My Little Gwen

My Little Gwen
Tatapan kagum


__ADS_3

Sementara itu di ruangan yang berbeda, Karen masih nampak sibuk dengan ponselnya. Wajahnya terlihat semakin serius melihat pesan-pesan dari Carlos yang terpampang di layar ponselnya.


Carlos: Ingat Karen, orang-orang yang sedang mengikuti kalian saat ini bukanlah penguntit iseng yang sedang tidak punya pekerjaan. Mereka adalah orang-orang terlatih yang merupakan anak buah atau orang-orang suruhan dari musuh tuan Zaki Safaraz. Kau harus hati-hati. Pastikan kau tetap bertahan di sana. Setelah meeting tuan Zafier selesai, kita akan sama-sama keluar dari hotel ini.


Karen: Siap bos, laksanakan!


Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Sang waiter mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan yang telah tersaji.


Sheza menyambut hidangan di depannya dengan senyum sumringah. Ia mengulum bibirnya dan memasang wajah kelaparan. Tanpa banyak bicara, ia langsung menyerbu hidangan yang tersaji. Karen memperhatikan tingkah sang nona dengan tersenyum. Nonanya benar-benar seperti orang kelaparan yang tidak makan beberapa hari.


"Pelan-pelan nona, tidak ada yang akan merebut makananmu", sindir Karen tertawa.


Sheza tidak menjawab, ia hanya menjulurkan lidahnya, dengan mata melotot. Tawa Karen malah semakin kencang. Ia merasa wajah sang nona sangat imut dan lucu. Itulah kenapa tuan Zafier dan bahkan Carlos merasa tertarik pada nona Sheza, pikirnya.


Karen menikmati hidangannya dengan santai. Mereka mengobrol tentang kondisi perusahaan dan pekerjaan mereka masing-masing. Sesekali Karen menggoda Sheza untuk bercanda. Meski bercanda, namun netra Karen sangat awas mengamati kondisi sekitarnya. Ia tidak mau lengah, yang bisa berakibat pada keselamatan sang nona yang terancam. Ia senang nonanya tidak terganggu dengan kondisi yang ada saat ini. Karen memang tidak menceritakan situasi ini ia tidak mau menjadi beban pikiran bagi sang nona.


"Apa tadi tuan Arsen masih mengganggu anda nona?", tanya Karen penasaran.


Sheza yang sedang makan kemudian menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan alat makan yang tadi dipegangnya.


Netra hazelnya menatap Karen lekat.


"Aisssh, kau menghilangkan nafsu makanku Karen", keluh Sheza. Wajahnya cemberut.


Karen bukannya merasa bersalah, ia justru tertawa terbahak-bahak.


"Tenang nona, dengan keberadaan tuan Zafier, aku pastikan ia tidak akan berani mengganggu nona. Jangankan mengganggu, melirik nona saja pasti tidak berani. Tuan Zafier bakal menghajarnya kalau berani mengganggu calon ibu sambungnya", ujar Karen bersemangat.

__ADS_1


Mata Sheza mendelik mendengar ucapan Karen. Kenapa setelah mendengar celotehan Karen, ia bukannya merasa tersanjung, malah merasa ingin menghajar Karen.


Sheza menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian melepaskannya perlahan, sambil memegang dadanya, sabar She ... sabar, gumamnya pelan.


Kemudian netranya kembali memperhatikan makanannya yang ada didepannya. Ia mengabaikan Karen yang terus mengoceh di depannya, dan kembali makan dengan anggun.


Akhirnya semua makanan yang dipesan Sheza habis tak bersisa. Sheza memegang perutnya kekenyangan.


Ia duduk tersandar di kursi resto. Karen hanya memperhatikan sang nona sambil tersenyum. Selintas Karen memperhatikan jam yang melingkar di tangannya, hampir dua jam mereka berada di sini, namun belum ada tanda-tanda bahwa meeting tuan Zafier akan berakhir.


Ia sedikit khawatir kalau nonanya nanti mengajak pulang. Ia harus mempersiapkan alasan agar nonanya mau bertahan sementara di resto ini sampai meeting sang tuan muda selesai.


"Aaa, aku kekenyangan sekali Karen, dan sekarang mataku mengantuk", keluh Sheza sambil mengucek-ngucek matanya.


