My Little Gwen

My Little Gwen
Rasa yang dipaksa mati


__ADS_3

Matahari sudah tidak berada di puncaknya lagi. Panasnya sudah tidak terlalu menyengat lagi. Sheza melirik jam di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan pukul 03.00 menjelang sore. Sheza ingat bahwa Karen mengatakan pesawat yang membawa mereka akan berangkat pada pukul 05.00 sore.


Sheza berjalan diikuti Karen di belakangnya, mereka meninggalkan lobby hotel menuju parkiran. Begitu sampai di parkiran Hotel, di sana telah menunggu kendaraan yang akan mengantar mereka, Ruben membukakan pintu untuk Sheza.


"Terima kasih Ruben", ujar Sheza tersenyum.


"Sudah kewajiban saya nona", jawab Ruben, ia menundukkan kepalanya, tidak berani lagi menatap wajah Sheza. Sheza sedikit merasa aneh.


Mobil Ruben pun melaju meninggalkan hotel itu. Sheza hanya menatap ke depan saja, tidak mau lagi berbalik dan menatap hotel itu seperti tadi saat ia menatap klinik hingga hilang dari jangkauan matanya. Sheza merasa begitu kecewa saat ini.


Sepanjang perjalanan Sheza tidak mampu mengendalikan pikirannya. Ia sudah sangat lelah karena kecewa, tapi adegan demi adegan itu selalu melintas tanpa permisi. Akhirnya Sheza kembali larut dengan pikirannya sendiri. Kedua mata Sheza memang terpejam rapat, namun tidak dengan pikirannya.


Tiba-tiba semua ingatan dari kejadian penculikan itu melintas kembali. Setiap adegan demi adegan bergerak seperti siaran ulangan. Sheza bahkan masih mengingat dengan jelas setiap adegan itu. Sheza bahkan masih bisa mencium aroma wangi maskulin dari tubuh Zafier. Aroma wangi itu begitu menenangkan. Disaat terakhir sebelum sheza akhirnya jatuh pingsan, aroma itulah yang diingatnya. Dan ketika pertama kali ia sadar dari pingsannya, aroma itu juga yang pertama menenangkannya.


Ia ingat selama beberapa malam ia dirawat di klinik itu, sosok Zafier dengan aroma wangi tubuh itu yang selalu menemani dan menenangkannya.


Sheza masih memejamkan kedua matanya dengan rapat, tapi tanpa bisa ia cegah, bulir bening kemudian mengalir dari kedua mata indahnya itu. Sheza memalingkan wajahnya ke arah jalan dengan cepat. Ia menatap jalanan yang dilaluinya melalui jendela mobil di sampingnya. Sejurus kemudian ia menghapus kedua matanya pelan. Entah kenapa ia merasa begitu kosong, ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang begitu berharga telah tertinggal di kota ini. Ia merasa sendirian, kenyamanan dan ketenangan yang hatinya rasakan beberapa hari ini seperti tercabut begitu saja.


Sheza berusaha menguatkan dirinya. Semangat She, ingat misimu telah menunggu di kota P, jangan lupakan keinginanmu untuk membalas budi pada daddy Zaki, ingat rahasia besar tentang masa lalu dan kedua orang tuamu, tetap fokus pada pencarian jati diri dan identitas mu. Ayo She bersemangat lah!.


......................


Zafier tersentak ketika hp-nya berdering cukup keras. Zafier membuka kedua matanya perlahan. Rupanya ia tertidur karena kelelahan, di kamar apartemennya. Zafier kemudian meraih ponsel di sampingnya, ternyata sebuah pesan masuk. Ia scroll satu persatu pesan masuk di ponselnya, sampai ia menemukan sebuah pesan dari Ruben.


Pesawat nona Sheza berangkat pukul 05.00 sore ini. tuan!,

__ADS_1


Sejenak Zafier terdiam, ia menatap pesan itu sangat lama. Dirinya mendua. Satu sisi berusaha untuk melupakan semua kenangan indahnya yang singkat dengan Sheza. Sementara sisi dirinya yang lain ingin menemui gadis itu, ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya pada saat-saat terakhir pertemuan mereka. Batin Zafier berperang.


Entahlah....Zafier hanya merasa belum yakin saja dengan perasaannya saat ini. Mungkin itu hanya perasaan suka sesaat, karena kesamaan warna mata Sheza dan Gwennya. Ia tidak ingin menyakiti Sheza. Sheza adalah wanita yang baik, ia tidak ingin memberikan Sheza harapan palsu semata.


Zavier berusaha mengendalikan perasaannya. Ia bertekad akan menganggap semua hal tidak pernah terjadi, bahwa wanita yang bernama Sheza tidak pernah ada.


Zafier menutup pesan masuk di ponselnya. Kemudian memasukkan ponsel itu ke dalam kantong jaketnya.


