Begitu sampai di hadapan Sheza, wanita setengah baya itu membungkukkan tubuhnya dengan hormat. Wanita itu tersenyum lembutnya padanya.


"Maafkan saya yang meninggalkan nona karena ingin ke kamar kecil tadi", mohon wanita itu. Ia menatap khawatir wajah pucat Sheza.

__ADS_1


Sheza membalas senyum wanita itu sambil menganggukkan kepalanya pelan.


" Tidak apa-apa bi", jawab Sheza pelan.


"Ayolah Oleta, tidak usah banyak basa-basi, cepat periksa nona Sheza", paksa Karen. Dengan reflek Karen langsung menarik tangan wanita itu kembali agar segera mendekati ranjang Sheza dan memeriksa sang nona.


Sheza hanya memperhatikan interaksi kedua orang itu. Mereka sepertinya sudah saling mengenal satu sama lain. Tapi Sheza merasa ucapan Karen terlalu kasar, Karen sepertinya bersikap kurang sopan pada wanita seusia itu.


"Karen, kau bisa lebih sopan tidak pada bibi ini, kau tidak lihat kalau dia lebih tua darimu!", hardik Sheza sedikit emosi. Netranya menatap Karen tajam. Namun sedetik kemudian ia kembali memegang kepalanya yang berdenyut nyeri karena sedikit emosi melihat tingkah Karen.


Karen terkejut, bukan karena hardikan Sheza tapi lebih kepada rasa cemasnya ketika melihat Sheza yang tampak kesakitan.


Sementara Oleta terus memperhatikan Sheza. Ia sangat kagum dengan gadis cantik yang ada di atas ranjang itu. Benar-benar sosok yang sempurna, sudah parasnya cantik, sifatnya pun cantik seperti wajahnya. Saking terpesonanya Oleta, ia sampai lupa tujuan utama ia ditugaskan Zafier di kamar ini untuk memeriksa Sheza.


Sheza kembali memejamkan kedua matanya dia berusaha menenangkan diri agar rasa nyeri di kepalanya berkurang.


"Karen bisakah ke menyuruh pelayan untuk mengantarkan air putih, air teh dan makanan kecil ke ruangan ini", pinta Oleta dingin. Karen melirik Oleta, tatapannya tajam. Bisa-bisanya wanita ini memerintahku, batinnya.


"Baik Oleta!", jawab Karen patuh. Ia tidak ingin memperpanjang masalah meski bertentangan dengan hatinya. Karen bergegas berjalan menuju interkom yang ada di dalam kamar itu. Ia mendial sebuah nomor extension untuk bagian dapur.


Oleta sendiri mengambil tas perlengkapan medisnya. Kemudian memeriksa tekanan darah, denyut jantung dan denyut nadi di pergelangan tangan Sheza. Wajahnya terlihat serius.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, dua orang pelayan mengantarkan apa yang dipesan oleh Karen tadi. Setelah meletakkan semua minuman dan makanan di atas meja, kedua pelayan pun pergi meninggalkan kamar setelah membungkukkan badannya pada Sheza.


Oleta Kemudian memberikan Sheza segelas air teh. Karen sendiri membantu Sheza untuk bersandar pada sandaran ranjang agar dapat meminum air yang diberikan Oleta.


"Minumlah nona, minuman manis dapat meningkatkan gula darah dan mengembalikan energi yang diperlukan tubuh nona pasca tidak sadarkan diri tadi", ujar Oleta lembut.


Sheza menerima minuman itu dan langsung meneguk habis air itu. Sekarang ia merasa sedikit lebih baik. Sheza kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Netranya kemudian menatap wanita setengah baya yang sedang memeriksanya.


"Apa yang nona rasakan saat ini? Apakah nona mengalami gejala seperti sesak napas, sakit kepala, lemas, atau sulit menggerakkan bagian tubuh tertentu?", tanya Oleta lagi.


"Iya bi, kepalaku terasa sangat sakit ketika aku tersadar tadi. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi ketika aku berusaha mengingat peristiwa demi peristiwa yang aku alami saat aku tidak sadar", jawab Sheza,


"Hal itu dimungkinkan karena nona tidak sadarkan diri dalam jangka waktu yang cukup lama. Sepertinya tadi nona sangat kelelahan dam menghadapi gejala serangan panik, sehingga hilang kesadaran", jelas Oleta. Ia memang sudah mendengar cerita dari Karen tentang hal yang terjadi sebelum Sheza kemudian tidak sadarkan diri.


"Hasil pemeriksaan denyut jantung dan denyut nadi nona cukup normal. Saya akan memberikan obat untuk nona. Sebaiknya nona beristirahat saja, jangan memikirkan banyak hal dulu", terang Oleta seraya mengambil beberapa obat dari dalam tas medisnya.


"Karen kamu harus memastikan nona Sheza meminum semua obat ini", pesan Oleta. Dijawab dengan anggukan kepala dari Karen.


"Baiklah nona saya pamit undur diri. Saya harus kembali menjaga dan merawat tuan besar Zaki. jika ada sesuatu yang nona rasakan silakan katakan pada Karen. Karen akan menjemput saya ke sini", ujar Oleta lagi. Ia mulai membereskan semua perlengkapan medisnya, setelah itu ia berdiri dan membungkukkan badannya dengan hormat pada Sheza, kemudian ia pun berjalan menuju pintu keluar.


Sheza berusaha duduk tapi sejurus kemudian ia memegang kepalanya yang terasa begitu pusing. Karen terkejut, ia bergegas menyongsong Sheza di ranjang. Ia berusaha menahan tubuh Sheza yang hendak duduk.

__ADS_1


"Sebaiknya nona istirahat saja sesuai anjuran Oleta tadi. Nona harus sabar dan tenang. Seperti yang Oleta katakan. Nona baru saja tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, butuh waktu kembali pulih, sebaiknya nona berbaring kembali dan istirahat saja terlebih dahulu", ujar Karen cemas.


__ADS_2