Karen menatap Sheza. Sebuah ide terlintas di otaknya.


Sheza terkejut, dan bergegas menarik Karen untuk kembali duduk. Netra hazelnya melotot, tapi bukannya menakutkan, wajah Sheza menjadi lucu menurut Karen.


"Iih, kau ini apa-apaan sih, buat apa juga aku tidur di hotel ini", sungutnya. Wajahnya kembali cemberut.


Sejurus kemudian Sheza menyambung kembali ucapannya, "Kan gak enak kalau tidur di hotel sendirian", keluhnya sendu.


Karen menganga, ia menatap tidak berkedip pada sosok cantik di depannya. Sosok cantik didepannya nampak membasahi bibir dengan cara seksi dan menantang, lalu kembali mengulum bibir dan tersenyum jahil. Karen memijat pelipisnya frustasi.


Perhatian Karen seketika teralihkan ketika tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, menandakan sebuah pesan baru masuk. Karen bergegas meraih ponsel yang berada di dalam kantong celananya. Sebuah pesan dari Carlos.


Carlos: Karen meeting tuan muda telah selesai, kita bertemu di parkiran. Tunggu kami di sana!

__ADS_1


Karen: Ok bos!


Karen memperhatikan Sheza yang juga tengah menatap jam yang melingkar di tangannya. Sheza nampak mulai gelisah


"Karen, ternyata sudah hampir dua jam kita berada di sini. Ayo kita kembali ke kantor", ujarnya panik.


"Baik nona", ujar Karen patuh. Waah syukurlah waktunya bersamaan dengan selesainya meeting tuan muda. Kalau tidak, aku pasti bingung mencari alasan yang pas untuk menahan nona Sheza di sini lebih lama, batin Karen. Ia menghela nafas lega.


Sheza memanggil salah satu waiter kemudian menyerahkan kartu debitnya.


Tapi waiter itu menolak kemudian berkata, "Maaf nona, semua pesanan anda sudah dibayar", ujarnya sopan, seraya membungkukkan tubuhnya.


Sheza terkejut. "Hmm, baiklah", jawab Sheza, dengan ekspresi bingung. Ia beranjak dari kursinya dengan tergesa-gesa.


Sebelum beranjak, ia menatap Karen masih dengan tatapan bingungnya. Karen mengedikkan bahunya. Ia berpura-pura tidak tahu. Namun dalam hati, Karen yakin bahwa Carloslah yang menyelesaikan pembayaran semua menu yang mereka pesan tadi.


"Anggap saja rezeki anak solehah nona", ujar Karen kemudian dengan santai.


Lagi-lagi Sheza melotot.


"Nona kalau matamu seperti itu terus aku kuatir bisa-bisa mata indah nona lepas", ledek Karen. Ia kemudian beranjak dari kursinya dengan tergesa-gesa, kemudian melangkah dengan cepat menuju pintu keluar, mendahului Sheza. Ia takut Sheza memukulinya, karena sedari tadi hanya menggoda Sheza.


Sheza lagi-lagi menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri. Kemudian ia ikut melangkah menuju pintu keluar, mengikuti Karen yang sudah lebih dulu kabur.


Sepanjang langkahnya dari resto sampai ke lobby hotel, nyaris berpasang-pasang mata pria menatapnya penuh kekaguman, sungguh sebuah mahakarya tuhan yang tak terbantahkan kecantikannya. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain takjub dan menikmati pemandangan yang melintas di depan mereka.


Sheza berpapasan dengan seorang pria di lobby hotel. Pria tampan, berkulit tan seperti kulit khasnya orang asia, dengan postur tinggi, dibalut setelan jas berwarna navy, menatap penuh pemujaan pada Sheza. Netra hitamnya yang tajam terlihat terus tertuju pada Sheza yang nampak amat sangat menarik di kedua matanya.

__ADS_1


Sangat jelas terlihat di kedua netra hitam pria itu ada rona berbinar penuh puja. Ia menatap Sheza terang-terangan tanpa ragu atau malu. Dan itu sangat disadari oleh sosok pria lain bernetra abu-abu di sudut lain di lobby hotel itu, dari pertama netra hitam itu menatap Sheza. Tatapan itu terlihat dengan sangat jelas. Si pria bernetra abu-abu tengah menatapnya penuh perhitungan.


__ADS_2