Zafier berjalan keluar kamar menuju dapur, kerongkongan terasa sangat kering. Zafier mengambil segelas air kemudian memilih duduk di salah satu kursi meja makan. Ia meneguk air putih itu dalam sekali tegukan.


Ia berusaha menenangkan hatinya yang gelisah. Tapi tetap saja Zafier terus melirik jam di pergelangan tangannya. Semakin mendekati pukul 05.00 sore, semakin perasaannya tidak menentu.


Zafier tersadar ketika tiba-tiba ponselnya berdering kembali. Zafier mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, nama Ruben tertera di layar ponsel itu.


Ruben, "Halo tuan, tugas saya telah selesai, nona Sheza sudah berada di bandara, semua dalam kondisi aman dan terkendali. Pesawatnya akan berangkat pukul 05.00 sore nanti".


Ruben, "Tidak tuan, nona Sheza tidak mengatakan apapun, ia lebih banyak diam selama dalam perjalanan".


Zafier merasa sedikit kecewa. Setelah hubungan teleponnya dengan Ruben putus, ia kembali


melirik jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 04.30 sore.


Zafier terdiam sebentar, seperti sedang berpikir, sejurus kemudian ia bergegas pergi. Sebelum keluar apartemen, ia mengambil kunci mobil kesayangannya dulu. Saat ini ia butuh kendaraan yang bisa membawanya dengan cepat menuju bandara. Zafier harus berpacu dengan waktu.


Zafier kemudian menaiki lift pribadi yang langsung menuju parkiran apartemennya. Zafier membuka penutup mobil kesayangan itu. Zafier cukup kaget karena L. Aventador SVJ Verde miliknya telah berubah menjadi tipe terbaru tahun ini L. Veneno Roadster. Zafier tersenyum, daddy selalu punya kejutan, gumamnya.

__ADS_1


Mobil yang memiliki performa mesin V12 berkapasitas 6.5 Liter dan daya menyerupai 750 Horsepower, dengan kemampuan akselerasi 0 hingga 100km/jam dalam waktu 2,9 detik ini pun melaju membelah kota J sore itu.


Dan memang sesuai prediksi Zafier, mobil yang bahkan bisa dipacu hingga top speed 350 km/jam ini tidak butuh waktu lama untuk sampai di bandara.


Ia bergegas turun dari kendaraannya. Ia berjalan dengan tergesa-gesa bahkan nyaris berlari menuju pintu masuk bandara. Raut wajahnya penuh kecemasan, seolah ia telah datang terlambat dan tidak akan dapat menemukan sosok Sheza lagi untuk terakhir kalinya.



Zafier berhasil masuk ke ruang tunggu bandara dengan mudah, karena ia memiliki akses untuk itu.


Zafier kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tunggu bandara mencari satu sosok yang dirindukannya. Akhirnya matanya terpaku pada seseorang di sudut ruang tunggu bandara itu. Satu sosok yang sedang dicarinya.


Namun ia tetap tidak berani untuk menemui Sheza secara langsung, dia hanya menatap Sheza dari kejauhan. Entah gengsinya yang terlalu tinggi atau Zafier memang belum sepenuhnya menyadari perasaannya.



Sheza nampak sedang melamun, matanya kosong, tanpa ekspresi yang berarti. Entah apa yang dipikirkannya.


Zafier tidak tahu apa yang tengah dipikirkan Sheza. Namun sekilas Zafier melihat keceriaan telah hilang dari wajah Sheza. Entah kenapa, melihat raut wajah Sheza yang seperti itu, ia seolah ikut larut di dalamnya, ikut merasakan kesedihan Sheza yang teramat sangat. Rasanya Ingin sekali ke sana, mendekati Sheza dan membawa Sheza ke dalam ke pelukannya. Lalu memeluknya erat. Zafier sebisa mungkin berusaha menekan keinginan itu. Mungkin gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui perasaannya sendiri.


Tak berapa lama kemudian, panggilan untuk memasuki pesawat terdengar menggema di ruang tunggu bandara. Zafier hanya melihat saja dari jauh ketika Sheza diikuti Karen berjalan bersama dengan para penumpang yang lain menuju pesawat yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing.


Zafier terus memandangi Sheza sampai Sheza menghilang dari jangkauan pandangan matanya. Seiring dengan menghilangnya Sheza, Zafier pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang tunggu bandara, langkah kakinya terasa begitu berat.


Sesampainya di luar, Zafier tersandar di sebuah bangunan. Ia terdiam, pandangannya tanpa ekspresi, pikirannya menerawang jauh. Wajahnya tampak begitu menyedihkan.

__ADS_1



Tiba tiba Zafier merasa begitu lelah, seolah ada sebagian dari dirinya yang hilang, dengan membawa separuh kekuatan yang ada di dalam dirinya. Ia termenung menahan beratnya rasa kehilangan, menahan beratnya perpisahan. Rasa yang baru akan berkembang itu akhirnya dipaksa untuk mati. Menyesal? ...... Entahlah!.


__ADS_2